Terpilih sebagai AHWA, Ini Profil KH Anwar Manshur Lirboyo, Teladan Keistiqamahan dalam Mengaji

1 jam yang lalu 2

Jakarta, NU Online

KH M Anwar Manshur kembali terpilih kembali sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Ahad (30/8/2026). Sebelumnya, ia juga terpilih sebagai anggota AHWA pada Muktamar Ke-34 di Lampung.


Kiai Anwar merupakan Pengasuh Pesantren Lirboyo sejak 2014-sekarang. Sebelumnya, Pesantren Lirboyo diasuh dan dipimpin oleh KH A Idris Marzuqi (1985-2014), KH Mahrus Aly (1975-1985), KH Marzuqi Dahlan (1954-1975), dan KH Abdul Karim sebagai pendiri pesantren.


Ia lahir pada 1 Maret 1938 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Ayahnya bernama Kiai Manshur dari Jombang, sementara ibunya, Nyai Salamah, merupakan putri ketiga Kiai Abdul Karim, pendiri Pesantren Lirboyo.


Mengutip tulisan yang berjudul Profil KH Anwar Manshur, Pengasuh Pesantren Lirboyo, Sesepuh NU (https://www.nu.or.id/jatim/profil-kh-anwar-manshur-pengasuh-pesantren-lirboyo-sesepuh-nu-z8sGq) pendidikan dasar agama Kiai Anwar ditempuh di pesantren Tarbiyatunnasyiin milik ayahnya sendiri yang berada di Pacul Gowang, Diwek, Jombang. 


Setelah itu, ia sempat mondok di Tebuireng sampai jenjang tsanawiyah, sebelum kembali dan menetap di Lirboyo untuk merampungkan pendidikannya. Ia kemudian menikah dengan Nyai Umi Kulsum (putri Kiai Mahrus Aly) dikaruniai delapan anak, terdiri dari tiga putra dan lima putri. 


Di luar pesantren, Kiai Anwar turut mengemban sejumlah amanah organisasi. Ia tercatat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2022–2027, menjabat Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur sejak 2015 dan kembali terpilih untuk periode 2024–2029.


Mengutip Lirboyo.net, semasa muda Kiai Anwar sempat menekuni dunia usaha. Setelah menikah di usia 24 tahun, ia berdagang singkong dengan mengirimkannya ke Jakarta. Suatu ketika kiriman tersebut tiba dalam kondisi busuk, sehingga ia mengalami kerugian.


Mengetahui hal itu, ayahnya, KH Manshur Anwar, memanggilnya pulang dan menasihatinya. "Wes toh war ngajio ae. Sampean nyambut gawe gak ngaji blas, ngajio wae (Sudahlah, Wae. Ngaji saja. Kamu kalau kerja nggak ngaji sama sekali. Ngaji saja)," pesan yang intinya meminta Kiai Anwar untuk kembali fokus mengaji.


Sejak nasihat itu, Kiai Anwar menjadikan mengaji sebagai prioritas utama, sementara usaha dagang kecil yang dibuatkan mertuanya, KH Mahrus Aly, di depan kediamannya hanya berjalan sebagai sampingan. Prinsip itu pula yang kemudian ia tanamkan kepada para santrinya. Nasehat yang sering dijadikan pepeling oleh Kiai Anwar kepada santri-santri adalah mengaji. “Bagaimanapun keadaan di rumah, seorang santri harus mengaji. Bekerja hanyalah sebagai perantara," ungkapnya.


Keistiqamahan mengaji dan beribadah

Keistiqamahan Kiai Anwar dalam mengaji dan beribadah menjadi kesaksian para santrinya di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Momen yang sering diceritakan santrinya terjadi ketika ia membacakan kitab Al-Adzkar An-Nawawi sejak pukul tujuh pagi. Salah satunya disampaikan Gus Bagus Ahmadi, santri asal Tulungagung yang pernah menimba ilmu di Lirboyo sejak sekitar 1990-an hingga 2005.


Gus Bagus menuturkan, aktivitas Kiai Anwar berlangsung padat sejak pagi hingga malam. Setiap pagi, beliau mengaji kitab kepada para santri mulai sekitar pukul 07.00 WIB hingga menjelang Zuhur. 


“Pukul 7 pagi Kiai Anwar mulai mengaji kitab sampai masuk waktu zuhur, nonstop tanpa berhenti,” ujar Gus Bagus dikutip dari NU Online pada Sabtu (29/8/2026).


Rutinitas tersebut berlanjut hingga malam dengan mengaji sejumlah kitab setelah salat Tarawih, yang biasanya berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WIB. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 02.00 WIB, Kiai Anwar kembali bangun untuk melaksanakan salat malam dan i'tikaf di Masjid Lawang Songo.


Menurut Gus Bagus, kebiasaan tersebut menjadi salah satu bentuk keteladanan Kiai Anwar dalam menjaga keistiqamahan beribadah sekaligus mengabdikan diri kepada para santri.

Baca Artikel Selengkapnya