Menjaga pintu air perekonomian Indonesia

3 minggu yang lalu 14
menjaga stabilitas moneter bukan sekadar mempertahankan angka inflasi, tetapi juga melindungi daya beli masyarakat

Jakarta (ANTARA) - Bayangkan perekonomian Indonesia sebagai sebuah bendungan raksasa yang mengairi hamparan persawahan. Air yang mengalir dari bendungan itu adalah kredit perbankan, sedangkan Bank Indonesia berperan sebagai penjaga pintu air.

Jika pintu dibuka terlalu lebar, air meluap dan berpotensi menimbulkan banjir yang merusak tanaman. Sebaliknya, jika pintu ditutup terlalu rapat, sawah kekeringan dan gagal menghasilkan panen.

Pintu air itulah yang menjadi gambaran dari kebijakan BI Rate. Gambaran sederhana tersebut menjelaskan mengapa kebijakan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi instrumen yang sangat menentukan arah perekonomian

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

Tantangan Indonesia saat ini tidak lagi sekadar mempertahankan stabilitas moneter, tetapi memastikan bahwa likuiditas yang tersedia benar-benar mengalir ke sektor-sektor produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja dan memperkuat daya saing ekonomi nasional.

Dengan kata lain, stabilitas harus menjadi fondasi bagi pertumbuhan yang inklusif.

Pada pertengahan 2026, sektor perbankan Indonesia menunjukkan daya tahan yang baik. Penyaluran kredit tumbuh 12,67% secara tahunan, sementara rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) berada pada level yang sehat.

Pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh kredit investasi yang melonjak hampir 25%. Ini merupakan sinyal positif karena menunjukkan bahwa dunia usaha masih memiliki keyakinan untuk melakukan ekspansi melalui pembangunan infrastruktur, penambahan kapasitas produksi, maupun investasi di sektor hilirisasi.

Hal ini sejalan dengan Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia triwulan 2-2026 yang menunjukkan fase ekspansi pada lapangan usaha industri pengolahan.

Namun, angka-angka pertumbuhan kredit yang tinggi tersebut baru akan memberikan manfaat optimal apabila tersebar secara merata. Jika pembiayaan hanya terkonsentrasi pada kelompok usaha besar atau sektor tertentu, dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi menjadi terbatas.

Karena itu, kualitas distribusi kredit sama pentingnya dengan besarnya pertumbuhan kredit itu sendiri.

Hal tersebut juga tercermin pada kredit modal kerja yang tumbuh 8,94 persen. Meskipun menunjukkan perkembangan yang baik, ruang untuk mendorong pembiayaan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri padat karya masih terbuka lebar.

Sektor-sektor inilah yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar sekaligus penopang aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

Di sisi lain, tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, termasuk meningkatnya risiko akibat konflik internasional, masih membayangi stabilitas pasar keuangan.

Dalam situasi seperti itu, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen sebagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan risiko inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.

Sebagian kalangan mungkin berpendapat bahwa suku bunga acuan yang relatif tinggi dapat menghambat ekspansi kredit karena meningkatkan biaya pinjaman bagi dunia usaha.

Kekhawatiran tersebut tidak salah. Namun, dalam kondisi tekanan terhadap nilai tukar yang masih kuat, stabilitas tetap menjadi prasyarat utama.

Tanpa stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor, biaya yang harus ditanggung perekonomian justru dapat menjadi lebih besar dibandingkan manfaat penurunan suku bunga dalam jangka pendek.

Di sinilah kebijakan moneter bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Stabilitas nilai tukar membantu menahan kenaikan harga bahan baku impor sehingga tekanan terhadap harga pangan dapat diminimalkan. Kepercayaan investor membuka peluang masuknya investasi baru yang menciptakan lapangan kerja.

Sementara itu, stabilitas suku bunga membantu menjaga agar biaya kredit perumahan, kendaraan, maupun pembiayaan usaha tidak meningkat secara tajam. Dengan demikian, menjaga stabilitas moneter bukan sekadar mempertahankan angka inflasi, tetapi juga melindungi daya beli masyarakat.

Mengalirkan likuiditas

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya