JAKARTA — Perkembangan teknologi militer bawah laut memasuki fase baru. Perusahaan Jerman Helsing mengembangkan sistem pelacak kapal selam. Australia menghadirkan Ghost Shark dengan kemampuan persenjataan otonom.
Kedua teknologi tersebut memiliki karakteristik dan fungsi berbeda. Helsing mengandalkan kecerdasan buatan untuk mendeteksi ancaman. Ghost Shark dirancang menjalankan pengintaian sekaligus misi serangan.
Perkembangan terbaru diumumkan pemerintah Australia pada 19 Oktober 2026. Tiga kemampuan Ghost Shark yang sebelumnya dirahasiakan akhirnya diungkap. Teknologi itu mencakup ranjau laut dan drone bersenjata.
Dilansir ABC News, Australia mengungkap kemampuan tersebut di Sydney. Ghost Shark dirancang membawa hingga 12 ranjau laut. Wahana ini juga dapat meluncurkan drone udara ALTIUS.
Menteri Industri Pertahanan Australia Pat Conroy menyampaikan pengumuman tersebut. Ia menegaskan teknologi itu memperluas kemampuan operasi angkatan laut.
"Ghost Shark kini punya taring," kata Conroy, menggambarkan kemampuan persenjataan baru tersebut.
Laporan Defense News pada Senin (2/11/2026) kembali menyoroti perkembangan ini. Australia membuka informasi mengenai tiga jenis muatan Ghost Shark. Pengungkapan tersebut memperlihatkan kemajuan pengembangan teknologi bawah laut.
Sementara itu, perusahaan Jerman Helsing menawarkan pendekatan berbeda. Teknologi SG-1 Fathom mengutamakan pengawasan laut menggunakan AI. Sistemnya dikembangkan untuk mengenali dan melacak kapal selam.
AI Jerman Bisa Klasifikasi Suara 40 Kali Lebih Cepat
Helsing memperkenalkan teknologi SG-1 Fathom pada Mei 2025. Perusahaan yang berkantor pusat di Munich itu mengembangkan Lura. Perangkat lunak tersebut menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisis suara.
Dilansir Handelsblatt, 13 Mei 2025, Helsing mengembangkan sistem pengawasan baru. Teknologinya dirancang melindungi kapal dan infrastruktur bawah laut. Sistem tersebut dapat mengidentifikasi karakteristik akustik berbagai kapal.
Lura menggunakan model AI akustik berskala besar. Teknologi tersebut mempelajari pola suara dari lingkungan perairan. Karakteristik suara kapal menjadi informasi penting dalam pendeteksian.
Mesin, propeler, dan pergerakan kapal menghasilkan suara tertentu. Informasi tersebut dapat membantu mengidentifikasi objek bawah laut. AI kemudian mengklasifikasikan data berdasarkan pola yang dikenali.
Helsing mengklaim teknologi Lura mempunyai sensitivitas sangat tinggi. Sistemnya disebut mampu mendeteksi suara sepuluh kali lebih senyap. Perbandingan tersebut menggunakan model kecerdasan buatan lainnya.
Kemampuan klasifikasi suaranya juga diklaim jauh lebih cepat. Helsing menyebut kecepatannya mencapai 40 kali operator manusia. Angka tersebut merujuk pada proses klasifikasi karakteristik akustik.
Namun, kedua angka tersebut merupakan klaim perusahaan pengembang. Belum tersedia pembuktian independen untuk seluruh kondisi operasi. Keberhasilannya dapat dipengaruhi karakteristik lingkungan bawah laut.
Keunggulan lainnya terletak pada daya tahan patroli. SG-1 Fathom dirancang beroperasi hingga tiga bulan. Wahana tersebut dapat melakukan pengawasan tanpa awak secara berkelanjutan.
Helsing juga merancang penggunaan kendaraan dalam jumlah besar. Ratusan SG-1 Fathom dapat membentuk jaringan sensor. Satu operator diklaim mampu memantau ratusan wahana tersebut.
Menurut perusahaan, sistem dapat mengirim informasi hampir langsung. Data tersebut membantu operator mengenali ancaman yang terdeteksi. Pengawasan dapat berlangsung tanpa mengerahkan banyak kapal berawak.

18 jam yang lalu
1





English (US) ·
Indonesian (ID) ·