Psikolog Soroti Hustle Culture di Tengah Tekanan Ekonomi, Ambisi Berlebih Picu Kelelahan Mental

4 jam yang lalu 1

Jakarta, NU Online

Kondisi ekonomi yang lesu berdampak langsung pada kesehatan psikologis masyarakat. Biaya hidup yang terus meningkat membuat banyak orang merasa semakin terancam dan jauh dari rasa aman, terutama dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, baik primer, sekunder, maupun tersier.


Psikolog Klinis Mindfulness Happyza Bandung, Jawa Barat, Hafiza Putri Sukmana, menilai banyak klien yang datang berkonsultasi mengalami tantangan psikologis akibat tekanan ekonomi.


"Kondisi ini memang tidak sepenuhnya dapat kita kontrol sendiri. Karena itu, diperlukan kesiapan mental yang lebih matang untuk menghadapi situasi ekonomi yang tidak pasti saat ini," ungkap Hafiza kepada NU Online, Sabtu (30/5/2026).


Menurutnya, ketidakpastian finansial memiliki pengaruh besar terhadap munculnya kecemasan dan stres.


"Pengaruhnya sangat besar karena pada dasarnya manusia selalu mencari rasa aman dan kepastian demi ketenangan hidup," jelasnya.


Ia mencontohkan, ketika lapangan kerja tidak menentu atau kondisi keuangan terus berubah, seseorang akan terdorong untuk terus memikirkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi di masa depan.


"Perasaan selalu bersiap menghadapi ancaman yang belum pasti itu, jika berlangsung terus-menerus, dapat mengikis ketenangan batin dan berkembang menjadi kecemasan kronis," imbuhnya.


Hafiza juga menyoroti fenomena banyak orang yang merasa lelah secara mental meski tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa.


"Sering kali seseorang merasa energinya habis total, padahal aktivitas fisiknya tidak terlalu berat. Masalah utamanya bukan pada beban fisik, melainkan beban pikiran yang terus dibawa selama bekerja," ujarnya.


Menurutnya, kondisi tersebut nyata dan banyak ditemukan di lingkungan masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah.


"Ketika seluruh energi terkuras untuk bertahan hidup, seperti memikirkan biaya kontrakan, cicilan, atau kebutuhan makan sehari-hari, maka akan sulit menyediakan ruang dalam pikiran untuk merasakan kebahagiaan," katanya.


Selain itu, media sosial juga dinilai turut memperparah kondisi psikologis masyarakat. Berdasarkan berbagai penelitian, media sosial mendorong seseorang untuk membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses dan mudah.


"Hal itu memunculkan perasaan bahwa diri kita selalu kurang dan tertinggal, sehingga semakin sulit melihat harapan dan bergerak maju," paparnya.


Lebih jauh, Hafiza menilai kondisi tersebut berkaitan erat dengan fenomena hustle culture, yakni dorongan untuk terus produktif tanpa jeda.


"Banyak orang memaksakan diri untuk terus produktif karena cemas terhadap masa depan, takut miskin, atau takut dianggap tidak sukses oleh lingkungannya," terangnya.


Menurutnya, kesibukan yang berlebihan sering kali dianggap sebagai solusi atas berbagai persoalan hidup. Padahal, jika terus dilakukan tanpa keseimbangan, kondisi tersebut dapat menjadi bom waktu yang memicu kelelahan mental (burnout) dan menurunkan kemampuan fokus.


Ia menambahkan, hustle culture juga rentan memicu burnout pada remaja dan dewasa muda.


"Remaja dan dewasa muda saat ini justru menjadi kelompok yang paling rentan mengalami burnout. Kapasitas mental manusia ada batasnya. Seberapa muda pun usia seseorang, jika terus dipaksa mengejar target tanpa jeda yang berkualitas, pada akhirnya akan tumbang juga," katanya.


Adapun tanda-tanda seseorang mengalami dampak negatif hustle culture antara lain munculnya mati rasa secara emosional.


"Mereka sulit merasa bahagia, tetapi untuk merasa sedih pun sudah terlalu lelah. Selain itu, menjadi lebih sensitif, mudah marah, sulit fokus, dan melampiaskan emosinya melalui berbagai cara, baik yang sehat maupun tidak sehat," ujarnya.


Kelelahan mental, lanjut Hafiza, juga dapat muncul dalam bentuk keluhan fisik yang berkepanjangan, seperti sakit kepala, nyeri pundak, hingga gangguan pencernaan, terutama pada lambung.


Ia menilai tuntutan untuk sukses di usia muda turut menciptakan beban psikologis berupa rasa bersalah dan rendah diri.


"Di masyarakat ada standar tidak tertulis bahwa seseorang harus sudah mapan dan memiliki banyak pencapaian di usia muda. Ketika realitas hidup tidak berjalan seideal itu, banyak orang langsung melabeli dirinya sebagai gagal. Padahal setiap orang memiliki waktu berkembang yang berbeda-beda," paparnya.


Karena itu, Hafiza mengajak masyarakat untuk kembali membangun budaya jeda dan belajar menjalani hidup dengan lebih tenang.


"Dalam Islam, konsep ini sejalan dengan ibadah shalat yang khusyuk, sebagai bentuk detoks mental agar jiwa dapat beristirahat sejenak dari berbagai urusan duniawi," pungkasnya.


Menurutnya, menanamkan pemahaman bahwa beristirahat dan hidup dengan lebih tenang bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian penting untuk menjaga kesehatan mental dan tetap waras di tengah berbagai tantangan kehidupan.

Baca Artikel Selengkapnya