Era Baru Perang Dimulai, Laser Jadi Senjata Anti-Drone Andalan Dunia

2 minggu yang lalu 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Cara perang berubah pelan, nyaris tanpa suara. Jika dulu langit medan tempur dipenuhi deru jet dan kilatan rudal, kini ancaman datang dari benda kecil bernama drone, murah, lincah, dan sulit dideteksi.

Untuk melawannya, sejumlah negara mulai mengandalkan teknologi yang dahulu lebih sering hadir di film fiksi ilmiah: laser berenergi tinggi.

Di Amerika Serikat, langkah terbaru datang dari kesepakatan antara Federal Aviation Administration dan United States Department of Defense yang memungkinkan penggunaan sistem anti-drone berbasis laser di sepanjang perbatasan selatan dengan Meksiko.

“Setelah melakukan Penilaian Risiko Keselamatan yang menyeluruh dan berdasarkan data, kami menentukan bahwa sistem ini tidak menimbulkan peningkatan risiko bagi masyarakat yang menggunakan jasa penerbangan,” kata Administrator FAA Bryan Bedford pada hari Jumat, sebagaimana diberitakan Defensenews.

Pengujian yang dilakukan sebelumnya dinyatakan memenuhi standar keselamatan penerbangan, meski sempat memicu kekhawatiran setelah insiden salah tembak terhadap pesawat nirawak pemerintah.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Penggunaan laser di ruang udara sipil membawa risiko baru, terutama jika sistem belum sepenuhnya terintegrasi dengan kontrol lalu lintas penerbangan. Namun, meningkatnya ancaman drone, termasuk yang digunakan untuk penyelundupan narkoba oleh kartel, mendorong otoritas keamanan untuk mencari solusi yang lebih cepat dan efisien.

Di sinilah laser menjadi menarik. Tidak seperti rudal yang mahal dan terbatas, laser bekerja dengan kecepatan cahaya dan nyaris tanpa biaya per tembakan. Selama sumber energinya tersedia, sistem ini dapat digunakan berulang kali untuk melumpuhkan atau menghancurkan drone yang masuk ke wilayah terlarang.

Amerika Serikat bukan satu-satunya. Di Timur Tengah, Israel mengembangkan sistem Iron Beam yang dirancang untuk mencegat roket dan drone jarak pendek. Sistem ini melengkapi pertahanan berlapis yang sudah ada, menawarkan solusi yang lebih murah untuk menghadapi serangan berbiaya rendah yang diluncurkan secara masif.

Di Asia, China juga bergerak cepat melalui sistem Silent Hunter, yang telah digunakan untuk melumpuhkan drone kecil dan bahkan dipasarkan ke negara lain. Pendekatan ini menunjukkan bahwa teknologi laser tidak lagi sekadar proyek eksperimental, tetapi mulai masuk ke ranah operasional dan komersial.

Sementara itu, Inggris menguji sistem DragonFire, yang dalam uji coba berhasil menghancurkan target udara dengan presisi tinggi. Pemerintah Inggris menyebut biaya tembakan laser bisa jauh lebih murah dibandingkan peluncuran rudal konvensional, sebuah faktor penting dalam perang modern yang menuntut efisiensi.

Turki, yang dikenal sebagai salah satu produsen drone terbesar, juga mengembangkan sistem ALKA untuk melawan ancaman serupa. Sistem ini tidak hanya menghancurkan drone, tetapi juga mampu mengganggu sistem elektroniknya, memberikan fleksibilitas dalam berbagai skenario tempur.

Baca Artikel Selengkapnya