Jakarta, NU Online
Para siswa SD Negeri 10 Linge Aceh Tengah Provinsi Aceh masih harus belajar di tenda darurat setelah seluruh ruang kelas tertimbun tanah dan lumpur akibat bencana banjir dan tanah longsor beberapa bulan lalu. Hingga kini, sekolah rusak parah dan belum mendapat perbaikan.
Relawan Posko Rakyat Aceh Tengah, Nadia Mahara menjelaskan bahwa hingga kini SD Negeri 10 Linge belum mendapatkan perbaikan.
Nadia mengatakan seluruh ruangan sekolah sudah tertimbun tanah lebih dari satu meter dan sulit dibersihkan, sehingga proses belajar mengajar terpaksa dilakukan di tenda darurat.
"Sekolah belum sama sekali diperbaiki karena seluruh ruangan sudah tertimbun tanah lebih dari satu meter dan mengeras. Membersihkannya sangat berat, sehingga siswa terpaksa belajar di tenda," cerita Nadia kepada NU Online, Selasa (12/5/2026).
Menurut Nadia masyarakat hanya bisa pasrah karena tidak tahu harus berbuat apa. Bagi masyarakat, yang terpenting saat ini adalah anak-anak tetap aktif bersekolah meskipun hanya di tenda seadanya.
"Persoalan utama saat ini bukan lagi pada logistik, melainkan pada akses jalan yang rusak parah," tutur Nadia..
Nadia menjelaskan bahwa jembatan yang putus hanya bisa digunakan dengan bantuan alat bantu angkat dan angkut, namun kondisi tersebut sangat berisiko. Bahkan, saat hujan deras, anak-anak dari desa seberang terhalang melintas untuk bersekolah karena tingginya permukaan air.
“Sekarang logistik sudah aman, hanya akses jalan yang masih parah. Jembatan putus sehingga hanya bisa dilewati dengan sling. Kalau hujan deras, anak-anak dari desa seberang tidak bisa sekolah karena air tinggi,” ungkapnya.
Ia menyampaikan bahwa kondisi kesehatan masih memprihatinkan karena saat ini tidak tersedia tenaga medis di desa.
Dari sisi ekonomi, warga juga mengalami keterpurukan sebab beberapa sawah tidak dapat ditanami lagi, sehingga mereka bergantung pada hasil kebun seperti kopi, pinang, dan kemiri. Setiap kali hujan turun, warga tidak dapat beristirahat dengan tenang karena masih diliputi kekhawatiran akan adanya banjir susulan.
“Untuk kesehatan juga masih memprihatinkan karena tidak ada bidan desa. Ekonomi sedikit lumpuh, beberapa sawah tidak bisa ditanami lagi sehingga warga bergantung pada hasil kebun seperti kopi, pinang, dan kemiri. Setiap hujan deras, warga tidak tidur karena waswas akan banjir susulan,” katanya.
Kondisi yang Sama di Peunaron Aceh Timur
Nadia menceritakan bahwa bukan hanya di Reje Payung, tetapi juga di hunian sementara (huntara) Peunaron Aceh Timur, anak-anak masih bersekolah di tenda. Kondisi serupa terjadi di daerah Tebuk Aceh Tengah, bahkan ketika hujan deras turun, tenda sempat mengalami kebocoran besar sehingga para siswa terpaksa makan makanan bergizi di depan rumah warga dengan cara berteduh seadanya.
“Bukan hanya di Reje Payung, di hunian sementara Peunaron siswa juga masih belajar di tenda. Di daerah Tebuk pun demikian, bahkan saat hujan deras kemarin tendanya sempat bocor besar sehingga mereka terpaksa makan makanan siap saji di depan rumah warga dengan cara mengemper,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa akses jalan Nasional di Umah Besi Bener Meriah belum ditangani, sehingga mobilitas logistik dan distribusi BBM terhambat. Masyarakat khawatir jika jalur ini lumpuh total, Kota Takengon kembali mengalami kekurangan logistik dan bahan bakar.
Jembatan Apung Putus Total
Kepala Desa Reje Payung, Sejahtera menjelaskan bahwa jembatan apung yang selama ini digunakan masyarakat sudah putus total. Menurutnya, kerusakan yang terjadi tidak memungkinkan untuk dilakukan perbaikan, sehingga satu-satunya jalan keluar adalah membangun jembatan baru agar akses warga kembali lancar.
“Jembatan apung nya udah putus total, tidak bisa di perbaiki lagi harus buat baru,” ujarnya.
Menurut Kades pembangunan jembatan gantung yang direncanakan sebagai alternatif masih belum selesai. Kondisi ini membuat jalur penghubung antar wilayah tetap terhambat dan masyarakat harus menunggu hingga ada solusi yang lebih permanen.
“Jembatan gantungnya pun belum siap," pungkasnya.
Kontributor: Ahmad Syafiq Sidqi

2 jam yang lalu
4





English (US) ·
Indonesian (ID) ·