Asap masih mengepul dari Kilang Minyak Shahran setelah serangan udara tadi malam di Teheran, Iran, 8 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBU -- Amerika Serikat (AS) dilaporkan kecewa dengan skala serangan udara Israel terhadap depot bahan bakar Iran pada akhir pekan pekan kemarin. Kekecewaan ini menjadi perbedaan pendapat yang menonjol pertama antara kedua sekutu sejak dimulainya penyerbuan terhadap Iran. Demikian lapor Axios, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Laporan itu menyebutkan bahwa serangan pada Sabtu menargetkan sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran, jumlah yang melebihi perkiraan pejabat AS setelah Israel sebelumnya memberi tahu Washington mengenai operasi tersebut.
Kebakaran besar dilaporkan terjadi di ibu kota Iran, Teheran. Asap tebal terlihat membubung di atas tangki penyimpanan bahan bakar dan kawasan industri.
Pernyataan pihak militer Israel menyebutkan bahwa depot bahan bakar yang menjadi sasaran serangan itu digunakan pemerintah Iran untuk memasok bahan bakar kepada berbagai pihak, termasuk unit-unit militernya.
Para pejabat AS mengatakan Israel telah memberi tahu militer AS sebelum operasi dilaksanakan, namun Washington tetap terkejut dengan luasnya cakupan serangan tersebut.
“Presiden tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak. Ia ingin menyelamatkan minyak itu, bukan membakarnya. Dan hal itu mengingatkan orang pada kenaikan harga bensin,” kata seorang penasihat Presiden AS Donald Trump.
Pejabat AS khawatir serangan terhadap infrastruktur yang melayani masyarakat Iran dapat menimbulkan dampak strategis sehingga berbalik arah dengan memperkuat dukungan publik terhadap kepemimpinan Iran. Kerusakan minyak juga mendorong kenaikan harga minyak global.
“Kami tidak berpikir itu adalah ide yang baik,” kata seorang pejabat senior AS tersebut.
sumber : Antara/Anadolu

1 bulan yang lalu
16








English (US) ·
Indonesian (ID) ·