Kemendag fasilitasi UMKM ekspor produk lewat "businees matching"

19 menit yang lalu 1
Jadi, pelaku UMKM cukup presentasi secara daring, mau pakai bahasa Jawa, bahasa Indonesia bebas, nanti kami yang menerjemahkan

Banyuwangi (ANTARA) - Kementerian Perdagangan memfasilitasi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk mengekspor produk-produknya melalui program "businees matching" dengan mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra strategis atau calon pembeli secara daring.

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso menyampaikan pelaku UMKM yang siap ekspor produknya nantinya difasilitasi oleh pemerintah melalui Atase Perdagangan atau perwakilan pejabat Kemendag dan ITPC (Indonesia Trade Promotion Center) yang ada di 33 negara.

"Jadi, pelaku UMKM cukup presentasi secara daring, mau pakai bahasa Jawa, bahasa Indonesia bebas, nanti kami yang menerjemahkan," kata Mendag Budi Santoso saat kunjungan kerja di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat.

Budi mencontohkan, jika pelaku usaha ingin ekspor produknya ke ke Amerika Serikat nantinya secara daring akan dipertemukan dan presentasi dengan Atase Perdagangan, baik di Los Angeles maupun di Chicago.

Ia menegaskan bahwa ​pemerintah memfasilitasi pelaku usaha yang akan ekspor produk-produknya, baik ke China, Jepang, Eropa dan negara-negara lainnya.

Baca juga: Mendag lepas ekspor karang hias hidup Banyuwangi tujuan AS

Baca juga: Mendag optimistis IEU-CEPA ditandatangani akhir Oktober 2026

Mendag Budi menyebutkan pada tahun 2025 nilai transaksi dari kegiatan businees matching mencapai 134,8 juta dolar AS, dan pada tahun ini melonjak pada periode Januari-Juli 2026 dengan nilai transaksi sudah mencapai 333 juta dolar AS.

"​Itu 70 persen belum pernah ekspor, apalagi kalau pelaku UMKM ini sudah ekspor, lebih mudah lagi. Karena kalau belum pernah ekspor harus kami ajari dari awal, mulai pelatihan, kemudian standardisasi produknya," katanya.

Budi menyampaikan Kementerian Perdagangan sudah mempunyai banyak perjanjian dagang untuk membuka pasar, salah satunya dengan Amerika Serikat.

"Kenapa dengan Amerika? Kita itu dengan Amerika surplus 18,11 miliar dolar AS, dan ekspor kita tahun lalu itu mencapai 30,9 miliar dolar AS. Jadi kalau kita berdagang ke Amerika Serikat itu menguntungkan kita, karena selalu surplus," katanya.

Ia menambahkan Indonesia memulai perjanjian dagang dengan Amerika Serikat sejak tahun 1996 atau sekitar 30 tahun yang lalu.

"Tetapi baru berhasil kemarin ketika Bapak Presiden Prabowo punya komitmen untuk melakukan perjanjian kerja sama," kata Budi Santoso.

Baca juga: Mendag: Beras fortifikasi tak akan geser penjualan beras premium

Baca juga: Mendag dorong penyerapan telur agar harga kembali Rp30 ribu per kg

Pewarta: Novi Husdinariyanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya