Jakarta, CNN Indonesia --
Sebanyak 15 gajah mati di kebun binatang Taman Nasional Amboseli Kenya, diduga karena keracunan pestisida yang disemprotkan pada tanaman tomat di sekitar taman nasional.
Kenya Wildlife Service (KWS) pekan lalu melaporkan sejumlah gajah yang mati menunjukkan tanda-tanda "kelumpuhan sebagian" yang mengindikasikan keracunan sianida dalam pestisida.
Namun, para pemerhati lingkungan mengatakan kepada BBC bahwa dugaan itu mungkin bukan peristiwa sebenarnya. Para petani di daerah tersebut juga meragukan pestisida sebagai penyebab kematian gajah-gajah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami telah hidup berdampingan dengan satwa liar ini selama beberapa dekade dan belum pernah mengalami hal seperti ini," kata Daniel Nina, yang mewakili beberapa pemilik lahan di daerah tersebut, kepada BBC.
Ladang tomat yang diduga dalang kematian para gajah terletak di kawasan Kimana, bagian dari koridor antara Taman Nasional Amboseli dan Taman Nasional Tsavo di selatan Kenya.
Ini merupakan wilayah luas yang dikenal sebagai ekosistem Amboseli, yang membentang di perbatasan dekat Tanzania tempat lebih dari 2.000 gajah mencari makan dan air.
Pertanian di kawasan ini berkembang pesat berkat aliran air dari Gunung Kilimanjaro di dekatnya.
Kepala dokter hewan dari Dinas Margasatwa Kenya, Dr. Isaac Lekolool, mengatakan bahwa mereka telah menemukan jejak sianida dalam sampel yang diambil dari perut gajah.
Kendati demikian, mereka tidak mengesampingkan kemungkinan peracunan yang disengaja.
"Sulit untuk memastikannya karena kami belum pernah menjumpai kasus seperti ini sebelumnya. Kejadian ini hampir bisa dikatakan kasus yang sangat langka, dan semuanya terjadi dalam kurun waktu sekitar satu bulan," kata Lekolool.
Teori mereka, gajah-gajah tersebut terpapar racun pestisida yang disemprotkan di perkebunan tomat.
"Bisa jadi tidak disengaja. Mungkin orang-orang mencoba mengendalikan hama pada tanaman dan mungkin itu jadi sumbernya," kata Lekokool.
Sebuah laporan tahun 2024 oleh inisiatif keamanan pangan Kenya, Route to Food, menemukan seorang petani di daerah Kimana menggunakan insektisida yang memiliki bahan aktif berupa "senyawa kimia sianida".
Wangunyu Njuguna, penulis laporan tersebut, mengatakan bahwa meskipun ilegal di Kenya, beberapa bahan kimia pertanian beracun diselundupkan melalui perbatasan dengan Tanzania.
"Masalah terbesarnya adalah kita tidak menerapkan standar serupa di wilayah ini," kata Njuguna.
"Tidak ada yang memeriksa apa yang saya beli di perbatasan, jadi saya bisa membeli apa saja dan berjalan melewati perbatasan tanpa ada yang menghentikan saya," lanjutnya.
Zat-zat yang sangat berbahaya umum ditemukan di pertanian Kenya dan beberapa di antaranya telah dikaitkan dengan penyakit serius.
Meskipun peraturan terhadap bahan kimia pertanian ilegal sudah ada, penegakannya lemah dan hanya sedikit perhatian yang diberikan pada bagaimana bahan kimia tersebut dapat memengaruhi hewan.
Paula Kahumbu, pemerhati konservasi satwa liar terkenal, mempertanyakan temuan dari Dinas Satwa Liar Kenya. Sebagai konservasionis yang telah bekerja selama hampir 30 tahun dengan gajah, Kahumbu sangsi bahwa para gajah mati karena pestisida tanaman.
"Beberapa informasi telah dirilis ke publik, tetapi informasi tersebut tidak masuk akal. Gajah-gajah itu harus makan dalam jumlah yang sangat besar untuk bisa mati," ujarnya.
Para ahli lain yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa teori pestisida tidak sesuai dengan perilaku gajah.
Mereka mengatakan gajah jantan lebih cenderung menyerang pertanian karena biasanya mengambil risiko lebih besar daripada gajah betina dan anak gajah. Namun, hanya satu dari 15 gajah yang merupakan gajah jantan dewasa.
Nina, perwakilan pemilik lahan, mengatakan kasus keracunan sebelumnya turut memengaruhi zebra dan antelop, yang juga menyerbu area yang sama.
"Bagaimana mungkin sianida membunuh gajah sementara zebra, antelop, dan wildebeest yang makan rumput bersama-sama tetap hidup?" ucapnya.
Konflik antara manusia dan satwa liar telah berlangsung selama beberapa dekade di komunitas-komunitas yang berdekatan dengan kawasan konservasi di seluruh Kenya. Gajah-gajah biasanya datang dan menyerbu pertanian serta perkebunan di kawasan terdekatnya.
Frank Pope, CEO dari organisasi konservasi Save the Elephants, mengatakan kepada BBC bahwa tekanan pada gajah-gajah di Amboseli bukan lagi soal gading.
"Ini soal penggunaan lahan," katanya.
Lahan pertanian dan penginapan semakin banyak digunakan di sekitar taman yang sebelumnya dihuni oleh gajah. Aktivitas-aktivitas seperti itulah yang menurut Pope memperburuk konflik dengan satwa liar.
"Orang-orang pindah ke daerah-daerah yang memiliki cukup air untuk menanam tanaman, dan tanah yang subur, dan daerah-daerah itulah yang cenderung digunakan oleh gajah," simpulnya.
(blq/dna)

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·