Dunia pesantren di tanah Sunda tidak pernah kekurangan figur ulama kharismatik yang mendedikasikan seluruh napas hidupnya untuk membimbing umat.
Di tengah arus modernisasi yang kerap membawa disorientasi nilai, pesantren senantiasa hadir sebagai benteng pertahanan moral dan pilar kebangsaan. Buku Ajengan Cipasung: Biografi KH Moh. Ilyas Ruhiat karya Iip D Yahya hadir menyapa pembaca bukan sekadar sebagai catatan biografi kaku, melainkan sebagai rekonstruksi histori, rekam jejak batin, dan potret perjuangan seorang pemimpin spiritual yang memegang teguh prinsip keislaman di tengah gelombang perubahan zaman yang kian kompleks.
Tokoh utama dalam biografi ini, KH Moh Ilyas Ruhiat, digambarkan bukan sekadar sebagai pengasuh Pondok Pesantren Cipasung yang melanjutkan estafet kepemimpinan besar dari sang ayah, KH Ruhiat, melainkan sebagai sosok ulama yang tawadu, berfikir jernih, dan senantiasa menempatkan kemaslahatan umat di atas segalanya.
Melalui penelusuran pustaka dan wawancara mendalam, penulis membawa pembaca melintasi lorong waktu untuk menyaksikan bagaimana sang Ajengan menghadapi berbagai pergolakan zaman, mulai dari era fisik perjuangan kemerdekaan, dinamika politik Orde Baru yang penuh tekanan, hingga momen krusial ketika beliau dipercaya memimpin jajaran Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Kendati memuat materi sejarah keulamaan dan struktur organisasi keislaman yang kerap dianggap berat, Iip D Yahya meracik naskah ini dengan gaya bertutur mengalir dan humanis. Pembaca tidak hanya disuguhi rentetan tanggal kepengurusan atau fakta sejarah yang formal, melainkan diajak untuk menyelami ketulusan laku lampah seorang ajengan desa yang pengaruh keilmuan dan kebijaksanaannya menembus batas-batas nasional.
Daya tarik utama dari biografi ini terletak pada kepiawaian penulis dalam menampilkan sisi-sisi keseharian sang tokoh. Perjuangan KH Moh Ilyas Ruhiat tidak hanya dipotret saat dirinya berada di panggung-panggung mimbar besar atau rapat kepemimpinan nasional, tetapi juga saat Kiai Ilyas duduk melingkar mengajar kitab kuning bersama para santri, menyapa tetangga di sekitar pesantren dengan penuh keramahan, serta menyikapi berbagai perbedaan pendapat dengan kepala dingin dan kelembutan sikap.
Kisah-kisah otentik tentang keteguhan Kiai Ilyas dalam menjaga independensi moral pesantren di tengah tarikan kepentingan politik praktis menjelmakan buku ini sebagai cermin keteladanan yang sangat bersih.
Di tengah maraknya krisis ketokohan dan kepemimpinan hari ini, laku hidup Ajengan Cipasung memberikan jawaban konkret tentang bagaimana seorang ulama seharusnya memosisikan diri, menjadi pengayom yang menyejukkan, bukan pemecah belah; menjadi pencerah nurani, bukan pemburu kekuasaan. Pesan-pesan moral yang disampaikan dalam setiap babnya terasa begitu menyentuh tanpa sedikit pun terkesan menggurui.
Secara metodologis, karya Iip D Yahya ini berhasil menyeimbangkan antara apresiasi personal dan keakuratan histori. Penulis tidak terjebak pada pengkultusan individu yang berlebihan (hagiografi), melainkan menyajikan narasi yang objektif berdasarkan fakta-fakta lapangan dan kesaksian para tokoh sebaya. Hal ini membuat potret kepemimpinan KH Moh Ilyas Ruhiat terasa sangat realistis, membumi, dan dapat diteladani oleh generasi muda masa kini.
Kendati demikian, bagi pembaca yang mengejar ketegangan alur cerita atau analisis politik partisan yang tajam, pada beberapa bagian awal buku ini mungkin terasa berjalan agak lambat. Hal tersebut wajar mengingat biografi ini memang memberikan porsi yang cukup besar pada pemetaan silsilah keilmuan, sejarah berdirinya Pesantren Cipasung, serta detail keseharian yang menekankan pada pembentukan karakter spiritual sang tokoh.
Namun, kepenatan singkat itu akan terbayar lunas ketika pembaca memasuki bagian tengah hingga akhir buku, di mana konsistensi sikap dan integritas sang ajengan diuji oleh berbagai peristiwa penting kebangsaan.
Pada akhirnya, Ajengan Cipasung: Biografi KH Moh Ilyas Ruhiat bukan sekadar memoar tokoh masa lalu yang berdebu di rak perpustakaan. Buku ini adalah pengingat lembut bagi kita semua bahwa kepemimpinan yang sejati lahir dari ketulusan berkhidmat, kedalaman ilmu, dan kerendahan hati. Di tengah hiruk-pikuk arus informasi dan modernitas yang serba cepat, teladan yang diwariskan oleh KH Moh Ilyas Ruhiat hadir sebagai jangkar ketenangan batin sekaligus pelita penuntun bagi perjalanan bangsa.
Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh para santri, akademisi, peneliti studi Islam dan pesantren, serta siapa saja yang merindukan sosok pemimpin berintegritas tinggi. Melalui perjalanannya yang dirangkai indah oleh Iip D. Yahya, kita diingatkan kembali pada sebuah pesan penting: bahwa pelita peradaban umat akan terus menyala terang, selama masih ada ulama dan ajengan yang merawat warisan ilmu serta membimbing masyarakat dengan keikhlasan hati yang tulus.
Identitas Buku:
Judul Buku: Ajengan Cipasung: Biografi KH Moh Ilyas Ruhiat
Penulis: Iip D. Yahya
Penerbit: Pustaka Pesantren
Tebal Buku: 327 halaman
ISBN: 979-8452-20-8
Peresensi: M. Deni Hidayatullah, juara 1 sayembara menulis Hari Santri 2026 Lakpesdam PCNU Garut

47 menit yang lalu
2



English (US) ·
Indonesian (ID) ·