Kiai Basroh mengajak Saro, abdi ndalem-nya, masuk ke ruang transit pengajian. Saro bertemu dengan kiai-kiai masyhur. Dengan berjalan membungkuk, ia mencium tangan kiai-kiai besar itu satu persatu. Ia merasa kecil. Sembari membenarkan posisi peci hitamnya, ia berjalan mundur ke dekat pintu. Ia melihat sekeliling ruang transit termasuk karpet permadani yang ia duduki sekarang ini. Semua orang di dalam ruang transit memakai pakaian putih dan bersih.
“Kurasa hanya aku yang hina di sini," batinnya. Itulah yang membuatnya berhenti memutar kepala dan menunduk untuk seterusnya. Saro mati kutu di hadapan para kiai yang sedang berbincang.
“Akhir-akhir ini muncul fenomena dakwah yang aneh-aneh, Kiai," Kiai Basroh memulai pembicaraan.
“Memang sudah zaman fitnah, zamannya medsos. Jadi apa yang dilihat menarik, sudah pasti mendapat perhatian banyak umat," sahut Ustadz Aju yang sekarang sudah menjadi selebgram.
“Bayangkan, bahkan orang majnun macam Pak Giman, sekarang jauh lebih populer ketimbang Kiai Basroh!” canda Ustazz Udin yang langsung disambut tawa meriah.
Saro ikut tertawa kecil karena ia tahu maksud Ustadz Udin. Masalah popularitas, memang Pak Giman tiada tanding di era medsos. Bagaimana tidak, ia bahkan mengatakan bisa menyuruh malaikat maut untuk mencabut nyawa para pembencinya. Tapi anehnya ia memperoleh banyak pengikut.
Saat-saat seperti inilah, Saro merasa bahwa dirinya kini sedang berada dalam puncak pengabdian. Ia sangat senang dan bangga menjadi abdi ndale Kiai Basroh. Dalam jalan ini, ia sampai dipertemukan dengan kiai-kiai masyhur. “Mungkin inilah salah satu taman surga,” pikir Saro, sepulang dari pengajian. Bangga luar biasa.
Saro takkan memperoleh makam seperti ini kalau sedari awal dia menolak tawaran Arsyila, calon istrinya. Arsyila menangkap keraguan Saro, karena ia merasa menjadi seorang fakir, terutama fakir ilmu, sehingga belum bisa meminangnya. Maka Kiai Basroh adalah tujuan yang tepat untuk mendidik Saro sebagai calon suami yang bertanggung jawab. Saro merasa berhutang kepada Arsyila.
Tapi kini, kesibukan Saro hanya melihat tembok ndalem kiainya yang bersebelahan persis dengan kamar para abdi ndalem. Napasnya teratur. Sesekali ia mengembuskannya dengan berat. Kedipan matanya hanya tiga kali tiap menit. Dia bahkan tidak mengindahkan suara dengkuran kawan-kawan abdi ndalem lainnya. Satu-satunya yang bisa ia dengar hanya suara napasnya yang dalam dan berat.
Jika santri memiliki kebimbangan, jalan keluarnya adalah shalat istikharah. Tapi Saro tidak. Ia justru takut dan menghindar dari shalat itu. Ia dibayang-bayangi hasil istikharahnya sendiri yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dalam kekalutannya, Saro teringat di saku bajunya ada surat kecil dari Zara, abdi ndalem putri. Saro tersenyum tipis. Dua hari lalu, seusai Zara masak, ia minta tolong kepada Saro untuk mengantar masakannya ke ndalem Kiai Basroh. Interaksi mereka dibatasi oleh pintu dapur yang hanya setinggi satu meter. Saro baru menyadari ada surat yang tertempel di bawah nampan yang ia bawa. Nyata itu surat untuknya dari Zara.
Baru kali ini ia punya kesempatan untuk membukanya. Isinya hanya tulisan tangan “Terima kasih”. Sesingkat apapun, pesan ini punya makna mendalam bagi Saro.
Beruntunglah ia, karena suratnya belum masuk ember cucian bersama bajunya. Keberuntungan berpihak pada mereka yang belum mencuci baju dan sarungnya selama tiga hari tiga malam. Bukan tanpa sebab. Nama panggilan Saro sendiri berasal dari “Sarung Loro”. Harta yang dia punya di pondok memang hanya dua sarung itu. Lainnya meminjam kepada kawannya. Kadang gasab. Ia tersentak setelah mendengar suara sandal terompah Kiai Basroh. Pertanda akan dikumandangkan azan subuh.
Tiap tidak ada kegiatan, waktu Saro diisi dengan lamunan bebas seperti biasanya. Di saat kesenangan menghampirinya, bayangan keluarga Arsyil selalu hadir menyertai. Ia terus merasa rendah dan pecundang. Terkadang, ia hadapi ini dengan tangisan.
“Bocah tolol!” Seru Pacin, Pria Bacin, kawan abdi ndalemnya yang sering melihat Saro tidak hidup, juga tidak mati. “Kamu ini semenjak jadi tolol, nggak pernah ngaji lagi. Laki-laki macam apa yang menangis karena ketidaktegasan keputusannya sendiri? Sudah, ngaji Abah dulu!” Perintah Pacin sembari menyelepet Saro dengan sajadah tipisnya.
Sepuluh halaman kitab Riyadush Shalihin milik Saro kosong melompong tanpa coretan pegon. Dia harus menambal isi kitab dengan segera sebelum akhir semester. Kiai Basroh memulai pengajiannya dengan kisah penyusun kitabnya, Imam Nawawi. Sebenarnya kisah ini sudah disampaikan waktu awal ngaji kitab. Karena ada pembahasan yang berkaitan dengan menikah, maka Kiai Basroh merasa perlu untuk mengulang lagi kisahnya.
“Ada beberapa ulama yang memang hidupnya diabdikan untuk mengaji, membaca dan menulis kitab. Ilmu adalah segalanya bagi mereka. Keputusan melajang ini diambil bukan tanpa alasan. Kita terlampau jauh untuk meniru mereka dalam hal ini. Maka tetaplah menikah jika sudah siap!” Gelak tawa mewarnai pengajian pagi itu.
Pacin langsung melirik Saro yang sedang senyam-senyum sendiri seolah menang karena mendapatkan wejangan sekaligus hiburan dari Kiai Basroh. Tapi tak selang lama, Saro menjadi bingung kembali. Ia jelas tak ingin melepaskan keduanya, juga tak mungkin mengambil keduanya! Ia kembali tidak fokus mengaji. Kiai Basroh sebenarnya tahu permasalahan santrinya itu. Ia sengaja tidak membantunya karena keputusan seperti itu, jalan keluarnya enteng saja sebenarnya. Tarbiyah Kiai Basroh ini bukan sekali dua kali diterapkan ke santrinya. Hanya mengamati dari jauh.
Kembali ke kamar, Saro langsung memulai ritualnya kembali. Tapi kali ini, ada kemantapan di benaknya. Arsyila jelas bukan perempuan biasa. Tapi kurang luar biasa apa perempuan macam Zara? Dalam segala pertimbangan, ia harus memutuskan salah satunya.
Berkali-kali doa dan shalat, hasilnya tetap sama. Matanya semakin merah karena kurang tidur. Ia kembali pada kekalutannya. Dalam kondisi seperti ini, banyak hal yang tidak terurus. Soal shalat istikharah, ia kadang teringat kisah Imam Malik bin Anas. Tatkala ayahnya menikahi ibunya, tak disangka ibunya adalah perempuan berkulit hitam. Ayahnya merasa kurang puas. Ibunya sadar mengenai hal ini, sampai pada akhirnya, ibunya menjelaskan ke ayahnya, “Bagaimana mungkin engkau merasa tidak puas dari keputusan Tuhanmu? Sedangkan engkau selama ini telah memohon banyak kepada-Nya lewat doa dan shalatmu.” Ayahnya tiba-tiba menangis, tersenyum, lalu mulai menggauli istrinya itu. Maka kelak, lahirlah ulama besar di zamannya!
Anehnya, Saro tidak terinspirasi dari kisah tersebut. Ia malah mencoba melawan takdir dari tanda-tanda di mimpinya. Ia mulai meyakinkan diri bahwa, Zara tidak akan bertemu dengannya tanpa wasilah dari Arsyila. Pecundang macam apa yang ketika ia sudah diberi banyak jalan sampai pada puncak kemewahan, tapi ia mengingkari asal-usulnya? Dia sudah membulatkan tekad, bahwa apapun yang terjadi, itu atas dasar keputusannya pribadi. Ia harus mengambil segala risiko ini. Maka bertawakkallah dia, menunduk, mengaku menjadi hamba yang zalim terhadap Tuhannya sendiri. Ia memohon ampun. Dalam keyakinannya pula, ia mengaku telah sejalan dengan titah Rasul-Nya.
“Ya Rabb, jika hamba salah jalan di hari kemudian, maka berikanlah jalan lurus kepada hamba yang hina dina ini.”
Ia mencoba menentang takdir dari pertanda, lalu mengambil takdir lain yang ia yakini tak kalah benarnya.
Saeful Huda, pengajar Sejarah di SMA Islam Andalusia Kebasen, Banyumas. Ia juga menjadi pengajar di Mahad Aly Andalusia, Kebasen, Banyumas.

2 jam yang lalu
2




English (US) ·
Indonesian (ID) ·