Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump, pada KTT para pemimpin G20 di Osaka, Jepang, 29 Juni 2019.
REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH – Arab Saudi menegaskan tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel tanpa adanya “jalur yang tidak dapat diputar balik” menuju pembentukan negara Palestina merdeka. Sikap itu disampaikan sumber Saudi kepada media internasional setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak sejumlah negara Muslim dan Arab segera bergabung dalam perjanjian normalisasi Abraham Accords sebagai syarat pascagencatan senjata dengan Iran.
Trump sebelumnya meminta Arab Saudi, Qatar, Mesir, Yordania, Turki, dan Pakistan untuk “segera” menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Desakan itu disampaikan di tengah upaya Washington merundingkan kesepakatan baru dengan Iran.
Namun, sumber Saudi menegaskan posisi Riyadh tidak berubah. Arab Saudi hanya bersedia membuka normalisasi apabila terdapat proses yang jelas dan tidak bisa dibatalkan menuju berdirinya negara Palestina yang merdeka.
Pernyataan tersebut kembali menegaskan posisi resmi Kerajaan Saudi dalam beberapa tahun terakhir, yakni bahwa perdamaian dengan Israel tidak dapat dipisahkan dari penyelesaian isu Palestina.
Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan sebelumnya juga pernah menegaskan normalisasi tidak akan terjadi tanpa jalan menuju negara Palestina. “Stabilitas hanya bisa tercapai melalui penyelesaian persoalan Palestina,” kata Faisal dalam wawancara yang dikutip Anadolu Agency pada 2024.
Sikap Riyadh itu muncul ketika pemerintahan Trump kembali mendorong perluasan Abraham Accords, perjanjian normalisasi yang sebelumnya melibatkan Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan.
Perjanjian Abraham yang Kontroversial
Dalam laporan Times of Israel, Trump disebut menjadikan perluasan Abraham Accords sebagai bagian penting dari strategi diplomasi Timur Tengahnya. Ia juga disebut meminta negara-negara Muslim yang terlibat dalam pembicaraan terkait Iran untuk ikut menormalisasi hubungan dengan Israel.
Meski demikian, perang Gaza dan meningkatnya tekanan publik di dunia Arab membuat proses normalisasi Saudi-Israel semakin sulit diwujudkan.
Sejumlah analis menilai Arab Saudi menghadapi tekanan besar sebagai penjaga dua kota suci umat Islam, Makkah dan Madinah. Normalisasi dengan Israel tanpa solusi konkret bagi Palestina dinilai dapat memicu kemarahan publik di dunia Islam.
Hubungan diplomatik resmi antara Arab Saudi dan Israel hingga kini belum pernah terjalin. Riyadh selama ini menegaskan pembentukan negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota merupakan syarat utama sebelum adanya hubungan resmi dengan Israel.

1 bulan yang lalu
30






English (US) ·
Indonesian (ID) ·