Bendera Arab Saudi.
REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh memastikan belum ada warga negara Indonesia (WNI) yang teridentifikasi menjadi korban serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi.
KBRI terus berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk memastikan kondisi WNI di tengah meningkatnya gangguan keamanan di negara tersebut.
Berdasarkan siaran pers KBRI Riyadh pada Senin (12/10/2026), otoritas penerbangan sipil Arab Saudi atau General Authority of Civil Aviation (GACA) mengumumkan serangan yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid pada Ahad (11/10/2026).
Insiden tersebut menyebabkan seorang warga negara Pakistan meninggal dunia, sementara 11 orang lainnya mengalami luka-luka dan telah mendapatkan penanganan medis.
KBRI Riyadh telah melakukan sejumlah langkah untuk memastikan ada atau tidaknya WNI yang menjadi korban luka dalam serangan tersebut.
Upaya itu dilakukan dengan menghubungi jaringan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang bertugas di berbagai rumah sakit di Riyadh serta komunitas WNI pekerja profesional di maskapai Flynas yang berbasis di Terminal 3 Bandara Internasional King Khalid.
Selain itu, KBRI Riyadh mendatangi King Abdullah bin Abdulaziz University Hospital, rumah sakit terdekat dari lokasi serangan. KBRI juga berkoordinasi dengan korps diplomatik di Riyadh, khususnya bagian kekonsuleran.
"Hingga tanggal 11 Oktober 2026 pukul 19.00 WAS, belum terdapat Warga Negara Indonesia yang teridentifikasi menjadi korban serangan," tulis KBRI Riyadh dalam siaran pers resminya pada Senin (12/10/2026).
KBRI Riyadh menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi untuk memperoleh informasi resmi mengenai kemungkinan adanya WNI yang terdampak.

2 minggu yang lalu
15






English (US) ·
Indonesian (ID) ·