Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

10 jam yang lalu 2

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal.  


Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara, AS dan Iran sebenarnya menginginkan perang ini segera berakhir. Kalau ada yang menginginkan perang ini terus berlangsung dialah Netanyahu bersama menteri-menterinya yang berasal dari kalangan garis keras. Dikatakan demikian, karena Presiden Donald Trump, misalnya, berkali-kali mengatakan bahwa perang ini akan segera berakhir. Bahkan penegasan ini sudah dikatakan Trump di awal-awal perang yang memperkirakan perang akan berlangsung kurang lebih 4 sampai 5 minggu.


Sementara bagi Iran, perang ini memang tidak dikehendaki dari awal. Elite-elite Iran menyebut perang ini sebagai perang yang dipaksakan (alharbu almafrudh) dan tidak ada pilihan. Andai ada pilihan, Iran (sebagaimana pada umumnya negara lain) akan memilih hidup damai tanpa peperangan.


Kondisi dan posisi Israel berbeda dari AS dan juga Iran sebagaimana di atas, khususnya Netanyahu sebagai Perdana Menteri Israel yang menginisiasi perang ini. Bagi Netanyahu dan kepentingan politiknya, perang ini harus terus dilanjutkan hingga Iran hancur-lebur dan tidak memiliki senjata yang dianggap sebagai ancaman bagi Israel. 


Dalam perspektif seperti ini, perang yang sudah berlangsung selama 234 ini belum menghasilkan apa pun. Faktanya rudal-rudal Iran masih terus membanjiri negara-negara Arab yang menjadi tempat pangkalan AS, khususnya di wilayah Teluk. Terlebih lagi, Israel akan mengadakan pemilu pada akhir bulan ini. Semua kondisi dan kepentingan ini mengharuskan Netanyahu untuk melanjutkan perang.


Tak terkendali
Pada awalnya perang ini direncanakan akan berlangsung cepat, tak lebih dari 5-6 minggu sebagaimana kerap disampaikan oleh Trump. Kondisi Iran yang sudah dianggap lemah mungkin menjadi alasan di balik rencana AS-Israel melakukan serangan cepat dan kuat kepada Iran, baik secara ekonomi maupun militer.


Secara ekonomi, kelemahan Iran terlihat jelas dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi warganya hingga memuncak pada aksi demonstrasi secara besar-besaran di akhir tahun 2025. Sementara secara militer, Israel dan AS sudah pernah menyerang fasilitas nuklir Iran yang sangat dibanggakan oleh Trump. Hingga akhirnya AS-Israel mengambil opsi melakukan serangan langsung ke Iran pada 28 Februari dan berhasil membunuh elite-elite utamanya, khususnya Ayatullah Ali Khamenei.


Di sinilah kesalahan hitung dan perkiraan AS-Israel terlihat secara terang benderang; Iran tidak hancur gara-gara serangan kuat yang dilakukan, bahkan walaupun Ayatullah Ali Khamenei beserta segenap elite lainnya meninggal di masa-masa awal perang. Alih-alih, Iran justru berhasil bangkit, melakukan perlawanan balik bahkan dalam waktu-waktu berikutnya berhasil mendikte AS. 


Kebangkitan Iran pasca-serangan 28 Februari tak lepas dari faktor utama, yaitu pemilihan Mujtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, menggantikan almarhum bapaknya, Ayatullah Ali Khamenei. Keputusan penting Iran ini diumumkan pada 08 Maret atau jam ke-231 dari serangan awal dilakukan pada 28 Februari pagi WIB. Penulis menyebut ini sebagai faktor 231.


Semenjak memiliki faktor 231, perang AS-Israel versus Iran mulai berjalan secara lebih berimbang. Ibarat sepak bola, Iran melawan serangan-serangan AS-Israel dengan kombinasi tiga serangan; serangan rudal langsung ke Israel, serangan “bola lambung” ke negara-negara Arab Teluk dan serangan “bola lambung” melalui Selat Hormuz. Disebut sebagai bola lambung, karena serangan ke negara-negara Arab Teluk dan Hormuz tidak langsung menyakiti AS (bahkan serangan ini mengandung dimensi kontraproduktif bagi Iran). Namun secara jangka panjang, dua serangan dalam bentuk “bola lambung” ini terbukti menguntungkan posisi Iran.


Inilah yang terjadi hingga sekarang. Iran terus mengontrol Selat Hormuz. Iran terus menyerang negara-negara Arab Teluk sebagai balasan atas serangan AS. Dampak dari serangan ini tak hanya dialami oleh negara-negara kawasan, melainkan juga oleh rakyat AS dan juga warga dunia.  

Dalam pandangan penulis, dua serangan bola lambung Iran di atas bercorak kontraproduktif. Karena serangan Iran ke negara-negara Arab, contohnya, akan mengganggu “potensi  pasar” dan keuntungan yang didapat Iran setelah berhasil menunjukkan diri sebagai “kekuatan” yang sebanding dengan Israel, bahkan mungkin juga dengan AS sekalipun.

Kondisi ini sangat terlihat dalam perang Israel-Iran pada tahun 2025, di mana Iran menyerang langsung Israel dan tak menyerang negara-negara Arab. Iran pun dielu-elukan sebagai pahlawan di kalangan masyarakat Timur Tengah yang selama ini menunggu hadirnya kekuatan penyeimbang bagi Israel yang acap semena-mena. 


Kondisi ini sangat berbeda dengan perkembangan sekarang ketika Iran juga menyerang negara-negara Arab (khususnya Arab Teluk). Alih-alih mendukung, negara-negara Arab justru menjadikan Iran sebagai musuh kembali, walaupun tidak secara langsung.


Perang Arab Saudi
Pada tahap tertentu, perang Arab Saudi melawan Houthi di Yaman sekarang bisa dipahami sebagai perlawanan “tak langsung” Arab Saudi kepada Iran. Kedua negara Iran dan Arab Saudi memang tidak memberikan pernyataan permusuhan secara langsung kembali (setelah rekonsiliasi pada tahun 2022 lalu).

Namun, sejarah krisis dan konflik di sekitar Arab Teluk menunjukkan salah satu persoalan utamanya ada pada hubungan Iran dengan Arab Saudi. Krisis hubungan Arab Saudi (juga beberapa negara Arab Teluk lain) dengan Qatar pada tahun 2017 bisa dijadikan sebagai salah satu contoh dari yang diampaikan di atas. Pada tahap tertentu perang Arab Saudi melawan Houthi saat ini juga sangat “berbau” Iran (walaupun ini bukan menjadi satu-satunya faktor).

Faktanya perang Arab Saudi melawan Houthi kali ini terjadi ketika pesawat yang membawa pelayat Houthi dari pemakaman Ayatullah Khamenei diserang oleh pemerintah Yaman yang didukung oleh Arab Saudi pada 13 Juli.

Sejak saat itu, Houthi menyerang Arab Saudi secara langsung. Bahkan Houthi menjadikan Arab Saudi sebagai musuh spesifik yang dilarang melewati Selat Bab Mandeb. Kenyataan ini membuat Arab Saudi memiliki motivasi lebih untuk “menuntaskan misi” yang belum selesai melawan kelompok Houthi. Bahkan motivasi ekonomi ini bukan hanya dimiliki oleh Arab Saudi yang sudah terganggu secara ekonomi oleh krisis yang terjadi di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz.

Di luar Arab Saudi banyak negara lain yang berkepentingan untuk mengamankan Selat Bab Mandeb dari cengkeraman Houhti dan Iran. Karena itu, sangat besar kemungkinan perang Arab Saudi melawan Houhti akan terus semakin membesar dan melibatkan pihak-pihak secara lebih banyak, baik dinyatakan secara terbuka atau tidak.

Hal yang mungkin tidak dipedulikan oleh Arab Saudi, bahwa perang Arab Saudi versus Houthi sekarang tidak akan bisa dipisahkan dari perang AS-Israel melawan Iran (paling tidak secara momentum). Ketika perang Arab Saudi berkobar dengan Houthi, maka perang ini sebenarnya sudah menjadi perang saudara di kawasan. Terlebih lagi belakangan tidak ada lagi serangan langsung yang dilakukan ke Israel, baik oleh Iran maupun Houthi (dalam catatan penulis serangan langsung ke Israel terjadi pada 08 Juni yang dilakukan oleh Iran).

Dengan demikian, perang yang awalnya berawal dari serangan AS-Israel melawan Iran secara perlahan berubah menjadi perang saudara di antara negara-negara kawasan. Perang saudara ini bisa lebih besar dan berkepanjangan dengan adanya tali temali dengan persoalan keyakinan atau sekte keagamaan (Sunni versus Syiah).

Fatwa yang dikeluarkan oleh Mufti Arab Saudi, Syekh Saleh Fauzan, pada 24 September, terkait perang melawan Houhti jelas memperlihatkan kelit kelindan persoalan ekonomi dan keyakinan dalam perang ini.

Dalam fatwa tersebut, Houthi disebut sebagai kelompok sesat dan jamaah menyimpang (alfirqah ad-dhallah waljama’ah al-munharifah), bahkan dianggap mengafirkan para sahabat Nabi Muhamad Saw (Aljazeera.net, 25/09).


Akhir perang
Dalam hemat penulis, ada dua kemungkinan akhir perang AS-Israel melawan Iran ke depan. Pertama, solusi ideal dan komprehensif. Secara semangat, solusi ideal ini bisa dilakukan seperti yang kerap disampaikan oleh Iran selama ini, khususnya terkait dengan penyelesaian front-front perang secara bersamaan, mulai dari front Iran, Lebanon, Yaman dan juga Gaza.

Walaupun terlihat cukup ideal secara konseptual, solusi ini memiliki tantangan yang sangat berat karena harus berhadapan dengan Israel yang tidak menginginkan ada pihak lain di Timur Tengah yang bisa menyaingi senjatanya. Mulai dari kelompok milisi seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi hingga level negara seperti Iran. Jangankan negara musuh seperti Iran, bahkan “negara sahabat” seperti Turki sekali pun ditolak oleh Israel (sebagaimana terlihat dari sikap Israel terkait rencana AS menjual jet tempur siluman canggih, F-35, kepada Turki dan Arab Saudi).


Kedua, solusi tidak ideal. Solusi ini akan membiarkan keadaan di Timur Tengah seperti sekarang yang dikenal dengan istilah Bukan Perang juga Bukan Damai (la salam wala harb). Bagi AS-Israel, situasi ini mungkin berat, khususnya pada saat menjelang pemilu di kedua negara seperti sekarang. Tapi secara jangka panjang, situasi ini akan menguntungkan. Mengingat Iran akan terus tercekik, khususnya secara ekonomi. Terlebih lagi Arab Saudi sudah turun ke medan tempur melawan Houhti dan juga Iran (pada tahap tertentu) yang juga menjadi kepentingan bagi AS dan Israel.


Persoalannya ialah apakah Iran akan tinggal diam membiarkan AS-Israel menjalankan seluruh taktik dan strateginya? Jawabannya pasti tidak. Sebagaimana telah dikatakan di atas, perang ini terus berlanjut sampai sekarang karena AS-Israel tak lagi mampu menjalankan seluruh taktik dan strateginya. Dengan kata lain, Iran selama ini lebih berhasil menentukan laju perang ini dari pada AS-Israel. Sebab kalau AS-Israel yang menentukan, maka perang ini mungkin hanya akan berlangsung sebentar, 4-5 minggu seperti pernah disampaikan Trump di awal perang.

Dilihat dari kepentingan Iran, pemilu AS dan Israel adalah kesempatan emas untuk memaksakan kemenangan dalam perang ini, terlebih Iran selama ini berhasil menciptakan “goal-goal penyeimbang” setelah banyak kemasukan goal di masa awal perang ini. Pemilu AS dan Israel adalah “akhir waktu normal” yang harus dikejar oleh Iran untuk memastikan kepentingan dan kemenangannya.

Terlalu spekulatif bagi Iran bila harus melanjutkan perang di “babak perpanjangan waktu” setelah Pemilu. Khawatirnya Iran tak memiliki kekuatan yang mampu mengubah “kemustahilan menjadi mungkin” seperti dalam dua menit terakhir pertandingan Timnas Indonesia melawan Timnas Bangladesh, atau tak memiliki kemampuan menahan serangan lawan hingga di akhir waktu seperti diperlihatkan oleh Kiper Emil Audiro yang berhasil menepis tendangan pemain Thailand dalam adu penalti di Final FIFA ASEAN CUP 2026.


Hasibullah Satrawi, pengamat politik Timur Tegah dan dunia Islam

Baca Artikel Selengkapnya