Ini J-20 Mighty Dragon, Pesawat Siluman Pesaing F-35 yang Jadi Momok Radar AS

2 jam yang lalu 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — J-20 Mighty Dragon menjadi simbol kebangkitan teknologi tempur udara China dalam satu dekade terakhir. Pesawat tempur siluman generasi kelima ini dikembangkan untuk menandingi dominasi Amerika Serikat di udara dan kini dipandang sebagai salah satu pesaing utama F-35 Lightning II.

Kemampuan silumannya yang semakin matang bahkan membuat sistem radar lama milik Angkatan Udara AS, E-3 Sentry, dinilai kesulitan mendeteksinya sehingga mendorong Washington mempercepat pengadaan pesawat peringatan dini E-7 Wedgetail senilai sekitar Rp25,3 triliun.

J-20 merupakan pesawat tempur generasi kelima yang dikembangkan Chengdu Aircraft Corporation (CAC) untuk Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF). Pesawat ini melakukan penerbangan perdana pada 11 Januari 2011 dan resmi memasuki layanan operasional pada 2017. Sebagaimana dilaporkan Janes dan Pentagon melalui China Military Power Report, J-20 menjadi pesawat tempur siluman pertama yang diproduksi di luar Amerika Serikat dan kini menjadi tulang punggung modernisasi kekuatan udara Beijing.

Dari sisi ukuran, J-20 tergolong pesawat tempur siluman berukuran besar. Sebagaimana dilaporkan CSIS China Power Project dan Military Watch Magazine, panjang pesawat mencapai sekitar 20,3 meter dengan bentang sayap sekitar 13,5 meter. Ukurannya lebih besar dibandingkan F-35 Lightning II dan mendekati F-22 Raptor, sehingga mampu membawa bahan bakar lebih banyak serta menyediakan ruang yang lebih luas untuk persenjataan internal.

Pada varian produksi terbaru, J-20 menggunakan mesin turbofan buatan dalam negeri WS-10C, sementara China juga tengah mengembangkan mesin WS-15 yang diharapkan memungkinkan pesawat melakukan supercruise atau terbang supersonik tanpa menggunakan afterburner. Sebagaimana dianalisis Pentagon dalam China Military Power Report dan CSIS China Power Project, mesin baru tersebut diproyeksikan meningkatkan daya dorong, efisiensi, dan kemampuan manuver pesawat.

Kecepatan maksimum J-20 diperkirakan mencapai sekitar Mach 2 atau lebih dari 2.100 kilometer per jam. Pesawat ini juga dibekali radar Active Electronically Scanned Array (AESA), sensor elektro-optik, sistem pencarian inframerah (infrared search and track/IRST), serta data link yang memungkinkan pertukaran data secara real time dengan pesawat lain maupun pusat komando di darat. Menurut analisis CSIS China Power Project, kombinasi sensor tersebut membuat J-20 tidak hanya berfungsi sebagai pesawat tempur, tetapi juga sebagai simpul dalam jaringan peperangan modern.

Salah satu keunggulan utama J-20 adalah kemampuan silumannya. Bentuk badan pesawat dirancang untuk memperkecil radar cross section (RCS) sehingga pantulan gelombang radar menjadi sangat rendah. Selain membawa rudal di ruang senjata internal, pesawat ini juga menggunakan material penyerap gelombang radar. Meski nilai RCS sebenarnya tidak pernah dipublikasikan, CSIS China Power Project menjelaskan desain J-20 telah memenuhi berbagai prinsip utama teknologi low observable yang juga diterapkan pada pesawat siluman Amerika Serikat. Karakteristik inilah yang membuat J-20 jauh lebih sulit dideteksi dibandingkan pesawat tempur generasi keempat.

Dalam hal persenjataan, J-20 diperkirakan mampu membawa rudal udara-ke-udara jarak jauh PL-15, rudal jarak pendek PL-10, serta berbagai amunisi presisi di ruang senjata internal. Sebagaimana dilaporkan Air & Space Forces Magazine dengan mengutip analisis Pentagon, China terus meningkatkan kapasitas muatan internal J-20 agar mampu membawa lebih banyak rudal tanpa mengurangi karakteristik silumannya.

Jumlah armada J-20 juga terus bertambah. Janes memperkirakan sekitar 195 unit telah beroperasi di PLAAF hingga pertengahan 2024. Sementara itu, Military Watch Magazine melaporkan kapasitas produksi kini mencapai sekitar 100 hingga 120 unit per tahun, menjadikan J-20 sebagai salah satu program pesawat tempur siluman dengan laju produksi tercepat di dunia.

Baca Artikel Selengkapnya