REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Duta Besar Turki untuk Indonesia Prof Talip Küçükcan mengingatkan ambisi berbahaya Zionis mewujudkan Israel Raya di Timur Tengah. Saat ini, kata dia, kekuatan-kekuatan besar di kawasan seperti Turki, Arab Saudi, dan Iran jadi pengadang ambisi tersebut.
Dalam wawancara khusus dengan Republika di Kedubes Turki, Senin (23/6/2026), ia menegaskan bahwa eskalasi di Timur Tengah saat ini gak lepas dari niatan Israel tersebut.
“Yang kami lihat saat ini adalah kelanjutan dari konflik-konflik lama. Namun sekarang Israel tampil jauh lebih agresif. Mereka menyerang Suriah, Lebanon, dan Iran, serta berupaya menjadi kekuatan dominan di kawasan,” kata Küçükcan.
Ia menegaskan aksi Israel itu tak lepas dari gagasan "Israel Raya" yang menurutnya disuarakan oleh sebagian kalangan intelektual dan politisi garis keras Israel. "Gagasan ini sangat mengkhawatirkan bagi negara-negara kawasan karena mencakup wilayah yang diklaim berada di luar perbatasan Israel saat ini," ujarnya.
Meski demikian, ia menilai kawasan Timur Tengah masih memiliki sejumlah negara kuat yang dapat menjaga keseimbangan regional. “Meski demikian, kawasan ini juga memiliki negara-negara kuat seperti Turki, Arab Saudi, dan Iran.”
Patut dicatat bahwa ketiga negara itu tak hanya yang paling banyak penduduk dan paling luas wilayahnya di kawasan. Turki, wilayah Saudi dan sekitarnya, serta Iran dan sekitarnya mewakili tiga pusat peradaban Islam di masa lalu. Ketiganya juga memiliki kekuatan militer yang signifikan.
Menurut Küçükcan, dinamika konflik yang berkembang justru memunculkan kesadaran baru di antara negara-negara Muslim untuk memperkuat kerja sama regional.
"Untuk pertama kalinya, kita melihat kerja sama yang lebih erat antara Turki, Arab Saudi, Mesir, dan Pakistan. Ini perkembangan yang positif karena negara-negara kawasan mulai menyadari bahwa mereka perlu mengandalkan kekuatan dan kerja sama regional mereka sendiri," katanya.
Istilah “Israel Raya” selama ini sering dipahami sebatas proyek perluasan wilayah Israel melalui pendudukan dan pembangunan permukiman di tanah Palestina.
Namun menurut pakar Taurat, Mazin al-Najjar, dalam karyanya Hadzihi Hiya Israil Kubra al-Lati Yuriduha Netanyahu yang dikutip dari Aljazeera, Jumat (15/5/2026), konsep tersebut jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada sekadar ekspansi geografis.

5 hari yang lalu
26







English (US) ·
Indonesian (ID) ·