Seorang petugas pemilu Amerika.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Komunitas Intelijen Amerika Serikat, Kamis, mengungkapkan bahwa China telah memperoleh data 220 juta pemilih Amerika melalui berbagai cara. Demikian menurut lembar fakta yang diperoleh kelompok jurnalis di Gedung Putih.
"Republik Rakyat China dan pihak-pihak yang bertindak atas nama mereka telah membeli, mencuri, atau meretas data pendaftaran pemilih sebanyak 220 juta warga Amerika. Pengumpulan data oleh China itu mencakup data yang tidak tersedia untuk umum," disebutkan dalam lembar fakta yang telah dikonfirmasi para pimpinan Kantor Direktur Intelijen Nasional, Badan Keamanan Nasional, Badan Intelijen Pusat, dan Departemen Keamanan Dalam Negeri tersebut.
Dokumen tersebut mendefinisikan 'intervensi dalam pemilu' secara terbuka maupun terselubung yang dilakukan pemerintah asing bertujuan untukmemengaruhi pemilu AS secara langsung maupun tidak langsung.
Dokumen itu juga menyebutkan bahwa badan intelijen AS pada 2022 pernah menetapkan adanya seorang pelaku eksploitasi jaringan komputer asal China yang diduga memperoleh data pendaftaran pemilih yang tersedia di platform perdagangan daring.
"Pihak lawan dapat memanipulasi data untuk mencegah pemilih perorangan atau kelompok pemilih agar tidak memberikan suara. Sehingga, itu menyebabkan keterlambatan kedatangan pemilih pada hari pemungutan suara atau memaksa pemilih untuk menggunakan surat suara sementara," demikian menurut laporan komunits intelijen.
sumber : Sputnik/Antara

1 jam yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·