Jakarta, CNN Indonesia --
Awal bulan ini, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei merombak jajaran petinggi keamanan Teheran.
Para pejabat baru ditunjuk dengan sentuhan pribadi Mojtaba, yang tampaknya sedang mempersiapkan konfrontasi jangka panjang dengan Amerika Serikat (AS).
Beberapa pejabat di antaranya yaitu Mohsen Rezaei, mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang memimpin perang melawan Irak pada tahun 1980-an. Hossein Taeb juga termasuk salah satunya, yang merupakan mantan kepala intelijen Garda Revolusi yang mundur secara misterius pada 2022.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jason Brodsky, direktur kebijakan di lembaga think tank United Against Nuclear Iran (UANI), menilai penunjukan tokoh-tokoh garis keras ini "mengindikasikan penerapan sikap yang lebih konfrontatif dan siap mengambil risiko."
"Penunjukan ini mencerminkan keyakinan Iran bahwa mereka akan berada dalam situasi siaga perang untuk masa mendatang," ujarnya.
Menurut Brodsky, Mojtaba telah membawa kembali "generasi lama" IRGC. Meski begitu, masih harus dilihat apakah penunjukan ini akan memengaruhi diplomasi Iran vs AS.
Berikut daftar pejabat keamanan baru Iran.
1. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Mohsen Rezaei
Sebagai komandan IRGC pada tahun 1980-an dan 1990-an, Rezaei senantiasa menjadi sosok yang menonjol. Wajah tegas dan janggut hitamnya merupakan pemandangan yang akrab bagi rakyat Iran di televisi.
Upayanya terjun ke dunia politik saat dulu tidak membuahkan hasil. Ia beberapa kali gagal dalam pencalonan presiden.
Penunjukan mendadaknya untuk menduduki jabatan kunci yang pernah dipegang Ali Larijani sempat mengejutkan sejumlah pengamat. Rezaei adalah tokoh garis keras yang memusuhi AS dan Yahudi.
Pada 2020, AS menjatuhkannya sanksi dengan tuduhan ia terlibat dalam serangan tahun 1994 terhadap sebuah pusat komunitas Yahudi di Argentina.
Pada April lalu, Rezaei sempat memperingatkan bahwa Iran akan menenggelamkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz jika AS nekat memandu kapal-kapal yang terjebak di jalur pelayaran vital tersebut.
Pada Juni, ia juga menyatakan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan "hujan" rudal Iran.
2. Komandan Basij Hossein Taeb
Hossein Taeb ditunjuk sebagai pemimpin Basij, yakni kelompok milisi pemuda skala besar yang berada di bawah naungan IRGC. Basij dikenal sebagai penegak keamanan di berbagai wilayah permukiman Iran.
Sebelum ini, Taeb memimpin divisi intelijen IRGC selama hampir satu setengah dekade hingga akhirnya digantikan secara mendadak pada Juni 2022.
Alasan di balik pencopotannya tidak pernah diungkap secara jelas, meskipun kepergiannya terjadi bersamaan dengan bocornya informasi mengenai dugaan rencana serangan yang menargetkan warga Israel di Turki.
Sejak lama Taeb dikenal dekat dengan Mojtaba Khamenei. Penunjukannya pun memberi sinyal bahwa Mojtaba ingin meredam kemungkinan terulangnya demo masyarakat seperti pada Januari lalu.
"Penunjukan Taeb juga mencerminkan kekhawatiran kalangan penguasa Iran akan munculnya kembali kerusuhan seiring memburuknya situasi ekonomi, di mana Basij kemungkinan besar akan memainkan peran utama dalam menindak protes di masa mendatang," ujar Brodsky.
3. Panglima IRGC Ahmad Vahidi
Sebagai mantan menteri dalam negeri dan menteri pertahanan, Vahidi adalah panglima ketiga bagi pasukan militer ideologis Iran dalam kurun waktu kurang dari setahun.
Ia menggantikan pendahulunya, Mohammad Pakpour, yang gugur pada hari pertama perang, serta Hossein Salami yang gugur dalam perang 12 hari antara Israel vs Iran pada Juni 2025.
Kemungkinan karena alasan inilah Vahidi sangat jarang tampil di hadapan publik. Ia baru muncul secara terbuka saat menghadiri upacara pemakaman mantan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Juli.
Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Vahidi pada 2022 dengan tuduhan bertanggung jawab atas "pelanggaran hak asasi manusia berat" selama gelombang protes di tahun tersebut.
4. Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Ali Abdollahi
Ali Abdollahi sebelumnya memimpin Khatam Al Anbiya, komando militer pusat lintas matra Iran yang bertugas mengoordinasikan operasi. Jabatan barunya memikul tanggung jawab krusial untuk mengoordinasikan hubungan antara angkatan bersenjata reguler dan IRGC.
Abdollahi cukup vokal selama masa perang. Pada Juni, ia sempat memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat kembali menyerang Iran, negara itu "akan menerima balasan yang lebih keras daripada sebelumnya, dan kobaran perang, selain menciptakan ketidakamanan di kawasan, juga akan meluas dan berdampak jauh lebih besar".
(blq/dna)

52 menit yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·