Bank Mandiri Taspen-ITB kembangkan ekonomi sirkular bagi pensiunan

1 jam yang lalu 2
Para pensiunan bisa mengisi hari-hari mereka bersama dengan warga agar sampah organik menjadi sumber makanan bagi magot

Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mandiri Taspen bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan model ekonomi sirkular bagi pensiunan melalui fasilitas budidaya unggas terpadu dan pengelolaan sampah organik menggunakan magot black soldier fly (BSF) di Bandung Barat, Jawa Barat.

Program tanggung jawab sosial perusahaan tersebut memadukan pengelolaan sampah organik, budidaya magot dan unggas, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pensiunan.

“Para pensiunan bisa mengisi hari-hari mereka bersama dengan warga agar sampah organik menjadi sumber makanan bagi magot, dan magot bisa dimakan oleh ayam, lalu ayamnya bertelur,” kata Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Panji Irawan dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menurut Panji, fasilitas tersebut akan dievaluasi sebagai model percontohan sebelum direplikasi di daerah lain. Bank Mandiri Taspen juga menyatakan siap memberikan dukungan pembiayaan bagi pensiunan yang ingin mengembangkan usaha budidaya unggas dan magot.

“Jika ini berhasil, bisa disebarluaskan ke mana-mana. Kita mau lihat modelnya, kita mau lihat use case-nya. Ini bisa menjadi salah satu sumber kegiatan bagi para senior citizens (lansia),” ujarnya.

Panji menyebut sekitar 12 persen penduduk Indonesia merupakan lansia, sedangkan jumlah pensiunan yang menjadi nasabah Bank Mandiri Taspen mencapai sekitar 670 ribu orang di seluruh Indonesia.

Ia mengatakan pengembangan ekonomi sirkular membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Dalam program itu, ITB memberikan dukungan teknologi dan inovasi, masyarakat menjadi pelaksana, sedangkan Bank Mandiri Taspen memberikan dukungan dari sisi perbankan.

Sebagai gambaran, Panji menyebut perseroan telah memberikan pembiayaan sekitar Rp45 juta kepada pensiunan untuk membuka usaha laundry kiloan.

Menurut dia, kebutuhan pembiayaan fasilitas budidaya unggas dan magot dapat berada pada kisaran tersebut, bahkan lebih rendah.

Penggagas fasilitas pengolahan magot dari ITB Linus Ampang Pasasa mengatakan teknologi tersebut dapat mengurai sampah organik dalam waktu sekitar dua hari dengan metode sederhana dan konvensional.

Menurut Linus, satu unit fasilitas yang disebut “apartemen magot” membutuhkan biaya sekitar Rp45 juta dan dapat mendukung pemeliharaan hingga 100 ekor ayam pada lahan seluas 6 meter persegi.

Saat ini, jumlah ayam dalam satu unit baru sekitar 40 ekor karena pasokan sampah organik masih terbatas.

“Jumlah ayam dalam satu unit saat ini baru sekitar 40 ekor lantaran pasokan sampah organik yang tersedia masih terbatas,” ujarnya.

Linus mengatakan kapasitas pengolahan sampah dapat mencapai sekitar 250 kilogram per hari, bergantung pada jumlah unit dan pasokan sampah.

Fasilitas tersebut juga membuka peluang menerima sampah organik dari hotel, restoran, dan kafe yang belum seluruhnya diolah.

Dalam sistem itu, lanjut Linus, sampah organik dimanfaatkan sebagai sumber pakan magot, kemudian magot digunakan sebagai pakan ayam.

Telur yang dihasilkan kemudian dapat dijual untuk membantu membiayai operasional kelompok pengelola atau dimanfaatkan untuk kepentingan sosial masyarakat.

“Telurnya mau dijual untuk biaya yang mengurus atau dibagi-bagi untuk penanganan stunting melalui puskesmas dan sebagainya. Tinggal bagaimana manajemennya,” ucap Linus.

Direktur Bisnis Bank Mandiri Taspen Mahrauza Purnaditya mengatakan program tanggung jawab sosial dan lingkungan perseroan semakin difokuskan pada isu lingkungan dengan pengembangan kegiatan ekonomi sebagai manfaat lanjutannya.

Mahrauza menyebut sekitar 60 persen sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA) merupakan sampah organik.

Menurut dia, program peternakan ayam yang sebelumnya telah berjalan kini dipadukan dengan pengelolaan sampah organik melalui magot untuk membentuk sistem terpadu.

Hasil produksi telur dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar maupun dikembangkan menjadi kegiatan usaha.

Program tersebut juga menjadi pengembangan dari upaya Bank Mandiri Taspen mempersiapkan pensiunan agar tetap produktif melalui program pemberdayaan Mantap Sejahtera, antara lain Warung Mantap Sejahtera, hidroponik, dan laundry.

Mahrauza mengatakan pengelolaan sampah melalui magot juga dapat mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah mulai dari tingkat rumah tangga.

“Dalam perkembangannya, malah di beberapa tempat justru kekurangan sampah organik. Ini semangat kita, mengapa tidak kita lakukan di sejumlah rumah tangga,” tuturnya.

Integrasi pengelolaan sampah, budidaya magot, peternakan unggas, dan produksi telur tersebut diharapkan dapat mendukung lingkungan yang lebih bersih, kegiatan produktif masyarakat, serta ketahanan pangan di tingkat lokal.

“Kolaborasi yang baik bukan hanya menghasilkan sebuah program, tetapi dapat menciptakan manfaat yang terus hidup bahkan setelah program tersebut selesai,” ujar Mahrauza.

Seremoni program tersebut turut dihadiri Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, perwakilan PT Taspen (Persero) dan PT Asabri (Persero), pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta para penerima manfaat.

Baca juga: Bank Mandiri Taspen edukasi masyarakat kenali produk resmi perbankan

Baca juga: Bank Mandiri Taspen tegaskan patuhi proses hukum kasus libatkan eks pegawai

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya