Bank Mega akui jaga NIM jadi tantangan besar, bidik kenaikan tahun ini

3 jam yang lalu 1

Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mega Tbk mengakui bahwa menjaga net interest margin (NIM) masih menjadi tantangan besar tahun ini karena tren penurunan suku bunga kredit harus seiring dengan biaya dana (cost of fund), namun menargetkan NIM kembali meningkat pada 2026.

Sebelumnya, NIM Bank Mega tercatat menurun dari 4,64 persen pada 2024 menjadi 4,18 persen pada 2025. Pada tahun ini, perseroan menargetkan NIM dapat meningkat ke level 4,7 persen.

Direktur Wholesale Banking Bank Mega Madi Darmadi Lazuardi dalam paparan publik di Jakarta, Selasa, menjelaskan bahwa penurunan NIM pada 2025 tidak terlepas dari tren penurunan suku bunga kredit yang telah berlangsung sejak tahun lalu, baik dalam mata uang rupiah maupun dolar AS.

Ia mencatat likuiditas perbankan dalam kondisi yang melimpah sementara permintaan relatif terbatas, membuat suku bunga kredit terus menurun. Di samping itu, regulator juga mendorong penurunan biaya dana serta bunga kredit.

“Jadi ini tantangan yang besar, bagaimana penurunan suku bunga kredit dengan suku bunga cost of fund kita bisa seiring, agar supaya kita bisa mempertahankan NIM,” kata Madi.

Baca juga: RUPST Bank Mega setujui dividen Rp2 T dan saham bonus Rp5,87 T

Baca juga: Bank Mega Syariah catat pendanaan korporasi tumbuh 60 persen pada 2025

Baca juga: Bank Mega bagikan 15.000 paket sembako ke masyarakat jelang Idul Fitri

Ia menambahkan, Bank Mega menghadapi tantangan dalam menjaga NIM seiring kebutuhan untuk tetap kompetitif dengan bank-bank besar, termasuk bank anggota Himbara dan bank swasta lainnya, yang memiliki struktur biaya dana lebih rendah.

Dalam kondisi tersebut, perseroan dihadapkan pada dilema antara menjaga NIM atau mendorong pertumbuhan kredit.

Oleh karena itu, ujar Madi, Bank Mega berupaya lebih selektif dalam menyalurkan kredit dengan fokus pada sektor yang dinilai prospektif serta tetap memberikan imbal hasil yang memadai bagi perseroan.

“Jadi kita akhirnya pintar-pintar mencari kredit-kredit yang visible, tapi dengan suku bunga yang buat Bank Mega masih kita bisa terima. Itu menurut saya tantangan yang paling besar,” kata Madi.

Adapun dalam pemaparan public expose pada Selasa (31/3), Bank Mega mengungkapkan beberapa target untuk tahun buku 2026 di antaranya laba bersih menjadi sebesar Rp3,7 triliun, total kredit mencapai Rp74 triliun, dana pihak ketiga (DPK) menjadi Rp111 triliun, serta total aset menjadi Rp149 triliun.

Dari sisi rasio keuangan, selain NIM, Bank Mega menargetkan capital adequacy ratio (CAR) untuk tahun 2026 pada level 28,6 persen, loan to deposit ratio (LDR) 66,4 persen, biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) 64,2 persen, return on asset (ROA) 3,2 persen, return on equity (ROE) 15,6 persen, serta non-performing loan (NPL) 1,7 persen.

Baca juga: OJK Sumbar cabut izin BPR di Agam karena masalah permodalan

Baca juga: KPK soal penahanan Satori dan Heri Gunawan: Tidak lama lagi

Baca juga: AFPI siap ajukan banding atas putusan KPPU soal dugaan kartel bunga

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya