Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Donald Trump memuji Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan karena tidak ikut-ikutan campur tangan dalam perang Amerika Serikat-Iran dengan mendukung Teheran.
Trump bahkan mengklaim Erdogan berpotensi ikut terlibat dalam perang dan berada dipihak Iran karena riwayat tidak menyukai Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia adalah kandidat utama untuk ikut dalam perang melawan Iran, mungkin di pihak Iran, karena dia bukan penggemar besar Israel," kata Trump pada Rabu (1/7).
Meski demikian, Turki tidak pernah menunjukkan indikasi akan bergabung dalam perang antara AS dan Israel melawan Iran. Bahkan, selama konflik berlangsung, Turki sempat menjadi sasaran serangan Iran.
"Saya memintanya untuk tidak ikut campur. Dan dia tidak ikut campur," ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih seperti dikutip Times of Israel.
"Erdogan adalah pemimpin yang hebat, sosok yang sangat kuat. Semua yang pernah saya minta darinya selalu dia lakukan," lanjutnya.
Pernyataan Trump muncul di tengah retorika keras Presiden Erdogan dan sejumlah pejabat tinggi Turki terhadap Israel yang meningkat. Awal bulan ini, Menteri Dalam Negeri Turki bahkan menyerukan agar Israel "membebaskan" Yerusalem.
Beberapa hari kemudian, Erdogan kembali mengecam Israel dengan menyatakan bahwa "agresi" Israel merupakan ancaman bagi seluruh dunia dan harus dihentikan. Ia juga mengklaim serangan Israel di Lebanon dan Suriah turut mengancam keamanan Turki.
Hubungan Israel dan Turki, yang dahulu merupakan salah satu hubungan bilateral terkuat Israel di kawasan Timur Tengah, terus memburuk sejak Erdogan berkuasa. Ketegangan semakin meningkat setelah agresi brutal Israel ke Jalur Gaza berlangsung yang dipicu serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga ditanya apakah pemerintahannya tengah menyiapkan paket besar penjualan persenjataan untuk Turki menjelang KTT NATO mendatang, termasuk pesawat tempur siluman F-35 dan puluhan mesin jet.
"Saya rasa begitu. Lihat saja... Saya mungkin akan melakukan sesuatu yang akan membuatnya sangat senang," kata Trump.
Ketika didesak mengenai syarat agar penjualan pesawat F-35 dapat terealisasi, Trump menyerahkan pertanyaan tersebut kepada Wakil Presiden JD Vance.
"Ada sejumlah persyaratan yang harus kami pastikan telah dipenuhi agar sesuai dengan hukum Amerika Serikat. Presiden telah meminta kami melakukannya sehingga mereka dapat memperoleh F-35. Ini pada dasarnya merupakan persoalan yang melibatkan Kongres," ujar Vance.
Trump kemudian menyela dan menegaskan bahwa persoalan tersebut pada akhirnya akan dapat diselesaikan.
Pesawat tempur F-35 merupakan salah satu pesawat siluman paling canggih di dunia yang dikembangkan Amerika Serikat bersama sejumlah negara anggota NATO melalui program **Joint Strike Fighter**.
Namun, pada 2019, Amerika Serikat mengeluarkan Turki dari program pengembangan F-35 setelah Ankara tetap membeli sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia.
Berdasarkan hukum AS, Turki tidak dapat mengoperasikan atau memiliki sistem S-400 apabila ingin kembali bergabung dalam program F-35.
Meski demikian, Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, mengatakan pada Desember lalu bahwa hubungan baik antara Trump dan Erdogan telah memungkinkan kedua negara menggelar "pembicaraan paling produktif mengenai isu ini dalam hampir satu dekade terakhir."
(rds)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·