JAKARTA — Timur Tengah kembali berada dalam situasi genting menjelang pemilu sela Amerika Serikat pada Selasa, 3 November 2026. Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan telah memperingatkan sejumlah negara kawasan agar bersiap menghadapi kemungkinan serangan militer baru terhadap Iran setelah pemungutan suara, termasuk risiko serangan balasan yang dapat menghantam pangkalan militer, fasilitas energi, dan infrastruktur penting di negara-negara Teluk.
Ancaman eskalasi tersebut muncul ketika Washington dan Teheran masih berusaha menemukan jalan keluar dari perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Meski berbagai persiapan militer dilaporkan berlangsung, Gedung Putih belum mengumumkan keputusan untuk melancarkan serangan baru.
Menurut kedua diplomat, Washington meminta negara-negara kawasan mengambil langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan balasan Iran, khususnya terhadap fasilitas energi dan infrastruktur strategis. Operasi militer Amerika, jika diputuskan, diperkirakan dapat berlangsung beberapa hari. Namun, negara-negara kawasan mengkhawatirkan respons Iran dan kelompok-kelompok bersenjata sekutunya akan memperpanjang konflik.
Kekhawatiran meningkat setelah MS NOW, dalam laporan yang dikutip sejumlah media internasional pada 30–31 Oktober, menyebut pemerintahan Trump telah memberi pengarahan kepada sekutu-sekutunya di Teluk mengenai kemungkinan serangan singkat tetapi intensif paling cepat pada 4 November, sehari setelah pemilu.
Laporan tersebut bersumber dari tiga pejabat senior negara-negara Arab Teluk yang tidak disebutkan identitasnya. Tanggal 4 November merupakan perkiraan berdasarkan keterangan sumber tersebut, bukan jadwal operasi yang telah dikonfirmasi pemerintah Amerika.
Sejumlah negara Teluk dilaporkan mendorong Washington mengutamakan deeskalasi. Kekhawatiran mereka bukan hanya menyangkut keselamatan wilayah masing-masing, melainkan juga kemungkinan konflik berubah menjadi perang regional yang lebih luas.
Trump Belum Putuskan Serangan, Militer AS Bersiap
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menegaskan pada Sabtu, 31 Oktober, bahwa Trump belum mengambil keputusan mengenai serangan baru terhadap Iran.
Dalam pernyataannya pada pertemuan para menteri luar negeri G20 di Atlanta, Rubio menyatakan bahwa Washington masih mempertahankan komunikasi diplomatik dengan Teheran, baik secara langsung maupun melalui perantara.
Sebagaimana diberitakan Reuters, Rubio mengatakan Trump lebih memilih penyelesaian diplomatik. Namun, pemerintah Amerika tetap meyakini kemampuannya melancarkan operasi militer apabila dianggap diperlukan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan dua pendekatan yang berjalan bersamaan. Washington mempertahankan tekanan militer untuk memperoleh konsesi Iran, sembari membuka kemungkinan tercapainya penyelesaian melalui negosiasi.
Trump sendiri tidak menutup kemungkinan serangan setelah pemilu. Pada 28 Oktober, ketika ditanya mengenai rencana operasi militer berikutnya, ia mengatakan bahwa segala kemungkinan masih terbuka.
Di lapangan, Amerika juga memperkuat kehadiran militernya. AP melaporkan Pentagon telah mengerahkan kapal induk USS Theodore Roosevelt bersama sejumlah kapal pendarat amfibi yang membawa pasukan Marinir menuju kawasan Teluk Persia.
Pengerahan tersebut mencakup sekitar 9.000 personel. Seorang pejabat Amerika sebelumnya menyebut penguatan itu berpotensi menghadirkan lebih dari 20.000 pelaut dan Marinir di kawasan, selain ratusan pesawat militer.
Namun, peningkatan kekuatan tersebut belum dapat dipastikan sebagai keputusan melancarkan serangan. Kesiapan militer, pengerahan pasukan, dan perintah operasi merupakan tahapan yang berbeda.
Ketidakpastian itu semakin penting mengingat pemerintahan Trump menghadapi tekanan politik domestik akibat perang berkepanjangan, kenaikan harga energi, dan dampaknya terhadap biaya hidup masyarakat Amerika menjelang pemilu sela.

2 jam yang lalu
5





English (US) ·
Indonesian (ID) ·