Jakarta, CNN Indonesia --
Iran menegaskan akan mengendalikan penuh Selat Hormuz selama 30 hari ke depan, menyusul kesepahaman yang dicapai dengan Amerika Serikat usai konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Israel, dan AS.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi saat menghadiri konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein di Baghdad, Minggu (29/6).
"Saya telah menyampaikan kepada mitra saya perkembangan terbaru dari perang yang dipaksakan terhadap Iran, serta perkembangan terkait nota kesepahaman yang ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat," kata Araghchi dikutip dari Al Jazeera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menegaskan Selat Hormuz akan tetap berada di bawah pengawasan dan pengelolaan penuh Iran dalam 30 hari ke depan.
"Selat Hormuz tetap berada di bawah pengawasan dan pengelolaan penuh Iran selama 30 hari mendatang. Setelah seluruh hambatan disingkirkan, kapasitas penuh jalur pelayaran itu akan dipulihkan. Itulah yang sedang kami upayakan," ujarnya.
Araghchi menegaskan tanggung jawab atas pengelolaan selat tersebut sepenuhnya berada di tangan Republik Islam Iran. Menurut dia, tidak ada negara atau pihak lain yang memiliki kewenangan dalam hal itu berdasarkan nota kesepahaman yang telah disepakati.
Ia juga memperingatkan bahwa setiap bentuk intervensi atau tindakan sepihak dari pihak lain hanya akan memperburuk situasi sekaligus menunda pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Araghchi turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan rakyat Irak atas dukungan yang diberikan kepada Iran selama konflik berlangsung.
"Rakyat dan pemerintah Irak selalu memberikan dukungan selama perang. Mereka selalu mendukung rakyat Iran yang menjadi korban agresi Israel dan Amerika Serikat," katanya.
Menurut Araghchi, hubungan kedua negara tetap erat di tengah ketegangan kawasan. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein menegaskan negaranya tidak mendukung meluasnya konflik di kawasan Teluk dan menolak serangan terhadap Iran.
"Kami tidak mendukung meluasnya perang di kawasan Teluk dan kami menentang serangan terhadap Iran," ujar Hussein.
Ia menyebut sangat disayangkan Iran sebagai negara tetangga menjadi sasaran perang dan agresi. Hussein juga mengingatkan bahwa Irak sebelumnya pernah memainkan peran penting sebagai mediator dalam mempertemukan pandangan Teheran dan Washington.
Namun, menurut dia, berbagai perkembangan akhirnya tetap bermuara pada pecahnya perang.
Hussein menegaskan seluruh persoalan seharusnya diselesaikan melalui jalur diplomasi dan perundingan, bukan konfrontasi militer.
Ia juga menekankan pentingnya seluruh pihak menjalankan kesepahaman yang telah dicapai untuk membuka kembali Selat Hormuz serta mengakhiri blokade maritim terhadap Iran.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
4






English (US) ·
Indonesian (ID) ·