7 Pemimpin Negara yang Senang Trump Kalah Telak di Pemilu Sela AS

1 jam yang lalu 2
Jakarta, CNN Indonesia --

Partai Demokrat memenangkan pemilu paruh waktu (midterm election) Amerika Serikat pada Selasa (3/11), dengan menyapu kursi mayoritas di Senat dan juga Dewan Perwakilan (DPR).

Hitung cepat yang dilakukan New York Times sejauh ini menunjukkan Demokrat memenangkan 54 kursi di Senat, sedangkan Republik 44 kursi. Sementara itu, dalam perebutan kursi di DPR, Demokrat meraup 238 kursi, jauh dari Republik yang hanya 147 kursi.

Kekalahan ini menjadi pukulan keras bagi Presiden AS Donald Trump dan Partai Republik, bahkan skenario terburuk sang presiden.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekalahan Republik ini mengindikasikan nasib pemerintahan Presiden Donald Trump yang akan menghadapi berbagai rintangan. Kebijakan-kebijakannya, termasuk mengenai perdagangan global, keamanan, dan harga energi, kini akan diawasi ketat.

Sejumlah tokoh dunia telah bereaksi atas 'kekalahan' Trump di pemilu sela ini. Berikut tokoh-tokoh yang menyambut baik hasil pemilu paruh waktu AS.

PM Spanyol Pedro Sanchez

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez blak-blakan menyatakan hasil pemilu sela AS menunjukkan bahwa rakyat Amerika menentang kebijakan yang "memiskinkan rakyat".

"Kemarin, rakyat Amerika memberikan suara menentang kebijakan yang hanya bertujuan memiskinkan rakyat. Menentang kebencian. Menentang seksisme. Menentang penyangkalan perubahan iklim dan menentang hak istimewa kaum elite," tulisnya di media sosial X.

[Gambas:Twitter]

Pemimpin Tertinggi Iran

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan hasil pemilu sela AS tanda kekalahan Negeri Paman Sam dan melemahnya negara adidaya itu.

"Kami berharap dominasi Setan Besar semakin cepat dan semakin pasti melemah," kata Khamenei yang merujuk kepada AS melalui pernyataan pada Rabu (4/11).

Dikutip Chosun Ilbo, para pemimpin Iran telah lama mengecap AS sebagai "Setan Besar" sementara Israel, sekutu terdekatnya, sebagai "Setan Kecil".

Dalam unggahannya di X, Khamenei bahkan menuturkan bahwa kesalahan perhitungan Trump untuk memicu perang dengan Iran malah menjadi bumerang yang melemahkan hegemoni Negeri Paman Sam.

"Saat ini, kekuatan dan hegemoni Amerika Serikat yang terus merosot telah mengalami kejatuhan yang tak dapat dipulihkan dalam kedua dimensi kekuasaannya: baik hard military power dan soft power internasionalnya," ujar Khamenei.

"Proses keruntuhan AS semakin cepat," ujarnya lagi.

Selain Khamenei,  Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga ikut menyambut baik kekalahan Trump. Dalam unggahan di media sosial, Ghalibaf menyebut hasil pemilu ini menegaskan bahwa rakyat AS menolak untuk perang.

"Rakyat Amerika mengatakan TIDAK PADA PERANG, dan kami mendukung pesan ini. Jika pemerintah AS mengkhianati kehendak publik demi melayani para pemberi dana dan pemeras internasional, mereka akan menyadari bahwa penolakan kami akan berujung pada mimpi buruk," tulisnya di X.

Norwegia sampai Inggris Ikut Komentar 'Kekalahan' Trump di Pemilu Sela

PM Inggris Andy Burnham. (Foto: AFP/LUDOVIC MARIN)

PM Norwegia Jonas Gahr Store

Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store juga menyebut pemilu sela AS memperlihatkan sinyal politik yang kuat tentang perubahan arah di kalangan masyarakat.

"Ini adalah sinyal politik yang kuat tentang perubahan arah di kalangan pemilih Amerika," ucapnya kepada Reuters.

"Saat ini muncul suara-suara dalam politik Amerika yang lebih dekat dengan kita daripada yang dianut Presiden dan pemerintahannya, misalnya dalam hal iklim dan lingkungan, serta dalam kebijakan luar negeri dan kebijakan bantuan pembangunan," lanjutnya.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa juga mengatakan bahwa hasil ini "mengantarkan era baru dalam hubungan dunia."

"Partai Demokrat telah mengambil kendali atas Senat maupun DPR; rakyat Amerika telah bersuara dan terus bersuara seiring dengan berakhirnya seluruh pemilihan umum, dan menurut saya, hal ini benar-benar akan menghadirkan era baru dalam hubungan dunia," ujarnya kepada wartawan.

PM Ceko Andrej Babis

Perdana Menteri Ceko Andrej Babis sementara itu menyoroti potensi terjadinya perselisihan alot di antara para pembuat kebijakan di Amerika Serikat.

"Saya pikir hasilnya sesuai harapan," ujarnya.

"Menurut pandangan saya, ini berarti bahwa hingga akhir masa jabatan Presiden Trump, semuanya akan berputar pada pemakzulan dan hak veto, dan semacam kelumpuhan. Di sisi lain, Presiden Trump hampir pasti akan terus melakukan apa pun yang dia inginkan. Semoga dia akhirnya menepati janji untuk mengakhiri perang di Ukraina dan menyelesaikan konflik di Selat Hormuz," lanjutnya.

PM Polandia Donald Tusk

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk turut bersuara tentang hasil pemilu sela AS. Ia menyebut demokrasi saat ini "menang" Amerika.

"Hari ini, demokrasi menang di Amerika. Demokrasi itu luar biasa. Saya mencintai demokrasi. Demokrasi adalah hal yang sungguh indah. Dan seperti yang dikatakan oleh Presiden Donald Trump sendiri, tepat setelah pemilihan umum, Partai Demokrat telah melakukannya dengan baik, dan saya sangat setuju dengannya," ucapnya.

PM Inggris Andy Burnham

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham secara implisit juga menyambut keoknya orang-orang Trump di pemilu paruh waktu.

Burnham berujar hasil pemilu AS adalah pesan agar pemerintah dan parlemen fokus pada hal-hal yang benar-benar krusial.

"Menurut pandangan saya, itulah pesan yang disampaikan oleh para pemilih di AS: mari kita benar-benar memusatkan perhatian secara tajam pada masalah biaya hidup. Saya rasa di seluruh dunia pun ada kesadaran bahwa negara-negara tidak bisa mengatasi hal ini sendirian, apalagi jika terdapat perpecahan antarnegara," ucapnya.

Baca Artikel Selengkapnya