Gus Baha Jelaskan Berkah Agama Islam Dibawa dengan Pendekatan Kemanusiaan

1 jam yang lalu 2

Yogyakarta, NU Online

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan bahwa agama Islam hadir bagi penganutnya dengan pendekatan-pendekatan basyariyah atau kemanusiaan.

Bahkan Allah menyifati Nabi Muhammad sebagai pembawa agama ini dengan sifat yang cukup sederhana, seperti suka makan, jalan-jalan, dan lain sebagainya. Gus Baha mengutip potongan QS Al-Furqan ayat 20: 

Artinya, "Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Nabi Muhammad), melainkan mereka pasti menyantap makanan dan berjalan di pasar....," 

Nabi Muhammad menjadi Nabi setelah Isa as yang akhirnya dipersepsikan sebagai tuhan oleh umatnya sendiri karena mempunyai banyak kemampuan yang sukar dinalar manusia. Berbanding terbalik dengan Nabi Muhammad yang justru diutus dengan menampilkan sifat-sifat kemanusiaan.

"Saya sering cerita, Nabi Muhammad itu suka dahar, suka makan. Kalau makan di depan umum. Terus kalau sakit ya kelihatan sakit. Bahkan beliau itu pernah naik unta sama Sayidah Shofiyah, dijatuhkan ya sampai jatuh betul," katanya saat di acara Ngaji Bareng, Senin (25/5/2026) dikutip dari kanal Youtube Universitas Islam Indonesia.

"Singkat cerita, ada sahabat yang dengan tanda kutip agak kecewa. Kok Nabi saya ndak sekeren Nabi Isa? Nabi Isa itu orang mati saja bisa dihidupkan. Orang sakit disuwuk terus sembuh," imbuhnya.

Menurut Gus Baha, Nabi Muhammad memang didesain Allah seperti manusia yang memiliki sifat basyariyah pada umumnya. "Setelah kita kaji ternyata ini adalah sifatul basyariyah yang tunafi al-uluhiyah. Itu cara Nabi melawan dirinya tidak dipertuhankan. Sehingga ini keren sekali. Jadi, keren itu adalah ngikuti sudut pandang," jelasnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA ini juga menegaskan bahwa agama Islam dibawa Nabi Muhammad dengan tetap mempertahankan sisi-sisi kemanusiaan.

Pernah suatu ketika Nabi Muhammad tidak melakukan shalat sunnah berjamaah bersama para sahabatnya di bulan puasa. Padahal beberapa hari sebelumnya rutin mengerjakannya di masjid. 

"Hari keempat itu Nabi tidak ke masjid, orang nunggu semua, Nabi enggak keluar. Terus Sayidina Umar cara Jowonya itu bengok-bengok. Saya sering cerita ini tak jamin hadits sahih," ucapnya.

Di lain waktu, Nabi kemudian menjelaskan kepada sahabatnya bahwa ia sengaja tidak melaksanakan shalat sunnah di malam itu, karena khawatir dianggap wajib, sehingga umatnya harus melakukannya di kemudian hari.

"Jadi, berkahnya Nabi menjaga konstitusi basyariyah ini, Islam menjadi agamanya manusia, bukan agama malaikat. Andaikan dari awal itu semua kesunnahan dilakukan Nabi. Misalnya Nabi selalu puasa Senin Kamis, puasa dalail, dan seterusnya, nanti ini dikira wajib," tegasnya.

Dalam suatu hadits dijelaskan, Nabi sebenarnya cukup tersiksa saat tidak melaksanakan ibadah sunnah tersebut. Namun, Nabi juga memahami bahwa ia tidak boleh melanggengkannya, karena khawatir dianggap wajib hingga membebani umatnya.

"Sampai Nabi kalau ada puasa Asyura mengumumkan, sekarang puasa ini sudah diganti Ramadhan. Silakan yang mau puasa, puasa, yang tidak, tidak apa-apa," katanya.

Lebihhl lanjut, Gus Baha menyampaikan bahwa saleh itu penting, tapi tidak bisa menjadi indikator tunggal dalam beragama Islam. Karakteristik dan kemampuan pemeluk agama Islam jelas berbeda. Kalau saleh dipaksa menjadi satu-satunya ukuran, justru akan menjauhkan sebagian pemeluknya kepada agamanya sendiri.

Umat Islam Indonesia, kata Gus Baha, banyak yang senang jagongan, nongkrong hingga larut malam. Fenomena ini tidak bisa dianggap negatif. Asal tidak melakukan maksiat, mereka sebenarnya telah meninggalkan hal-hal yang dilarang agama.

Gus Baha menegaskan bahwa pendekatan-pendekatan kemanusiaan dalam agama Islam itu penting. Hal ini yang menjadikan agama ini selalu disukai oleh para pemeluknya. Mereka juga menjalankan tuntutan agamanya dengan gembira.

"Berkahnya Islam dibawa dengan kemanusiaan, ciri khas Islam adalah farah. Farah itu bahagia," ujarnya.

Baca Artikel Selengkapnya