Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatat penyaluran kredit komersial hingga semester I 2026 mencapai Rp343 triliun atau tumbuh 15 persen secara tahunan (year on year/yoy), dengan rasio NPL segmen ini tercatat sebesar 0,63 persen.
Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Totok Priyambodo mengatakan bahwa rata-rata pertumbuhan kredit komersial perseroan juga cukup kuat sekitar 18 persen per tahun dalam tiga tahun terakhir.
“Segmen komersial di Bank Mandiri merupakan mitra perusahaan lokal di berbagai daerah yang masih dalam fase ekspansi yang kuat untuk dapat menjadi pemain nasional. Sebagian besar dari kelompok usaha ini merupakan perwujudan penguatan daya saing di suatu daerah,” kata Totok dalam paparan kinerja persero secara daring di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut, Totok memaparkan bahwa saat ini Bank Mandiri menjadi mitra bagi sekitar 55 ribu usaha komersial yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pertumbuhan kredit komersial Bank Mandiri tersebar secara luas di berbagai daerah, antara lain Jakarta dan Banten tumbuh 19,1 persen, Kalimantan 15,3 persen, Jawa dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 11,7 persen, serta Sumatera dan wilayah lainnya tumbuh 6,78 persen.
“Sebaran ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi di pusat-pusat bisnis, tetapi juga semakin merata ke berbagai daerah dengan potensi ekonomi yang besar,” kata Totok.
Ia menambahkan bahwa perseroan mengarahkan penyaluran kredit pada industri-industri strategis yang menjadi penggerak ekonomi nasional, seperti perkebunan sawit dan CPO, transportasi, energi, industri batu bara, serta jasa keuangan.
“Fokus tersebut memastikan pembiayaan Bank Mandiri mampu menciptakan multiplier effect yang lebih luas terhadap aktivitas ekonomi dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Totok.
Adapun pada ekosistem UMKM kerakyatan, penyaluran kredit usaha mikro Bank Mandiri tumbuh 15,7 persen (yoy) menjadi Rp31,3 triliun.
Totok menjelaskan bahwa perseroan menghadirkan pertumbuhan kredit UMKM yang tersebar dengan baik, secara konsisten menjangkau seluruh masyarakat Indonesia hingga mencapai pulau-pulau terluar.
“Seluruh pertumbuhan UMKM Bank Mandiri berada pada level positif dan tidak terkonsentrasi pada suatu daerah tertentu,” ujar dia.
Di saat pertumbuhan kredit UMKM, mikro, serta individu cenderung tertekan di berbagai daerah, imbuh Totok, perseroan tetap konsisten mendorong pertumbuhan yang baik dan berkualitas kepada UMKM.
Hal ini dikarenakan UMKM merupakan bagian penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.
Perseroan menyatakan bahwa ke depan, akan terus hadir mendampingi pelaku UMKM melalui pembiayaan, pendampingan, serta penguatan akses ekosistem. Perseroan juga berkomitmen mengedepankan sinergi UMKM dan ekonomi kreatif serta sinergi ekosistem digital yang kuat dari Bank Mandiri.
“Hal ini kami wujudkan melalui berbagai inovasi digital Bank Mandiri, yaitu Kopra dan Livin', yang secara keseluruhan kami hadirkan agar bisnis dan UMKM dapat tumbuh berkelanjutan dan semakin kokoh menopang pembangunan ekonomi nasional,” kata Totok.
Hingga semester I 2026, perseroan mengoptimalkan imbal hasil kredit, khususnya pada segmen ritel dan UMKM, sehingga masyarakat dan pelaku usaha memperoleh akses pembiayaan yang semakin terjangkau tanpa mengurangi kualitas pertumbuhan bisnis Bank Mandiri.
Totok mengatakan, optimalisasi tersebut juga tercermin pada margin bunga bersih yang tetap terjaga secara sehat. Di sisi lain, transformasi yang kami jalankan secara konsisten turut meningkatkan efisiensi operasional.
“Kombinasi antara pertumbuhan bisnis yang sehat, struktur pendanaan yang kuat, dan disiplin pengelolaan biaya menghasilkan profitabilitas yang tetap solid sekaligus memperkuat kapasitas Bank Mandiri untuk terus memperluas pembiayaan kepada sektor-sektor produktif,” kata Totok.
Per akhir Juni 2026, kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.592 triliun atau tumbuh 19,9 persen (yoy).
Perseroan menjaga kualitas aset dengan baik, tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) gross yang berada pada level 0,98 persen.
Pada saat yang sama, profitabilitas tetap berada pada level yang sangat sehat dengan return on equity (ROE) sebesar 24,3 persen dan return on assets (ROA) sebesar 3,10 persen.
Baca juga: OJK buka peluang terapkan target penyaluran kredit hijau bagi bank
Baca juga: BI: Peran kredit bank dalam mendukung ekonomi RI terus meningkat
Baca juga: BTN raih laba bersih konsolidasi Rp1,85 T per Mei, naik 54,37 persen
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·