Tren Joyriding Lawan Arah di Jalan Tol Bikin Warga Irlandia Marah

38 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Warga Irlandia geram karena unggahan video di tik tok oleh sejumlah anak muda yang sedang melaju melawan arah di jalan tol itu dan sudah terjadi berulang kali. Biasanya mereka melakukannya di malam hari.

Aksi nekad tak terpuji itu telah menelan beberapa nyawa dan melukai banyak orang. Pada Minggu dini hari tanggal 16 Agustus, misalnya, sekelompok anak muda membobol rumah dan mobil di County Kildare, barat daya Dublin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Polisi meyakini mereka adalah pemilik BMW bertopeng yang kemudian mencoba memancing mobil patroli untuk melakukan pengejaran.

Sekitar pukul 3 pagi, mobil BMW tersebut melaju melawan arah di jalan tol M9 yang kemudian menabrak sebuah Hyundai, melukai tiga bersaudara perempuan, Ella Hendricken, Niamh Kinsella, dan Alma Kinsella, yang berusia 30-an dan 20-an, serta putra Alma yang berusia tujuh tahun. Mereka sedang dalam perjalanan ke bandara Dublin untuk menghadiri pernikahan keluarga di Inggris.

Gelombang solidaritas untuk keluarga yang terluka memicu penggalangan dana yang telah mengumpulkan lebih dari €660.000 (£565.000) atau setara Rp13,65 miliar.

Sebelumnya, aksi serupa bahkan menewaskan lima orang di jalan tol. Para pemuda yang meninggal, Joe Carthy, 15 tahun, Kamil Pustkowski, Jack Kennedy, Alex McCarthy, semuanya 17 tahun, dan Jeremy O'Brien, 18 tahun, dikenal oleh polisi.

Tiga di antaranya juga dikenal oleh lembaga kesejahteraan anak Tusla. Beberapa di antaranya sebelumnya telah mengunggah video mengemudi ugal-ugalan, yang dikenal sebagai joyriding.

Saat jelang pemakaman bagi kelima anak muda itu, banyak komentar daring bersifat kasar, sehingga mendorong kerabat untuk menarik pengumuman pemakaman.

Pemakaman pertama, untuk McCarthy, diadakan pada hari Jumat di Athy. Anggota keluarga mengenakan kaus dengan fotonya dan kereta kuda mengangkut peti mati. Polisi memantau dari kejauhan.

The Guardian dalam laporannya menuliskan, video-video yang dibuat oleh para anak muda yang membuat konten joyriding di tik tok itu, sering dimulai dengan kamera yang menyorot dasbor yang bercahaya, bersarung tangan yang menyalakan mesin.

Kamera berputar untuk menunjukkan sosok-sosok dengan wajah bertopeng di kursi belakang, yang juga sedang merekam, dan berputar kembali untuk menunjukkan kaca depan. Di baliknya, tampak pemandangan kota yang gelap.

Mesin bergetar, lampu depan menembus kegelapan malam dan perjalanan dimulai. Pertama menyusuri jalan pinggiran kota, lalu jalan tol sambil melawan arah. Speedometer menunjukkan percepatan, jarumnya bergetar saat mobil menambah kecepatan.

Tujuan akhir tidak penting, karena ini adalah pertunjukan, sebuah pameran keberanian, pelanggaran hukum, dan kenekatan yang menarik penonton ke TikTok dan platform media sosial lainnya dengan kemungkinan dikejar polisi dan, ujungnya kecelakaan dramatis.

Video-video semacam itu adalah bagian dari tren mengerikan yang telah mengejutkan dan membuat marah Irlandia setelah kecelakaan pekan lalu yang menewaskan lima remaja - yang mengemudi melawan arah di jalan tol - dan melukai parah banyak orang.

"Anda harus bertanya: bagaimana lima pemuda bisa saling tertarik dan memutuskan ini adalah ide yang bagus? Di mana letak kesalahan kita sebagai masyarakat?" kata Graham Kavanagh, mantan petugas kepolisian An Garda Síochána, yang dulunya mengejar pencuri mobil.

"Tidak ada orang yang terlahir jahat, tetapi terkadang Anda mungkin bertemu dengan seorang anak semuda enam atau tujuh tahun dan Anda tahu masalah sedang menunggunya."

Mencari kesenangan dan kekaguman dari teman sebaya melalui perilaku seperti itu bukanlah hal baru, tetapi media sosial telah meningkatkan dan memperkuat fenomena tersebut, kata Mary Aiken, seorang profesor psikologi siber forensik di Universitas East London.

"Saya akan menggambarkannya sebagai perilaku hibrida. Saat mengemudikan mobil, mereka secara bersamaan merekam dan mengumpulkan konten untuk diunggah nanti atau disiarkan langsung. Mereka memiliki satu kaki di dunia nyata dan satu kaki di dunia maya."

Dunia maya secara psikologis sangat imersif dan dapat memperkuat kecenderungan untuk mengambil risiko dan mengabaikan konsekuensi, kata Aiken.

"Mereka memikirkan tentang 'like', mereka memikirkan tentang pujian."

(imf/bac)

placeholder

Baca Artikel Selengkapnya