Salah satu penyakit orang alim (berpengetahuan) adalah merasa lebih tahu dari yang lain, sehingga dengan pengetahuannya, tidak jarang ia menganggap rendah orang sekitar. Padahal semestinya semakin luas pengetahuan seseorang, semakin menjadikannya insan yang bijaksana.
Salah satu contohnya sebagaimana terjadi dalam kasus viral seorang penghulu di Mojokerto yang menegur fotografer pernikahan dengan ucapan, “Tukang foto nggak tahu ngaji.” Peristiwa ini bermula ketika calon pengantin perempuan berkeinginan tetap berada di kamar dan baru keluar setelah ijab kabul selesai.
Keinginan tersebut disampaikan melalui fotografer pernikahan kepada penghulu saat itu. Namun, ketika fotografer menyampaikan permintaan agar mempelai perempuan kembali ke kamar, penghulu tersulut emosi dan menegurnya dengan ucapan, antara lain, “tukang foto nggak tahu ngaji”, serta menyatakan bahwa fotografer tidak seharusnya mengatur penghulu.
Di luar niat yang terbersit dalam hati si penghulu, penulis melalui artikel ini berusaha mengingatkan agar ilmu yang dimiliki tidak menjadi alasan untuk merendahkan sesama, tetapi sarana untuk menumbuhkan kerendahan hati dan kebijaksanaan dalam menyampaikan ilmu dan nasihat.
Di atas Orang Berilmu, Ada yang lebih Berilmu
Perlu disadari oleh setiap orang, termasuk kita semua, bahwa ilmu manusia terbatas. Sebanyak apa pun ilmu yang dipelajari, melalui institusi mana pun, pasti terdapat pengetahuan yang luput darinya, dan orang lain tahu soal itu.
Sehingga, keterbatasan ini semestinya menjadikan seseorang semakin rendah hati, tidak sombong, lembut dalam berucap, dan luwes dalam bersikap, bukan malah merasa paling pintar, paling benar, apalagi merasa paling memahami agama hingga mudah meremehkan orang lain.
Berkaitan dengan hal ini, Al-Qur’an sebenarnya telah memberikan peringatan bahwa setinggi apa pun pengetahuan seseorang, masih ada orang lain yang lebih berilmu darinya. Allah swt berfirman:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
Artinya, “Di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih Mengetahui.” (QS. Yusuf: 76).
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki setiap orang bertingkat, sehingga sangat mungkin orang lain memiliki ilmu yang lebih luas atau mendalam. Pada akhirnya, seluruh keluasan ilmu bermuara kepada Allah, Zat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Simak penjelasan Imam Abu Ja’far at-Thabari berikut ini:
وَفَوْقَ كُلِّ عَالِمٍ مَنْ هُوَ أَعْلَمُ مِنْهُ، حَتَّى يَنْتَهِيَ ذَلِكَ إِلَى اللهِ
Artinya, “Di atas setiap orang berilmu, ada orang yang lebih berilmu darinya, hingga hal itu berakhir kepada Allah swt.” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, [Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2000 M], jilid XIV, halaman 191).
Bahaya Sombong karena Ilmu
Sombong merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya, karena berpotensi menghalanginya menerima kebenaran. Syekh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi pernah menyinggung hal ini dalam kitab ringkasan Ihya’ Ulumiddin.
Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa sombong merupakan salah satu sifat yang paling cepat menyusup ke dalam diri orang-orang yang berilmu, hingga menjadikannya sombong dan merasa unggul atas orang lain.
Tidak hanya itu, sifat pongah akan berkembang hingga mudah meremehkan orang lain, bahkan memandang rendah mereka sebagai orang bodoh hanya karena memiliki pengetahuan yang berbeda. Simak penjelasannya berikut ini:
وَمَا أَسْرَعَ الْكِبْرَ إِلَى بَعْضِ الْعُلَمَاءِ فَلَا يَلْبَثُ أَنْ يَسْتَشْعِرَ فِي نَفْسِهِ كَمَالُ الْعِلْمِ فَيَسْتَعْظِمُ نَفْسَهُ وَيَسْتَحْقِرَ النَّاسَ وَيَسْتَجْهِلَهُمْ وَيَسْتَخْدِمُ مَنْ خَالَطَهُ مِنْهُمْ، وَقَدْ يَرَى نَفْسَهُ عِنْدَ اللهِ تَعَالىَ أَعْلىَ وَأَفْضَلَ مِنْهُمْ
Artinya, “Betapa cepat kesombongan menyusup ke dalam diri sebagian orang berilmu. Tidak lama kemudian, ia merasa dirinya telah mencapai kesempurnaan ilmu, sehingga menganggap dirinya hebat, meremehkan orang lain, menganggap mereka bodoh, dan memperlakukan orang-orang yang bergaul dengannya sebagai bawahan yang harus melayaninya. Bahkan, terkadang memandang dirinya lebih tinggi dan lebih mulia di sisi Allah daripada mereka.” (Mau’idzatul Mukminin min Ihyai Ulumiddin, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 1995 M], halaman 366).
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan tidak sepatutnya menjadikan seseorang merasa lebih tinggi dan mulia daripada orang lain. Setiap orang yang berilmu hendaknya senantiasa menjaga kerendahan hati. Wallahu a’lam bisshawab.
Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan Jawa Timur.

10 jam yang lalu
2




English (US) ·
Indonesian (ID) ·