Purwokerto, Jateng (ANTARA) - Bank Mandiri Taspen mengajak insan media untuk mengenali ciri-ciri produk resmi perbankan sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat dan mencegah maraknya penawaran produk keuangan ilegal maupun investasi bodong.
Distribution Head 5 (Jateng-DIY) Bank Mandiri Taspen I Putu Agus Sinom Artawan di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat, mengharapkan edukasi kepada media dapat memperluas penyebarluasan informasi mengenai produk perbankan yang resmi sehingga masyarakat semakin paham dan dapat terlindungi dari berbagai modus penipuan di sektor keuangan.
"Kami juga ingin mengedukasi masyarakat agar memahami bahwa setiap pengajuan kredit harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan membayar. Masyarakat juga harus mengetahui semua proses pengajuan dilakukan sesuai ketentuan dan prosedur yang berlaku," katanya.
Menurut dia, produk resmi bank dapat dikenali dari informasi yang jelas terkait produk dan mekanisme pengajuan kredit yang dilakukan secara bertahap, mulai dari permohonan nasabah, pemenuhan dokumen persyaratan, verifikasi, analisa kredit, hingga persetujuan dari pihak bank.
Ia mengatakan setiap calon debitur wajib menyerahkan dokumen resmi, seperti kartu tanda penduduk dan kartu keluarga. Setelah itu, bank melakukan verifikasi dan menganalisa informasi data debitur secara independen, serta bank melakukan telekonfirmasi kepada calon nasabah untuk memastikan kebenaran pengajuan sebelum kredit disetujui.
"Jadi tidak ada pengajuan yang langsung cair. Semua melalui proses verifikasi, analisa, dan telekonfirmasi kepada calon nasabah," katanya dalam kegiatan Media Gathering Banking Insight 2026 bertema "Membedakan Investasi Resmi dan Investasi Ilegal di Tengah Maraknya Penawaran Keuangan Digital" yang diselenggarakan PT Kolaborasi Mediapreneur Nusantara/Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) bekerja sama dengan Bank Mandiri Taspen.
Ia mengatakan produk resmi bank juga memiliki informasi yang lengkap mengenai persyaratan, suku bunga, jangka waktu, serta hak dan kewajiban nasabah yang dijelaskan secara terbuka.
Dalam kesempatan tersebut, Sinom juga memperkenalkan sejumlah produk pembiayaan dari Bank Mandiri Taspen, yakni Kredit Mantap Prapensiun, Kredit Mantap Pensiun, dan Kredit Mantap bagi pegawai aktif melalui skema kerja sama maupun fasilitas payroll.
Sementara itu, akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Dian Purnomo Jati mengatakan masyarakat perlu memiliki literasi keuangan yang memadai agar mampu membedakan produk resmi perbankan dengan berbagai penawaran investasi maupun produk keuangan yang tidak memiliki legalitas yang jelas.
Menurut dia, langkah pertama mengenali produk resmi bank adalah memastikan produk tersebut berasal dari lembaga jasa keuangan yang memiliki izin dan berada di bawah pengawasan regulator.
Selain itu, kata dia, masyarakat juga dapat memanfaatkan kanal resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memverifikasi legalitas lembaga maupun produk yang ditawarkan.
"Pastikan benar berasal dari lembaga keuangan yang bersangkutan. Jangan hanya melihat imbal hasilnya, tetapi cek juga aspek legalnya," kata dosen Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsoed itu.
Ia mengatakan masyarakat juga harus mencermati kewajaran imbal hasil yang ditawarkan.
Sebagai pembanding, kata dia, bunga deposito perbankan umumnya berkisar 2,5-4 persen per tahun, sedangkan deposito bank perekonomian rakyat (BPR) sekitar 5-6 persen per tahun.
Menurut dia, penawaran keuntungan jauh di atas kisaran tersebut patut diwaspadai.
Ia mengingatkan masyarakat menerapkan prinsip 2L, yakni legal dan logis, sebelum menggunakan suatu produk keuangan.
Dalam hal ini, legal berarti memastikan produk berasal dari lembaga yang berizin, sedangkan logis berarti menilai kewajaran imbal hasil dan risikonya.
"Kalau ada yang menawarkan imbal hasil fantastis, jangan langsung percaya. Pastikan dulu legalitasnya dan pahami bisnis prosesnya. Investasi yang sehat menawarkan keuntungan yang logis, bukan janji keuntungan pasti tanpa risiko," katanya.
Ia mengatakan produk resmi bank selalu disertai proses yang transparan, dokumen resmi, serta perjanjian yang jelas.
Menurut Dian, literasi keuangan menjadi benteng utama agar masyarakat tidak mudah menjadi korban penipuan berkedok investasi maupun produk keuangan ilegal.
Baca juga: Bank Mandiri Taspen tegaskan patuhi proses hukum kasus libatkan eks pegawai
Baca juga: Bank Mandiri Taspen Purwokerto berikan layanan terbatas bagi nasabah
Baca juga: Bank Mantap menargetkan bisa naik kelas ke KBMI 3 pada 2028
Pewarta: Sumarwoto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·