Tak Lagi Nurut Trump, Bos Senat Berani Bilang Tidak, Disebut Sesabar Nabi

2 jam yang lalu 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemimpin Mayoritas Senat Amerika Serikat, John Thune, mulai berani berseberangan dengan Presiden Donald Trump. Dalam beberapa bulan terakhir, politikus Partai Republik itu berkali-kali menolak memenuhi berbagai tuntutan Trump, mulai dari memaksakan pengesahan undang-undang pemilu hingga mengubah aturan Senat. Sikap Thune itu disebut membuat Trump semakin kesal.

Menurut laporan CNN yang mengutip sejumlah sumber di internal Partai Republik, Trump mulai frustrasi karena terlalu sering mendengar penolakan dari Thune. Presiden disebut menginginkan pemimpin mayoritas Senat itu lebih agresif memperjuangkan agenda-agendanya, tetapi Thune justru berulang kali menjelaskan bahwa usulan-usulan tersebut tidak memiliki dukungan suara yang cukup untuk disahkan.

Perbedaan sikap paling mencolok terjadi pada pembahasan rancangan undang-undang reformasi pemilu yang menjadi salah satu prioritas Trump menjelang pemilu sela November mendatang. Trump bahkan mendorong penghapusan aturan filibuster agar RUU tersebut bisa disahkan hanya dengan mayoritas sederhana.

Namun Thune menolak mengikuti keinginan presiden. Baik dalam rapat tertutup maupun pernyataan terbuka, ia berkali-kali menegaskan bahwa jumlah suara di Senat memang tidak mencukupi untuk meloloskan rancangan undang-undang tersebut.

Thune juga tidak memenuhi desakan Trump untuk memecat parliamentarian Senat, pejabat nonpartisan yang bertugas menafsirkan aturan persidangan. Baginya, mengubah aturan hanya demi memenuhi kepentingan politik jangka pendek justru dapat merusak kredibilitas Senat sebagai lembaga legislatif.

Dalam berbagai percakapan dengan para sekutunya, Trump disebut mengeluhkan bahwa Thune tidak cukup keras memperjuangkan agenda Gedung Putih. Presiden juga dikabarkan mulai lelah mendengar alasan yang sama, yakni bahwa mayoritas tipis Partai Republik membuat sejumlah keinginannya mustahil diwujudkan.

Meski memicu kekesalan Trump, sikap Thune justru menuai dukungan dari banyak senator Republik. Mereka menilai pemimpin mayoritas itu hanya menyampaikan kenyataan politik yang memang terjadi di Senat.

"John Thune bersalah hanya karena mengatakan kebenaran kepada presiden, yaitu memang tidak ada cukup suara," kata Senator John Cornyn dari Texas.

Senator Thom Tillis bahkan memberikan pujian yang lebih kuat. Menurut senator yang akan pensiun itu, Thune memiliki kesabaran luar biasa dalam menghadapi berbagai tekanan politik dari Trump.

"John Thune adalah pemimpin yang luar biasa. Dia memiliki kesabaran seperti Nabi Ayub," ujar Tillis.

Pernyataan tersebut muncul ketika Thune harus terus menjaga keseimbangan antara loyalitas kepada presiden dari partainya sendiri dan tanggung jawab memimpin Senat yang mayoritas Partai Republiknya sangat tipis.

Baca Artikel Selengkapnya