Adab Merespons Konten Viral

1 jam yang lalu 6

Di era digital, informasi bisa diperoleh dengan mudah dan cepat. Namun, tidak semua informasi yang beredar dapat dipercaya. Di tengah derasnya arus informasi, berita palsu, disinformasi, dan propaganda semakin mudah tersebar, terutama melalui media sosial.


Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele. Informasi yang keliru dapat menimbulkan keresahan, memicu konflik, menyebarkan kebencian, hingga mengikis kepercayaan masyarakat terhadap media dan lembaga publik.


Karena itu, literasi digital menjadi semakin penting. Masyarakat perlu membiasakan diri untuk memeriksa kebenaran informasi, mencari sumber yang dapat dipercaya, dan tidak terburu-buru membagikan sesuatu hanya karena sedang ramai diperbincangkan.


Kita perlu menyadari bahwa sesuatu yang viral belum tentu benar. Dengan sikap kritis dan lebih berhati-hati dalam menerima informasi, kita bisa ikut menjaga ruang digital agar tetap sehat dan bermanfaat.


Pentingnya Memastikan Kebenaran Informasi

Tidak semua informasi yang beredar di media sosial bisa dipercaya. Sebuah video yang ditonton jutaan orang, misalnya, belum tentu menggambarkan kejadian yang sebenarnya. Begitu pula berita yang ramai dibicarakan, tidak otomatis benar hanya karena dibagikan banyak orang.


Islam mengajarkan umatnya untuk berhati-hati dalam menerima informasi. Sebelum mempercayai suatu kabar, kita perlu memastikan kebenarannya agar tidak terjebak dalam kesimpulan yang keliru, apalagi sampai merugikan orang lain.


Pesan ini ditegaskan Allah SWT dalam Surat Al-Hujurat ayat 6:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ


Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).


Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Abu Ja'far Ath-Thabari menjelaskan bahwa tabayun mengandung pengertian meneliti dan tidak terburu-buru menerima suatu kabar sebelum mengetahui kebenarannya. Ia menulis:


وَقَرَأَ ذَلِكَ بَعْضُ القُرَّاءِ فَتَبَيَّنُوا بِالبَاءِ، بِمَعْنَى: أَمْهِلُوا حَتَّى تَعْرِفُوا صِحَّتَهُ، لَا تَعْجَلُوا بِقَبُولِهِ


Artinya, “Sebagian ahli qiraat membaca kata fatabayyanu dengan huruf ba. Maknanya adalah berilah waktu sampai kalian mengetahui kebenarannya. Jangan terburu-buru menerimanya.” (Lihat: Jami'ul Bayan fi Ta'wilil Qur'an, [Mu'assasah ar-Risalah, 2000 M], jilid XXII, hlm. 286).


Penjelasan ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang. Setiap hari, berbagai informasi muncul di layar ponsel, mulai dari berita politik, persoalan agama, hingga video yang memancing kemarahan publik. Tidak jarang, seseorang langsung memberikan komentar sebelum mengetahui duduk perkaranya.


Padahal, ada banyak hal yang mungkin tidak terlihat dalam sebuah unggahan. Video bisa dipotong, pernyataan seseorang dapat dilepaskan dari konteksnya, dan informasi lama terkadang disebarkan kembali seolah-olah merupakan peristiwa baru.


Sikap mudah percaya terhadap kabar yang belum teruji bisa membawa akibat serius. Seseorang dapat menjadi sasaran tuduhan, kehilangan nama baik, atau mendapat perlakuan tidak adil hanya karena informasi yang ternyata tidak benar.


Al-Qur'an mengingatkan bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas apa yang didengar, dilihat, dan diyakininya. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Isra' ayat 36:


وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا


Artinya, “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra' [17]: 36).


Ayat ini mengingatkan kita agar tidak mengikuti sesuatu tanpa dasar pengetahuan yang jelas. Dalam kehidupan digital, pesan tersebut dapat diterapkan ketika kita hendak mempercayai, mengomentari, atau menyebarkan suatu unggahan.


Syekh Nawawi Banten memberikan perumpamaan menarik ketika menafsirkan ayat ini. Menurutnya, mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan ibarat menempuh jalan yang belum diketahui apakah benar-benar mengantarkan seseorang ke tempat tujuan. Ia menjelaskan:


وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ أَيْ لَا تَكُنْ أَيُّهَا الإِنْسَانُ فِي اتِّبَاعِ مَا لَا عِلْمَ لَكَ بِهِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ كَمَنْ يَتْبَعُ مَسْلَكاً لَا يَدْرِي أَنَّهُ يُوصِلُهُ إِلَى مَقْصِدِهِ


Artinya, “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kau ketahui. Maksudnya, wahai manusia, janganlah mengikuti ucapan atau tindakan yang tidak engkau ketahui, seperti seseorang yang menempuh suatu jalan tanpa mengetahui apakah jalan itu akan mengantarkannya ke tempat tujuan.” (Lihat: Marahul Labid li Kasyfi Ma'nal Qur'anil Majid, [Beirut: Darul Kutub al-'Ilmiyah], jilid I, hlm. 625).


Perumpamaan tersebut menggambarkan betapa mudahnya seseorang tersesat ketika mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan. Dalam bermedia sosial, hal serupa bisa terjadi saat kita ikut mengecam seseorang hanya berdasarkan potongan video atau cerita sepihak.


Ketika fakta sebenarnya terungkap, komentar yang telanjur ditulis mungkin sudah menyakiti orang lain. Bahkan, informasi yang kita sebarkan bisa terus beredar meskipun kesalahannya telah diluruskan.


Karena itu, kehati-hatian dalam menerima informasi bukan sekadar persoalan kecakapan menggunakan teknologi. Ada tanggung jawab moral yang harus dijaga, terlebih ketika ucapan dan tindakan kita berpengaruh terhadap kehidupan orang lain.


Selain Al-Qur'an, hadits Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan pentingnya bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.


Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi disebutkan:


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ، وَالعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ


Artinya, “Dari Anas bin Malik ra, Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Sikap tenang berasal dari Allah, sedangkan sikap tergesa-gesa berasal dari setan.’” (HR. Al-Baihaqi).


Hadits ini menjadi pengingat agar kita tidak membiarkan emosi menguasai pikiran. Terlebih ketika menemukan unggahan yang memancing kemarahan, kebencian, atau keinginan untuk segera memberikan tanggapan.


Syekh Zainuddin Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir mengutip penjelasan Imam Ibnu Qayyim mengenai bahaya sikap tergesa-gesa. Ia menulis:


التَّأَنِّي أيِ التَّثَبُّتَ فِي الأُمُورِ مِنَ اللَّهِ، وَالعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ قَالَ ابْنُ القَيِّمِ إِنَّمَا كَانَتِ العَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ لِأَنَّهَا خِفَّةٌ وَطَيْشٌ وَحِدَّةٌ فِي العَبْدِ تَمْنَعُهُ مِنَ التَّثَبُّتِ وَالوَقَارِ وَالحِلْمِ وَتُوجِبُ وَضْعَ الشَّيْءِ فِي غَيْرِ مَحَلِّهِ وَتَجْلِبُ الشُّرُورَ وَتَمْنَعُ الخُيُورَ وَهِيَ مُتَوَلِّدَةٌ بَيْنَ خُلُقَيْنِ مَذْمُومَيْنِ التَّفْرِيطِ وَالاسْتِعْجَالِ قَبْلَ الوَقْتِ


Artinya, “Sikap tenang, yakni memastikan kebenaran dalam berbagai urusan, berasal dari Allah, sedangkan sikap tergesa-gesa berasal dari setan.”


“Ibnu Qayyim berkata, ‘Sikap tergesa-gesa berasal dari setan karena mengandung kecerobohan, ketidakhati-hatian, dan dorongan emosi yang menghalangi seseorang untuk bersikap teliti, tenang, dan sabar.’”


“Sikap tersebut juga menyebabkan seseorang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, mendatangkan berbagai keburukan, dan menghalangi banyak kebaikan. Sifat ini muncul dari dua perangai tercela, yaitu kelalaian dan keinginan bertindak sebelum waktunya.” (Lihat: Faidhul Qadir, [Mesir: Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, 1356 H], jilid III, hlm. 277).


Penjelasan Ibnu Qayyim tersebut dapat menjadi bahan renungan bagi kita yang hidup di tengah derasnya informasi. Ketika emosi sudah mengambil alih, seseorang sering kali lebih sibuk bereaksi daripada memikirkan apakah informasi yang diterimanya benar.


Contohnya, saat sebuah video kontroversial muncul di media sosial, kolom komentar biasanya langsung dipenuhi berbagai tanggapan. Sebagian orang bahkan tidak segan melontarkan tuduhan dan kata-kata kasar, meskipun belum mengetahui kejadian secara utuh.


Kebiasaan semacam ini perlu dihindari. Kita tidak harus selalu menjadi orang pertama yang berkomentar atau ikut menyebarkan kabar yang sedang ramai. Ada kalanya menahan diri justru jauh lebih bermanfaat.


Sebelum membagikan informasi, kita bisa memulainya dengan beberapa pertanyaan sederhana: Dari mana sumber berita ini? Apakah ada bukti yang mendukungnya? Apakah informasi tersebut disampaikan secara utuh? Dan apakah menyebarkannya akan membawa manfaat?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial. Sebab, apa yang kita lakukan di ruang digital juga memiliki konsekuensi dalam kehidupan nyata.


Dengan membiasakan sikap tersebut, kita dapat ikut menjaga media sosial sebagai ruang yang lebih sehat, tempat orang saling berbagi pengetahuan dan memperoleh manfaat, bukan justru menjadi sarana menyebarkan prasangka dan kebencian. Wallahu a'lam bis-shawab.


Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, Perumus LBM Nurul Cholil, dan Pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan.

Baca Artikel Selengkapnya