Qasidah “Natwasallu bil Hubabah” tentang Kemuliaan Sayyidah Khadijah

1 jam yang lalu 2

Salah satu sosok yang paling berjasa dalam menyebarkan agama Islam di muka bumi adalah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid. Ia tidak hanya istri pertama Rasulullah, tetapi juga sandaran hati sang Nabi saat wahyu pertama turun, penyokong dakwah dengan seluruh hartanya di masa-masa yang sangat sulit, serta wanita pertama yang mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum siapa pun dari kalangan sahabat lainnya.

Tanpa keteguhan dan pengorbanannya, perjalanan awal Islam mungkin akan berjalan lebih berat. Maka, tidaklah berlebihan jika para pecinta Rasulullah kemudian mengabadikan namanya dalam bait-bait nasyid yang penuh rindu kepadanya, dan salah satunya adalah lagu “Natwasallu bil Hubabah” yang akan kita ulas berikut ini.

Lagu ini sangat masyhur di Indonesia, bahkan sudah dilantunkan oleh berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, majelis shalawat, hingga penyanyi religi ternama. Dan di antaranya adalah Ustadzah Halimah Alaydrus, AI Khadijah, Nissa Sabyan, Muhammad Hadi Assegaf, dan lainnya.

Lirik Lagu, Arti, dan Penyusunnya

Sebelum kita mengulas lebih jauh makna-makna yang terkandung dalam bait-bait lagu ini, berikut akan penulis sajikan terlebih dahulu teks asli lagu dalam bahasa Arab dan terjemahan artinya dalam bahasa Indonesia:

نَتَوَسَّلُ بِالْحُبَابَةِ وَالْبَتُولِ الْمُسْتَطَابَةْ \\\ وَالنَّبِي ثُمَّ الصَّحَابَةْ فَعَسَىٰ دَعْوَةْ مُجَابَةْ
أَعْظَمُ الزَّوْجَاتِ قَدْرًا قَدْ تَلَقَّتْ مِنْهُ أَمْرًا \\\ خَطَبَتْ أَحْمَدَ بِكْرًا غَنِمَتْ مِنْهُ شَبَابَةْ
مَالُهَا قَدْ أَنْفَقَتْهُ وَلِطَهَ وَهَبَتْهُ \\\ دَثَّرَتْهُ زَمَّلَتْهُ هَوَّنَتْ عَنْهُ صِعَابَةْ
قَدْ حَبَاهَا اللهُ بُشْرَى وَعَلَتْ ذِكْرًا وَفَخْرًا \\\ سَعِدَتْ دُنْيًا وَأُخْرَى أَسْلَمَتْ قَبْلَ الصَّحَابَةْ
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ قَصْرَا لِخَدِيْجَة وَهيَ أَحْرَى \\\ وَعَطَايَا اللهِ تَتْرَى فَوْقَهَا مِثْلَ السَّحَابَةْ
رَبَّنَا نَسْأَلُكْ نَظْرَةْ تَنْتَفِي عَنَّا الْمَضَرَّةْ \\\ وَتُعَجِّلْ بِالْمَسَرَّةْ لَاتُرَى فِيْنَا كَأَبَةْ
أَرِنَا وَجْهَ الرَّسُوْلِ وَخَدِيْجَة وَالْبَتُوْلِ \\\ وَبَنِي الزَّهْرَا الْفُحُوْلِ رَبِّ عَجِّلْ بِالْإِجَابَةْ

Artinya, “Kami bertawassul dengan perempuan tercinta (Khadijah) dan wanita suci yang mulia (Fatimah) /// dengan Nabi lalu para sahabat, semoga doa kami dikabulkan.

 
Ia adalah istri yang paling agung kedudukannya, yang menerima amanah darinya /// Ia meminang Ahmad saat masih lajang, lalu memperoleh masa mudanya bersamanya.

Seluruh hartanya telah ia infakkan, dan dirinya ia persembahkan untuk Nabi Thaha (Muhammad) /// Ia menyelimutinya, menenangkannya, dan meringankan kesulitan yang beliau hadapi.

 
Allah telah memberinya kabar gembira, tinggi kemuliaan dan kebanggaannya /// Ia berbahagia di dunia dan akhirat karena masuk Islam sebelum para sahabat.

 
Sesungguhnya di surga terdapat istana untuk Khadijah, dan dialah yang paling berhak atasnya /// Karunia Allah terus tercurah kepadanya laksana awan yang menaungi.

Ya Tuhan, kami memohon kepada-Mu untuk pandangan yang akan menghilangkan semua bahaya /// dan mempercepat semua yang membawa kegembiraan sehingga tidak ada kesedihan yang tersisa bagi kami.

 
Perlihatkan kepada kami wajah Rasulullah, Khadijah, dan Fatimah (al-Batul) /// dan anak-anak Fatimah yang bersinar, Ya Tuhan segerakanlah untuk diijabah.”

Sebagaimana penulis kutip dalam penelitian berjudul “Al-Usthurah fi Qashidah Natawassalu bil Hubabah”, qashidah ini merupakan karya dari Abdul Qadir bin Salim al-Khird, seorang ulama muslim dari Yaman yang kemudian berpindah dan tumbuh di Hijaz. Penelitian tersebut ditulis oleh Ir. Buwana sebagai skripsi pada Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. https://repository.radenfatah.ac.id/48535/

Pernyataan bahwa qashidah ini merupakan karya Abdul Qadir bin Salim al-Khird juga dibenarkan dan dimuat pada laman Qasida Collection, yang mencatat nama Abdul Qadir al-Khird sebagai penyusun asli qashidah ini.

Makna Lagu “Natawassal Bil Hubabah”

Qashidah ini pada hakikatnya disusun sebagai ungkapan rasa cinta yang mendalam sekaligus sebagai tawasul, dengan menjadikan Sayyidah Khadijah, Sayyidah Fatimah, Rasulullah, dan para sahabat sebagai wasilah untuk memanjatkan doa kepada Allah swt.

Dalam tradisi di kalangan Nahdliyyin, tawasul merupakan amalan yang sangat dikenal dan diamalkan secara luas sebagai bentuk mengambil perantara orang-orang saleh yang dicintai Allah agar doa lebih mudah dikabulkan. Dalil bertawasul sangat kuat dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah: 35).

Kemudian, pemilihan sosok al-Hubabah atau Sayyidah Khadijah sebagai pokok utama dalam qashidah ini tentu bukan tanpa alasan. Sebab Khadijah memiliki peran yang luar biasa besar dalam sejarah perjalanan Islam. 

Ketika Rasulullah pulang dalam keadaan sangat gugup, cemas, dan penuh kegelisahan setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Khadijahlah orang pertama yang memeluk, menenangkan, dan meyakinkan hati Nabi, hingga menyelimutinya dengan lembut.

Masih terekam kuat pula dalam ingatan, dan diabadikan dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah, bahwa rasa gelisah Rasulullah mulai mereda, Nabi menceritakan semua peristiwa yang baru saja ia alami di Gua Hira. Dengan suara bergetar, Nabi berkata, “Aku khawatir tentang diriku, wahai Khadijah.” Mendengar itu, Khadijah menatap suaminya dengan penuh keyakinan dan berkata:

كَلاَّ وَاللهِ! مَا يُخْزِيكَ اللهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِين عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

Artinya, “Sekali-kali tidak, demi Allah! Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah orang yang selalu menyambung tali silaturahmi, menanggung beban orang lain, memberi kepada yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong dalam kebenaran.” (Ramadhan al-Buthi, Fiqhus Sirah an-Nabawiyyah, [Beirut: Darul Fikr, 1426 H], halaman 62).

Oleh sebab itu, sangat tidak berlebihan jika pada bait kedua qashidah di atas secara tegas dinyatakan bahwa Khadijah adalah “istri yang paling agung kedudukannya”, karena di antara seluruh istri Rasulullah, Khadijah-lah yang telah memberikan pengabdian, kesetiaan, dan pengorbanan total, baik berupa jiwa, raga, maupun seluruh kekayaan yang dimilikinya, demi tegaknya risalah suci Nabi Muhammad.

Selain itu, salah satu kemuliaan Khadijah yang disebutkan dalam qashidah ini adalah fakta bahwa ia adalah orang pertama yang mendahului seluruh sahabat laki-laki maupun perempuan lainnya, yang membenarkan risalah Nabi dan mengucapkan dua kalimat syahadat, bahkan sebelum shalat diwajibkan. Hal juga disampaikan oleh Ibnu Katsir dengan mengutip pendapat az-Zuhri, ia mengatakan:

وَقَالَ مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ: كَانَتْ خَدِيجَةُ أَوَّلَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَصَدَّقَ رَسُولَهُ، قَبْلَ أَنْ تُفْرَضَ الصَّلَاةُ

Artinya, “Musa bin Uqbah berkata dari az-Zuhri: Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan membenarkan Rasulullah sebelum shalat diwajibkan.” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wan Nihayah, [Turki: Dar Hajr, 1420 H], jilid IV, halaman 59).

Kemudian, di bagian akhir qashidah ini, doa pun dipanjatkan dengan harapan semoga Allah limpahkan pandangan rahmat-Nya yang mampu menghapus segala bahaya, kesusahan, dan segala bentuk kemudharatan yang menimpa diri kita, sekaligus memohon agar Allah segera mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan, sehingga tidak ada lagi kesedihan yang tersisa dalam kehidupan kita.

Tidak hanya itu, bait terakhir dari qashidah ini juga mengandung kerinduan spiritual yang sangat dalam ketika sang penyair memohon agar dapat memandang wajah Rasulullah, Sayyidah Khadijah, Sayyidah Fatimah, serta keluarga-keluarga mulia Nabi kelak di akhirat.

Demikian uraian singkat mengenai makna, penyusun, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam qashidah “Natawassal bil Hubabah”. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita tentang keagungan sosok Sayyidah Khadijah, istri Rasulullah yang memiliki peran besar dalam sejarah perjalanan awal Islam. Wallahu a’lam bisshawab.

Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Durjan Kokop, Bangkalan, Jawa Timur.

Baca Artikel Selengkapnya