Aselsan Turki Raih Kontrak Senjata Rp7 Triliun Lebih, Sistem Anti-Drone Jadi Andalan

47 menit yang lalu 1

JAKARTA — Perusahaan teknologi pertahanan Turki, Aselsan, kembali mencatat kontrak ekspor persenjataan bernilai besar di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap sistem pertahanan udara dan penanggulangan pesawat nirawak.

Perusahaan tersebut mengumumkan kesepakatan senilai 442,5 juta dolar AS atau lebih dari Rp7 triliun untuk memasok sistem radar, teknologi anti-drone, serta perangkat komando dan kendali kepada pelanggan internasional yang identitasnya belum diungkapkan.

Kontrak tersebut diumumkan pada Jumat (23/10/2026) melalui Public Disclosure Platform atau Kamuyu Aydınlatma Platformu (KAP), sistem keterbukaan informasi perusahaan terbuka di Turki. Kesepakatan itu memperlihatkan meningkatnya peran industri elektronik pertahanan Turki dalam pasar internasional, khususnya pada sektor teknologi yang dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan menghadapi ancaman pesawat nirawak.

Media ekonomi Turki CNBC-e melaporkan bahwa Aselsan menandatangani kontrak ekspor tersebut dengan seorang pelanggan internasional untuk penjualan sistem radar, perangkat penanggulangan pesawat nirawak, dan sistem komando-kendali.

"Aselsan telah menandatangani kontrak ekspor dengan pelanggan internasional senilai total 442,5 juta dolar AS untuk penjualan sistem radar, penanggulangan pesawat nirawak, serta sistem komando dan kendali," demikian isi pengumuman perusahaan yang dikutip CNBC-e pada Jumat.

Namun, Aselsan tidak mengungkapkan identitas pelanggan, negara tujuan ekspor, jumlah unit persenjataan, ataupun jadwal pengiriman. Perusahaan juga belum menjelaskan model radar dan perangkat anti-drone yang termasuk dalam kontrak tersebut.

Dengan demikian, kesepakatan ini belum dapat dikaitkan secara pasti dengan negara tertentu atau sistem persenjataan spesifik.

Kontrak terbaru tersebut diumumkan ketika Aselsan sedang memperluas portofolio sistem pertahanan udara dan anti-drone, termasuk melalui pengembangan teknologi yang menggabungkan radar, sensor elektro-optik, perangkat lunak komando-kendali, serta sistem pencegat pesawat nirawak.

Kontrak Ekspor Bernilai Ratusan Juta Dolar

Nilai kontrak sebesar 442,5 juta dolar AS menempatkan kesepakatan terbaru Aselsan sebagai salah satu pengumuman ekspor penting perusahaan pada Oktober 2026.

Dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS, nilai kontrak tersebut setara sekitar Rp7,30 triliun. Angka rupiah merupakan konversi indikatif, bukan nilai kontrak yang dinyatakan dalam mata uang Indonesia.

Menurut laporan CNBC-e, Aselsan mengumumkan serangkaian kontrak baru sepanjang Oktober, baik untuk kebutuhan pertahanan domestik Turki maupun pelanggan luar negeri.

Pada 8 Oktober, perusahaan mengumumkan kontrak ekspor senilai 125 juta dolar AS untuk sistem persenjataan dan peperangan elektronik.

Dua hari sebelumnya, Aselsan juga mengumumkan kontrak senilai 157,9 juta dolar AS dengan pelanggan luar negeri untuk sistem peperangan elektronik, elektro-optik, pengintaian, dan persenjataan.

Pada 7 Oktober, Aselsan menandatangani kontrak senilai 195 juta dolar AS dengan otoritas industri pertahanan Turki untuk pengadaan sistem radar.

Sementara itu, pada 5 Oktober, perusahaan mengumumkan kesepakatan senilai 2,46 miliar euro untuk pengadaan sistem pertahanan udara hibrida bagi kebutuhan dalam negeri Turki.

Rangkaian kontrak tersebut menunjukkan bahwa kegiatan bisnis Aselsan mencakup dua pasar berbeda, yakni pengadaan domestik untuk militer Turki dan ekspor kepada pelanggan internasional.

Kedua kategori itu perlu dibedakan karena kontrak pemerintah Turki bukan merupakan pendapatan ekspor, meskipun sama-sama berkontribusi terhadap portofolio pesanan perusahaan.

Kontrak senilai 442,5 juta dolar AS yang diumumkan pada 23 Oktober secara khusus merupakan kontrak ekspor, bukan pengadaan pemerintah Turki.

Sistem Anti-Drone Jadi Komponen Penting

Salah satu komponen utama dalam kontrak terbaru Aselsan adalah teknologi penanggulangan pesawat nirawak atau counter-unmanned aerial systems (C-UAS).

Sistem tersebut dirancang untuk menghadapi ancaman pesawat tanpa awak yang semakin banyak digunakan dalam konflik bersenjata modern.

Berbeda dengan pertahanan udara konvensional yang terutama dikembangkan untuk menghadapi pesawat tempur, helikopter, dan rudal, sistem anti-drone juga harus mampu mendeteksi objek berukuran kecil, bergerak lambat, serta terbang pada ketinggian rendah.

Ancaman tersebut menjadi semakin kompleks ketika pesawat nirawak digunakan dalam jumlah besar atau dioperasikan melalui berbagai metode komunikasi dan navigasi.

Karena itu, sistem penanggulangan drone umumnya memerlukan kombinasi beberapa kemampuan, mulai dari deteksi radar, pengamatan elektro-optik, identifikasi sasaran, pengolahan informasi, hingga penggunaan perangkat penanggulangan elektronik maupun pencegat fisik.

Aselsan mengembangkan sejumlah teknologi untuk kebutuhan tersebut, termasuk sistem peperangan elektronik, radar pengawasan, dan perangkat komando-kendali yang dapat mengintegrasikan informasi dari berbagai sensor.

Penggabungan kemampuan tersebut memungkinkan operator memperoleh gambaran situasi udara yang lebih menyeluruh sebelum menentukan respons terhadap ancaman.

Namun, perusahaan belum menjelaskan apakah kontrak ekspor terbaru mencakup sistem anti-drone tertentu atau kombinasi produk yang telah ada.

Baca Artikel Selengkapnya