Analis nilai fundamental Antam kuat di tengah isu MSCI

1 jam yang lalu 1
Investor sebaiknya menunggu stabilisasi harga dan meredanya tekanan jual asing sebelum masuk secara bertahap

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah analis menilai fundamental dan prospek saham PT Aneka Tambang Tbk/Antam (ANTM) masih kuat di tengah sentimen perseroan dikeluarkan dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Global Standard.

Analis Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menyatakan sentimen MSCI berpotensi memicu penyesuaian portofolio dan meningkatkan volatilitas harga saham perusahaan, meskipun tidak serta-merta mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.

“Investor sebaiknya menunggu stabilisasi harga dan meredanya tekanan jual asing sebelum masuk secara bertahap,” kata dia dalam pernyataan di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, fundamental perusahaan negara ini relatif kuat, mengingat pada semester I 2026, laba bersih perseroan mencapai Rp6,91 triliun, meningkat 34 persen secara tahunan, dengan emas sebagai kontributor utama penjualan. Bisnis nikel dan proyek hilirisasi juga berpotensi mendorong pertumbuhan.

Perusahaan milik negara yang bergerak di industri pertambangan dan pengolahan mineral ini juga sebelumnya membagikan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp5,05 triliun atau Rp209,99 per saham, setara 70 persen laba bersih. Namun, besaran dividen berikutnya bergantung pada laba 2026, arus kas dan kebutuhan belanja modal sekitar Rp6 triliun.

Sementara Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai keluarnya Antam dari indeks MSCI memicu tekanan jual mekanis jangka pendek yang dipicu oleh penyesuaian portofolio (rebalancing) dana kelolaan pasif global. Namun, aksi jual ini bersifat teknikal dan tidak mengindikasikan penurunan kinerja operasional perusahaan.

“Kondisi arus kas dan tingkat profitabilitas yang kuat membuat ekspektasi pembagian dividen dalam jumlah besar sangat realistis untuk diwujudkan. Secara historis, ANTM konsisten mempertahankan dividend payout ratio yang tinggi, sehingga potensi dividend yield yang menarik diproyeksikan mampu menjadi katalis pemulihan harga saham,” ungkap dia.

Baca juga: Antam membukukan laba bersih Rp6,91 triliun pada semester I-2026

Baca juga: Antam catat kinerja solid dan perkuat hilirisasi di 2025

Sementara itu, Analis Panin Sekuritas Elandry Pratama menegaskan tekanan harga tidak otomatis menunjukkan penurunan fundamental perseroan.

“Peluang akumulasi bisa terbuka jika valuasi sudah menarik, tetapi sebaiknya dilakukan bertahap dan menunggu stabilisasi harga. Dalam kondisi sekarang, penting membedakan tekanan jual akibat capital flow dengan perubahan prospek bisnis perseroan,” kata dia.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menambahkan prospek perusahaan lebih dipengaruhi harga emas dan laba perseroan. Meski demikian, tekanan jual asing secara luas masih dapat memengaruhi pergerakan saham.

Sebelumnya, Antam memperkuat pengembangan bisnis berbasis hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral sekaligus memperkuat fundamental perseroan dalam jangka panjang.

Upaya tersebut sejalan dengan kinerja perusahaan yang tetap solid pada semester I 2026, ditopang pertumbuhan bisnis nikel serta bauksit dan alumina.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira dalam keterangannya diterima di Jakarta, Senin (12/10) menyampaikan capaian kinerja pada semester I 2026 mencerminkan fundamental perseroan yang tetap solid, didukung optimalisasi kinerja komoditas utama serta pengelolaan biaya dan risiko yang disiplin.

Baca juga: ANTAM catat penurunan konsumsi energi sebesar 59 persen

Baca juga: Antam pacu pengembangan hilirisasi untuk tingkatkan nilai tambah

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya