REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran mulai menghasilkan konsekuensi strategis jauh dari Selat Hormuz. Ribuan kilometer dari medan perang, Washington harus memindahkan salah satu aset militernya yang paling penting dari Asia pada saat China justru meningkatkan aktivitasnya di Indo-Pasifik.
USS George Washington, kapal induk AS yang ditempatkan di Yokosuka, Jepang, telah meninggalkan kawasan dan bergerak menuju Timur Tengah. Kapal induk bertenaga nuklir itu diproyeksikan menggantikan USS Abraham Lincoln yang pengerahannya telah melampaui 260 hari karena perang melawan Iran.
Kepergian George Washington berpotensi membuat Pasifik barat untuk sementara tidak memiliki kapal induk AS yang dikerahkan di kawasan tersebut. Associated Press melaporkan kekosongan itu mungkin berlangsung singkat apabila Angkatan Laut AS mengirim kapal induk lain dalam beberapa bulan mendatang. Namun, pergeseran tersebut memperlihatkan bagaimana perang Iran mulai membebani kemampuan Washington mempertahankan kekuatan laut di sejumlah kawasan sekaligus.
Ironinya sulit diabaikan. Pentagon berkali-kali menempatkan Indo-Pasifik sebagai kawasan strategis utama dalam menghadapi China. Bahkan pada 10 Agustus, Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Kebijakan Elbridge Colby menegaskan Washington tidak meninggalkan Asia dan justru ingin mempertahankan keseimbangan kekuatan yang menguntungkan AS di sepanjang First Island Chain.
Tetapi kebutuhan perang menghadirkan perhitungan berbeda. Kapal yang semula menjadi simbol kehadiran militer AS di sekitar Jepang, Taiwan, Filipina dan Laut China Selatan kini harus bergerak ke arah medan perang Iran.
Direktur Program Asia Tenggara Center for Strategic and International Studies (CSIS) Greg Poling menilai Beijing kemungkinan menyambut keadaan tersebut. Menurut dia, China diuntungkan oleh terpecahnya perhatian Washington sekaligus meningkatnya frustrasi sebagian sekutu dan mitra AS terhadap kebijakan Amerika.
Situasi itu tidak berarti China otomatis memperoleh kemenangan strategis. Apalagi, satu kapal induk meninggalkan Asia tidak berarti seluruh kekuatan militer AS hilang dari Indo-Pasifik.
Namun, perang Iran menghadirkan sesuatu yang bernilai bagi Beijing: Washington harus membagi kapal, amunisi, personel dan perhatian politiknya ke kawasan lain ketika persaingan AS-China justru semakin tajam.
Sebelas Kapal Induk, Hanya Sebagian Bisa Dikerahkan
Di atas kertas, kekuatan Amerika terlihat luar biasa. Angkatan Laut AS memiliki 11 kapal induk bertenaga nuklir. Namun, angka tersebut tidak berarti Pentagon memiliki 11 kapal induk yang dapat dikirim berperang secara bersamaan.
Analis pertahanan Hudson Institute Bryan Clark mengatakan Angkatan Laut AS biasanya hanya mengerahkan dua atau tiga dari 11 kapal induknya pada satu waktu. Kapal lainnya berada dalam berbagai tahap pelatihan, persiapan pengerahan, pemulihan, perbaikan atau perawatan.
Kapal induk merupakan sistem militer yang membutuhkan siklus kesiapan panjang. Setelah berbulan-bulan beroperasi, kapal, pesawat dan awaknya membutuhkan masa pemulihan serta perawatan sebelum kembali mencapai kesiapan penuh.

1 hari yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·