AS-China Memanas di Orbit, Satelit Pemburu Mulai Saling Mengintai

4 jam yang lalu 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Persaingan Amerika Serikat dan China kini tidak lagi hanya berlangsung di darat, laut, udara, perdagangan, ataupun teknologi kecerdasan buatan. Ratusan kilometer di atas permukaan Bumi, dua kekuatan terbesar dunia itu semakin serius membangun kemampuan yang suatu hari dapat menentukan siapa yang menguasai medan perang di ruang angkasa.

Salah satu sinyal terbarunya muncul pada Juni 2026 ketika pesawat antariksa nirawak China yang sangat dirahasiakan melepaskan sebuah objek kecil di orbit. Objek tersebut kemudian bermanuver mengitari satelit China lainnya sebelum kembali mendekati pesawat antariksa itu.

Perusahaan pemantauan orbit Amerika Serikat, LeoLabs, menilai dengan tingkat keyakinan tinggi bahwa objek tersebut dilepaskan oleh pesawat antariksa reusable China yang di Barat kerap disebut Shenlong. Aktivitas semacam itu menarik perhatian karena menunjukkan kemampuan untuk melepaskan, mengendalikan, dan mempertemukan kembali wahana di orbit.

Reuters dalam laporan investigasinya pada Rabu, 2 September 2026, menyebut aktivitas tersebut sebagai bagian dari perlombaan kemampuan militer ruang angkasa yang berkembang semakin cepat antara Washington dan Beijing. Amerika Serikat sendiri memiliki wahana rahasia X-37B yang menyerupai pesawat ulang-alik kecil dan juga dapat menjalankan misi panjang tanpa awak di orbit.

Yang membuat perkembangan tersebut semakin penting adalah teknologi yang kini dikembangkan di belakang program-program tersebut. Para peneliti China yang memiliki keterkaitan dengan militer sedang mengembangkan teknologi untuk mengejar, mendekati, bahkan dalam sejumlah konsep menangkap wahana antariksa lain.

Teknologi semacam itu sebenarnya mempunyai berbagai fungsi sipil yang sah. Satelit dapat digunakan untuk memperbaiki wahana lain, mengisi bahan bakar, memindahkan satelit yang rusak, atau membersihkan sampah antariksa yang semakin memenuhi orbit.

Namun teknologi yang sama memiliki karakter dual use atau kegunaan ganda. Wahana yang mampu mendekati dan menangkap satelit rusak secara teoritis juga dapat digunakan untuk mendekati, mengganggu, memindahkan, atau melumpuhkan satelit milik lawan.

Di sinilah ruang angkasa perlahan berubah dari sekadar wilayah pendukung operasi militer menjadi kemungkinan arena pertempuran itu sendiri. Perubahan tersebut membuat setiap manuver satelit besar kini tidak hanya diamati oleh astronom dan insinyur, tetapi juga intelijen dan komando militer.

Objek Misterius dari Pesawat Antariksa China

Space.com pada Selasa, 23 Juni 2026, melaporkan LeoLabs pertama kali mendeteksi objek misterius tersebut melalui jaringan radarnya. Setelah melakukan pengamatan tambahan, perusahaan itu menyimpulkan objek tersebut kemungkinan besar memang dilepaskan oleh pesawat antariksa China.

Wahana reusable China itu diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan menggunakan roket Long March-2F pada Februari 2026. Misi tersebut merupakan penerbangan keempat dari program pesawat antariksa eksperimental China.

Beijing hanya mengungkap sedikit informasi mengenai program tersebut kepada publik. Kantor berita resmi Xinhua menyebut wahana itu digunakan untuk melakukan verifikasi teknologi pesawat antariksa yang dapat digunakan kembali serta mendukung “penggunaan ruang angkasa secara damai”.

China Daily juga mencatat pemerintah China tidak memberikan rincian mengenai durasi misi, rencana penerbangan, maupun bentuk wahana tersebut. Bahkan gambar resmi pesawat antariksa itu tidak dipublikasikan kepada masyarakat.

Tingkat kerahasiaan tersebut membuat setiap perubahan orbitnya menjadi perhatian besar bagi para analis pertahanan Barat. Sebuah manuver yang secara teknis dapat merupakan eksperimen biasa dapat memperoleh makna strategis berbeda ketika dilakukan oleh wahana dengan kemampuan yang tidak diketahui secara terbuka.

Dari Satelit Menjadi “Pesawat Tempur”

Selama puluhan tahun, satelit terutama dipahami sebagai mata, telinga, dan sistem saraf elektronik bagi militer modern. Satelit memberikan GPS, komunikasi terenkripsi, peringatan dini peluncuran rudal, pemetaan, pengawasan wilayah musuh, penentuan sasaran, serta koordinasi pasukan.

Perang Ukraina dan konflik di Timur Tengah semakin menunjukkan betapa besarnya ketergantungan militer modern terhadap teknologi tersebut. Kehilangan akses ke sistem antariksa dapat membuat sebuah kekuatan militer kehilangan kemampuan melihat, berkomunikasi, menentukan posisi, dan mengarahkan senjata dengan presisi.

Everett Dolman, mantan profesor di Air War College Angkatan Udara AS, mengatakan kepada Reuters bahwa gangguan terhadap kemampuan antariksa Amerika dapat “melumpuhkan” kekuatan militernya di Bumi. Menurut dia, pesawat antariksa yang mampu bermanuver sekaligus membawa dan mengerahkan satelit bahkan dapat dipersepsikan lawan sebagai semacam “pesawat tempur ruang angkasa”.

Perubahan konsepsi tersebut semakin terlihat dalam bahasa yang digunakan para pemimpin militer Amerika Serikat. Kepala Operasi Antariksa US Space Force Jenderal Chance Saltzman mengatakan China sedang mempercepat pembangunan kemampuan yang mencakup senjata berbasis darat maupun ruang angkasa untuk mengganggu atau menghancurkan sasaran.

Saltzman menyebut ancaman yang berkembang dari China sebagai sesuatu yang “substansial”. Penilaian tersebut tentu mencerminkan perspektif keamanan Washington, tetapi peningkatan jumlah dan kompleksitas misi satelit China memang dapat diamati melalui data orbit terbuka.

Baca Artikel Selengkapnya