SMF proyeksi BI-Rate bisa sentuh 6,75 persen pada akhir tahun ini

1 bulan yang lalu 27
BI-Rate kemungkinan besar, kalau berdasarkan proyeksi kami, di akhir tahun 2026 ini, itu akan mencapai posisi di 6,75 persen

Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Martin Daniel Siyaranamual mengatakan pihaknya memproyeksikan BI-Rate pada akhir tahun 2026 mencapai posisi 6,75 persen, dan secara moderat bisa menyentuh 6,25 persen.

“BI-Rate kemungkinan besar, kalau berdasarkan proyeksi kami, di akhir tahun 2026 ini, itu akan mencapai posisi di 6,75 (persen),” ucapnya dalam agenda Konferensi Pers Kinerja Semester 1 2026 PT SMF (Persero) di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, upaya untuk mengurangi tekanan nilai tukar rupiah ialah BI harus mengambil posisi yang agresif dengan menaikkan BI-Rate. Dengan begitu, investor dari luar negeri dapat melihat bahwa berinvestasi di Indonesia lebih menguntungkan seiring kenaikan permintaan penukaran dolar AS terhadap rupiah.

Belanja pemerintah yang cukup tinggi dan cadangan devisa (cadev) yang tak terlalu memadai seiring tren penurunan di awal tahun menjadi alasan mengapa BI harus lebih agresif.

Dampak dari potensi kenaikan suku bunga adalah rate Kredit Perumahan Rakyat (KPR) hingga cost of fund yang lebih mahal.

“Implikasinya apa? Implikasinya perjalanan bisnis PT SMF menghadapi tantangan, tapi itu tidak bisa kami hindari. Kenapa? Karena kondisinya memang saat ini, Bank Indonesia harus bersikap lebih agresif,” ungkap dia.

Di satu sisi otoritas moneter harus bersikap agresif, lanjutnya, di sisi lain imbal hasil dari Surat Utang Negara (SUN) cenderung mengalami kenaikan, diiringi dengan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) Martin menganggap hal yang paling memungkinkan dilakukan oleh otoritas moneter ialah meningkatkan utang, yang berarti harus menawarkan imbal hasil lebih menarik atau agresif lagi.

Kenaikan imbal hasil SUN disebut akan berdampak terhadap seluruh lembaga pembiayaan industri jasa keuangan, mengingat referensi dari setiap penerbitan obligasi yaitu SUN, termasuk SMF.

Baca juga: PT SMF catat akumulasi penyaluran pembiayaan capai Rp141,61 triliun

Baca juga: SMF salurkan dana PMN 2025 sebesar Rp6,68 triliun untuk FLPP

“SMF pada saat menerbitkan obligasi, referensinya adalah Surat Utang Negara. Nggak mungkin kami di bawah mereka, pasti kami akan naik. Kalau mereka ikut naik, yang lain pasti akan lebih naik lagi. Itu implikasinya. Itulah yang menyebabkan tantangan tersendiri,” kata Martin.

Dalam paparannya, disampaikan bahwa pasar keuangan domestik masih berada dalam fase penyesuaian saat konflik di Timur Tengah dan evaluasi aksesibilitas pasar oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Sepanjang Maret hingga 17 Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi dari kisaran 8 ribu menjadi 6.176, sejalan dengan meningkatnya tekanan jual investor asing dan sentimen risk-off di pasar global.

Pada saat yang sama, nilai tukar Rupiah (JISDOR) terdepresiasi hingga sempat menyentuh Rp18.200 per dolar AS sebelum menguat kembali ke Rp17.944 per dolar AS pada 17 Juli 2026.

Pergerakan tersebut mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap arus modal asing, termasuk respons investor terhadap hasil reviu MSCI yang menyoroti aspek aksesibilitas dan efisiensi pasar modal Indonesia.

Kendati demikian, stabilisasi rupiah dan rebound IHSG pada Juni mengindikasikan mulai membaiknya persepsi pelaku pasar seiring penguatan respons kebijakan otoritas serta meredanya tekanan eksternal.

Dinamika dan eskalasi tekanan eksternal terefleksi pula pada tren penurunan cadangan devisa Indonesia di awal tahun 2026 yang mengalami penurunan dari 154,58 miliar dolar AS per Januari 2026 menjadi 145,6 miliar dolar AS per Juni 2026.

Penurunan cadev dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia (BI) melalui intervensi pasar valas di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Cadev sendiri bertindak sebagai jangkar yang memberikan keleluasaan bagi BI untuk melakukan intervensi di pasar guna meredam volatilitas nilai tukar dan memastikan kecukupan pembiayaan impor strategis di tengah gejolak.

Adapun arah kebijakan moneter BI menunjukkan pendekatan yang semakin berhati-hati di tengah meningkatnya tekanan eksternal dan tingginya volatilitas pasar keuangan global.

Sebelumnya, BI telah menurunkan BI-Rate ke level 4,75 persen pada akhir 2025, dan dijaga tetap di level 4,75 persen sampai April 2026. Namun, melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada bulan Mei dan Juni, bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis points (bps), sehingga BI-Rate sampai dengan posisi Juni 2026 berada pada angka 5,75 persen.

Kebijakan tersebut mencerminkan fokus BI yang meningkat dalam menjaga nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan signifikan, dan meningkatnya risiko capital outflow dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Divisi Riset Ekonomi (DRE) SMF memproyeksikan bahwa BI-Rate akan mengalami kenaikan lagi masing-masing sebesar 25 bps maksimal sebanyak empat kali hingga akhir tahun 2026.

Baca juga: BI: Ketidakpastian global yang naik tuntut penguatan respons kebijakan

Baca juga: BI putuskan suku bunga acuan tetap 5,75 persen pada RDG Juli 2026

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya