TBS Energi catat pendapatan 173 juta dolar AS di semester I-2026

25 menit yang lalu 1
Tahun lalu batu bara masih jadi penyumbang utama pendapatan kami. Hari ini bisnis non-batu bara kami dua kali lipat lebih besar, dan bisnis inilah yang menghasilkan kas

Jakarta (ANTARA) - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan pendapatan konsolidasi senilai 173 juta dolar AS pada semester I-2026, di tengah perseroan sepenuhnya keluar dari bisnis pembangkit listrik tenaga batu bara dan memangkas perdagangan batu bara sekitar dua pertiga sepanjang tahun.

Pendapatan konsolidasi perseroan dikontribusikan dari segmen pengelolaan limbah dan kendaraan listrik sebesar 66,5 persen, sedangkan sebesar 31,4 persen dikontribusikan dari segmen batu bara.

"Tahun lalu batu bara masih jadi penyumbang utama pendapatan kami. Hari ini bisnis non-batu bara kami dua kali lipat lebih besar, dan bisnis inilah yang menghasilkan kas. Inilah transisi yang kami janjikan, dan kuartal kedua menunjukkan kami berada di jalur yang benar untuk bertransformasi menjadi bisnis infrastruktur berkelanjutan," ujar Direktur dan Chief Financial Officer (CFO) TBS, Juli Oktarina sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Juli mengatakan bahwa transformasi portofolio menuju bisnis infrastruktur berkelanjutan saat ini tercermin dalam bauran pendapatan, margin dan kemampuan perseroan menghasilkan kas.

"Pergeseran ini sudah terlihat pada kuartal pertama dan kontribusi sektor non-batu bara bertambah pada kuartal kedua, menandakan perubahan yang bersifat struktural, bukan sekadar musiman," ujar Juli.

Adapun, segmen pengelolaan limbah perseroan, di antaranya Cora Environment (Singapura) sebesar 752.000 ton limbah dikelola dengan tingkat ketersediaan pabrik 86 persen

Kemudian, Asia Medical Enviro Services (Singapura) sebesar 2.100 ton limbah dikelola dengan tingkat ketersediaan pabrik 90 persen, dan ARAH Environmental (Indonesia) sebesar 5.800 ton limbah dikelola dengan tingkat ketersediaan pabrik 84 persen.

Per 30 Juni 2026, perseroan mencattakan EBITDA konsolidasi yang tumbuh 23,7 persen year on year (yoy), sementara total aset menurun 3,6 persen (yoy) yang menunjukkan perseroan menghasilkan laba lebih besar dari basis aset yang lebih kecil.

Pengelolaan limbah menyumbang 92 persen dari EBITDA konsolidasi perseroan, dengan pendapatan ekosistem kendaraan listrik hampir tiga kali lipat secara tahunan.

Baca juga: Fokus ekspansi, TOBA pastikan tak ikut di "waste to energy" Danantara

Per 30 Juni 2026, perseroan mencatatkan laba kotor konsolidasi senilai 28,2 juta dolar AS, dibandingkan sebesar 13,9 juta dolar AS pada periode sama tahun sebelumnya.

Kenaikan laba kotor perseroan ditopang oleh penurunan beban pokok pendapatan sebesar 13,5 juta dolar AS, sehingga margin kotor naik dari 8,1 persen menjadi 16,3 persen.

Perseroan mencatatkan rugi bersih yang menyusut 83 persen (yoy) per 30 Juni 2026, seiring tidak berulangnya kerugian divestasi anak usaha

Meski masih mencatat rugi, Juli menjelaskan kerugian perseroan berasal dari langkah-langkah yang diperlukan untuk transisi bisnis, diantaranya rugi non-kas berasal dari depresiasi dan amortisasi terkait akuisisi Cora Environment.

Kemudian, juga rugi berbasis kas berasal dari biaya pendanaan aksi merger dan akuisisi untuk transisi bisnis menuju infrastruktur berkelanjutan serta pengembangan bisnis kendaraan listrik

Dari sisi neraca, posisi kas perseroan tercatat senilai 94,7 juta dolar AS per 30 Juni 2026. Utang bank jangka pendek menurun 30,9 persen (yoy) dan total liabilitas jangka pendek menurun 13,5 persen (yoy).

Sementara itu, arus kas operasi tercatat berbalik dari negatif 31,6 juta dolar AS menjadi positif 14,6 juta dolar AS per 30 Juni 2026.

Kemudian, refinancing obligasi Rupiah 2026 melalui PUB II dan PUB III memindahkan 27,5 juta dolar AS dari jatuh tempo jangka pendek, sehingga memperpanjang profil jatuh tempo utang perseroan.

Kemudian, tingkat leverage membaik, dengan rasio utang bersih terhadap EBITDA sebesar 5,4 kali dibanding 5,6 kali pada keseluruhan tahun 2025.

"Kami punya likuiditas untuk mendanai rencana pertumbuhan dan tetap berada di jalur target netralitas karbon 2030. Bisnis-bisnis baru kami sudah menghasilkan kas, utang jangka pendek kami turun signifikan, dan neraca kami memberi ruang untuk terus berinvestasi. Fondasinya sudah ada, dan kami akan terus membangun di atasnya," ujar Juli.

Baca juga: TBS Energi siapkan Rp2,56 T perkuat bisnis "waste to energy" di ASEAN

Baca juga: TBS raih pendapatan 172 juta dolar AS di tengah transisi energi hijau

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya