Kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke USS Frank E Peterson yang dihalau Iran di Selat Hormuz pada Sabtu (11/4/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Gencatan senjata antara AS dan Iran di ujung tanduk. Hal itu menyusul laporan kedua negara saling baku tembak di Selat Hormuz.
Teheran menganggap langkah AS mengawal kapal keluar dari Selat Hormuz telah melanggar kesepakatan.
Seorang mantan penasihat keamanan nasional Inggris Lord Ricketts mengatakan kepada BBC Breakfast, ia ragu akan keberhasilan rencana AS untuk mengawal kapal-kapal komersial melalui jalur air tersebut.
Ini mengingat ada ratusan kapal yang terdampar dan sebelum perang, puluhan kapal melewati jalur tersebut setiap hari. "Mereka tidak mungkin mengawal setiap kapal," katanya kepada BBC News., Selasa.
Ia menambahkan bahwa hanya satu atau dua kapal yang terkena tembakan akan membuat industri pelayaran kehilangan semua kepercayaan pada kemungkinan jalur aman.
"Satu-satunya cara untuk mengamankan jalur yang andal adalah melalui kesepakatan dengan Iran," ujarnya.
Iran melakukan blokade Selat Hormuz sebagai respons atas langkah AS yang telah melancarkan invasi dan menutup pelabuhan. Kapal-kapal yang melintas harus izin dari Iran.
AS membalas dengan menggelar operasi 'Project Freedom'. Presiden Trump menegaskan kapal-kapal komersial akan dikawal oleh Amerika untuk keluar dari Hormuz.

2 jam yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·