Bangunan Rusak Akibat Serangan Israel di Gaza Roboh dan Timbun 50 Anak-Anak

1 jam yang lalu 1

Warga Palestina memeriksa bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Kota Gaza, Sabtu (31/1/2026). Setidaknya 12 orang syahid dalam serangan udara Israel di Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Bahkan saat serangan udara mereda, bombardir yang dilakukan israel selama tiga tahun belakangan di Jalur Gaza masih mematikan. Pada Senin, bangunan yang dirusak serangan israel runtuh dan menimpa 100 orang didalamnya termasuk 50 anak-anak.

Bangunan tempat tinggal itu menampung keluarga-keluarga pengungsi runtuh di sebelah barat Kota Gaza, menurut pihak Pertahanan Sipil Palestina. Bangunan itu sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan Israel, namun warga Palestina yang tinggal di sana tidak memiliki pilihan lain selain berlindung di dalamnya.

Tim penyelamat masih melakukan pencarian di antara reruntuhan untuk menemukan mereka yang terjebak di dalamnya. Menurut tim pertahanan sipil di Gaza, setidaknya 100 warga Palestina masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan tersebut, termasuk sekitar 50 anak-anak.

Menurut tim penyelamat, mereka telah mengevakuasi 11 jenazah dan mengeluarkan 12 orang dalam keadaan hidup dari reruntuhan. Semua orang berupaya mendapatkan peralatan apa pun yang tersedia untuk membantu mengevakuasi para korban. 

Bangunan tersebut runtuh sekitar pukul 01.00 dini hari saat orang-orang di dalamnya sedang tidur.

Upaya penyelamatan sedang dilakukan melalui koordinasi dengan Pemerintah Kota Gaza, Komite Mesir, Otoritas Arab, dan Komite Internasional Palang Merah.

Program Pembangunan PBB (UNDP) turut mendukung operasi pencarian. "Di bawah bangunan ini terdapat sekitar 100 jenazah—atau 100 orang yang nasibnya belum diketahui," ujar juru bicara badan pertahanan sipil dalam sebuah konferensi pers.

"Kami sangat membutuhkan peralatan untuk operasi evakuasi," kata juru bicara tersebut.

"Sekitar 2.000 bangunan di berbagai wilayah berpenghuni di Jalur Gaza berada dalam kondisi struktural yang sama-sama mengkhawatirkan, sementara para penghuninya tidak dapat meninggalkan bangunan tersebut karena tidak adanya tempat penampungan alternatif."

Baca Artikel Selengkapnya