Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memandang transformasi bank sentral satu dekade mendatang perlu menjadi perhatian dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Gubernur Bank Indonesia (BI) yang digelar pada Rabu (26/8).
Menurutnya, diskusi dalam fit and proper test sebaiknya tidak terlalu terserap pada pertanyaan apakah suku bunga berikutnya perlu naik, tetap, atau turun.
“Saya berharap fit and proper test besok berbicara tentang BI 2036, bukan hanya BI-Rate 2026. Kita perlu mendengar bagaimana calon Gubernur melihat AI, perubahan struktur produksi, transmisi kredit, digitalisasi uang, global financial cycle, pasar keuangan, serta hubungan moneter dan fiskal dalam satu arsitektur kebijakan yang tetap menjaga independensi,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Destry Damayanti, yang saat ini Pejabat Gubernur Sementara (PGS) BI, merupakan calon tunggal Gubernur BI. Fakhrul menilai, berbagai pengalaman Destry memberikan modal yang kuat untuk menjawab beragam tantangan.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan menjadi Gubernur BI kali ini jauh melampaui kemampuan menjalankan kerangka yang sudah tersedia. Lebih dari itu, menurutnya lagi, tantangannya adalah mempersiapkan BI menghadapi dunia yang mungkin belum sepenuhnya dapat dibayangkan hari ini.
Fakhrul menjelaskan bahwa perubahan ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir membuat pekerjaan bank sentral jauh lebih kompleks.
Dalam hal ini, inflasi tidak lagi selalu berasal dari permintaan, likuiditas tidak otomatis berubah menjadi kredit, pasar keuangan semakin menentukan kondisi pembiayaan, teknologi mengubah cara uang bergerak, sementara kebijakan domestik semakin berhadapan langsung dengan siklus keuangan global (global financial cycle).
Lebih lanjut, menurut Fakhrul, tantangan pertama Gubernur BI berikutnya adalah mengembangkan cara menjalankan inflation targeting dalam dunia yang semakin sering mengalami supply shock.
Selain itu, tantangan lain adalah memastikan likuiditas benar-benar bekerja di perekonomian. Fakhrul mengingatkan bahwa Indonesia telah memiliki semakin banyak instrumen untuk menyediakan likuiditas dan memberikan insentif kepada perbankan. Namun, tambahan likuiditas tidak otomatis menghasilkan tambahan kredit dengan jumlah yang sama.
Tantangan berikutnya adalah kenyataan bahwa BI dapat menentukan BI-Rate, tetapi tidak menentukan harga uang dunia. Perubahan Fed Funds Rate, imbal hasil (yield) US Treasury, indeks dolar dan global risk appetite dapat langsung mempengaruhi rupiah dan surat utang negara (SUN).
Itulah sebabnya, menurut Fakhrul, cadangan devisa, kedalaman pasar domestik, basis investor, instrumen hedging dan kemampuan menarik capital flow merupakan bagian integral dari ruang kebijakan moneter Indonesia.
Ia juga menilai, Gubernur BI berikutnya perlu semakin memperhatikan perbedaan antara policy rate dan kondisi finansial yang benar-benar dihadapi dunia usaha.
Level BI-Rate bisa saja tetap, tetapi yield SUN dapat meningkat, rupiah melemah, harga saham turun dan risk premium meningkat. Dalam kondisi tersebut, perusahaan dapat menghadapi pembiayaan yang lebih mahal meskipun bank sentral tidak mengubah suku bunga.
Dia juga mengingatkan bahwa perusahaan Indonesia semakin heterogen. Sektor UMKM, manufaktur atau padat karya, smelter, serta perusahaan teknologi dan data center menghadapi BI-Rate yang sama, tetapi merespons kebijakan moneter dengan cara yang sangat berbeda.
"Satu BI-Rate sekarang berbicara kepada banyak Indonesia sekaligus. Karena itu bank sentral tidak harus mempunyai suku bunga berbeda untuk setiap sektor, tetapi harus mempunyai pemahaman yang jauh lebih granular mengenai bagaimana satu suku bunga mempengaruhi sektor yang berbeda,” kata Fakhrul.
Di sisi lain, Fakhrul menilai bahwa kemajuan sistem pembayaran Indonesia merupakan modal penting. Namun, fase berikutnya harus melihat teknologi pembayaran sebagai bagian dari infrastruktur moneter nasional, termasuk bagaimana teknologi mempengaruhi transmisi, pergerakan modal, data ekonomi dan penggunaan rupiah.
Sementara dari sisi independensi, Fakhrul memandang fit and proper test perlu membahas bagaimana calon Gubernur BI melihat hubungan antara independensi bank sentral dan interaksi kebijakan dengan pemerintah.
Menurutnya, independensi BI merupakan salah satu pencapaian institusional terpenting setelah krisis 1998 dan harus tetap menjadi fondasi. Namun dalam perekonomian modern, neraca pemerintah, BI, dan sistem keuangan semakin sering berinteraksi.
“Independence does not mean isolation, and coordination does not mean subordination. BI harus independen dalam mengambil keputusan sesuai mandatnya. Tetapi kita juga harus memastikan berbagai kebijakan ekonomi tidak tanpa sengaja menginjak gas dan rem pada saat yang bersamaan,” kata Fakhrul.
Baca juga: DPR ungkap nama calon Deputi Gubernur Senior dan Deputi Gubernur BI
Baca juga: Misbakhun sebut Komisi XI belum dapat tugas uji calon Gubernur BI
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·