Jakarta, CNN Indonesia --
Komandan tertinggi Amerika Serikat (AS) di Amerika Latin bertemu dengan para pemimpin militer Kuba pada Jumat (29/5). Pertemuan ini dilakukan di dekat pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Guantanamo membahas masalah keamanan.
Pertemuan ini terjadi kala Presiden AS Donald Trump menekan negara kepulauan itu. Sebelumnya Trump telah memperingatkan bahwa Kuba "akan menjadi target selanjutnya" setelah pasukan militer AS menangkap pemimpin otokratis Venezuela, Nicolás Maduro, pada Januari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa bulan sejak itu, pemerintahan Trump telah memberlakukan blokade minyak terhadap Kuba, mempertahankan kapal perang di Laut Karibia, dan mendakwa mantan Presiden Kuba Raúl Castro dengan tuduhan federal.
Jenderal Francis Donovan, kepala Komando Selatan AS, bertemu dengan Letnan Jenderal Roberto Legrá Sotolongo dan pejabat militer Kuba lainnya.
Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kedua belah pihak memandang "pertemuan itu secara positif karena membahas masalah keamanan di sepanjang perimeter yang memisahkan wilayah militer, dan mereka sepakat untuk menjaga komunikasi antara kedua komando militer."
Para pembantu utama Trump, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan kepala CIA John Ratcliffe, juga telah bertemu dengan para pejabat Kuba untuk menjajaki kemungkinan perbaikan hubungan.
Namun, pihak AS tidak terkesan dengan pembicaraan tersebut, yang menyebabkan sanksi lebih banyak dijatuhkan kepada pemerintah Kuba.
Selain pertemuan tersebut, Donovan juga menilai keamanan pangkalan angkatan laut AS di Teluk Guantanamo dan membahas "keselamatan anggota layanan dan keluarga mereka, serta kesiapan operasional dengan para pejabat pangkalan," kata Komando Selatan AS dalam sebuah unggahan di X.
AS mempertahankan pangkalan tersebut meski telah terjadi gesekan selama beberapa dekade dengan para pemimpin sosialis Kuba, yang ingin disingkirkan Trump dari kekuasaan.
Militer AS memiliki beberapa kapal Angkatan Laut, termasuk setidaknya satu kapal serbu amfibi, di Karibia, kekuatan yang jauh lebih kecil daripada yang ada pada saat serangan Maduro.
Pada Jumat, Pentagon mengumumkan bahwa unit baru yang terdiri dari 1.300 pelaut dan Marinir akan menggantikan Unit Ekspedisi Marinir ke-22, yang dikerahkan ke wilayah tersebut musim panas lalu.
(fea)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·