REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Persaingan militer China dan Amerika Serikat memasuki babak baru di udara. Setelah jet siluman J-20 dan F-35 kerap dibandingkan, kini perhatian analis pertahanan tertuju pada dua rudal udara-ke-udara jarak jauh: PL-16 milik China dan AIM-260 Joint Advanced Tactical Missile (JATM) milik Amerika Serikat.
Rudal PL-16 disebut-sebut menjadi jawaban China terhadap AIM-260 yang dikembangkan Lockheed Martin untuk militer AS. PL-16 berpotensi menyaingi rudal terbaru AS tersebut karena jarak tempuhnya yang lebih jauh dan teknologi pendorong tambahan pada fase akhir penerbangan.
PL-16 diperkirakan memiliki jarak tembak sekitar 200 hingga 300 kilometer. Rudal itu juga disebut menggunakan teknologi dual-pulse atau variable-thrust rocket motor, yang memungkinkan dorongan kedua saat rudal mendekati sasaran.
Teknologi tersebut penting dalam pertempuran udara modern. Pada jarak sangat jauh, rudal tidak hanya membutuhkan kecepatan awal, tetapi juga energi yang cukup pada fase akhir agar tetap mampu bermanuver mengejar target.
Analis Australian Strategic Policy Institute Malcolm Davis, sebagaimana dikutip Defense News, mengatakan PL-16 dirancang untuk mengincar pesawat bernilai tinggi seperti pesawat peringatan dini, tanker pengisian bahan bakar udara, dan pesawat pengintai. Menurut dia, strategi Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China jelas, yakni melumpuhkan unsur pendukung utama kekuatan udara AS dan sekutunya.
“JATM adalah respons terhadap PL-15,” kata Davis kepada Defense News beberapa waktu lalu, merujuk pada rudal udara-ke-udara China generasi sebelumnya. Ia menilai kini terjadi perlombaan menarik antara China dan AS dalam pengembangan rudal udara-ke-udara jarak jauh di luar jangkauan visual.
Ancaman PL-16 juga dinilai dapat terasa serius bagi pesawat besar yang tidak terlalu lincah. Enrico Cau, peneliti Taiwan Strategy Research Association, mengatakan kepada Defense News bahwa PL-16 bisa menjadi “sakit kepala” bagi pembom besar seperti B-52 jika berada dalam jangkauannya.
Keunggulan lain PL-16 disebut terletak pada ukuran. Huang Chung-ting, peneliti Institute for National Defense and Security Research di Taipei, mengatakan J-20 yang sebelumnya membawa empat rudal PL-15 di ruang senjata internal berpotensi membawa hingga enam PL-16. Jika benar, hal itu membuat J-20 memiliki kapasitas serangan lebih besar tanpa mengorbankan karakter silumannya.
Namun, laporan mengenai PL-16 masih harus dibaca dengan hati-hati. Beijing belum mengonfirmasi secara resmi pengembangan maupun spesifikasi rudal tersebut. Sejumlah media pertahanan menyebut analis dan media sebagian besar masih mengandalkan informasi bocoran, termasuk slide presentasi yang beredar dari seminar penerbangan militer China.

1 jam yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·