Jakarta (ANTARA) - Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro memandang trilema keberlanjutan yang mencakup stabilitas yang dinamis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta ekonomi yang inklusif, sebenarnya tidak saling bertentangan dan justru saling memperkuat satu sama lain.
“Seolah-olah terdapat pilihan yang dilematis, mau pertumbuhan atau mau stabilitas, mau inklusif atau mau efisiensi. Saya berpandang bahwa framing tersebut perlu kita luruskan bersama,” kata Solikin dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Jakarta, Kamis.
Berdasarkan pengalamannya selama 32 tahun bekerja di bank sentral, Solikin berkeyakinan bahwa stabilitas memungkinkan pertumbuhan, pertumbuhan memperluas kesempatan kerja, dan inklusivitas memperkuat basis ekonomi dan sosial.
“Selanjutnya, basis ekonomi yang semakin kuat, pada akhirnya kembali memperkukuh stabilitas. Jadi, ketiganya saling memperkuat satu sama lain,” kata dia.
Untuk itu, Solikin menawarkan delapan strategi kebijakan yang disingkat “SEMANGKA” sebagai paket kebijakan yang terorkestrasi untuk menopang program Asta Cita Pemerintah.
“SEMANGKA” merupakan kepanjangan dari stabilitas dinamis untuk pertumbuhan berkelanjutan; efektivitas kebijakan moneter dan operasi moneter yang pro-market; makroprudensial adaptif, inovatif, dan pro-growth; akselerasi pendalaman pasar keuangan; navigasi ekonomi keuangan inklusif termasuk syariah; gerak cepat digitalisasi sistem pembayaran; kelembagaan BI yang kredibel dan bertata kelola; serta aksi bersama dan sinergi kebijakan nasional.
“’S-E-M-A’ sebagai jangkar kebijakan. Kemudian, ’N dan G’ sebagai mesin transformasi, serta ‘K-A’ sebagai pengungkit implementasi,” jelas Solikin.
Lebih lanjut, ia menjelaskan jangkar kebijakan untuk menjaga stabilitas dan memperbesar kapasitas pembiayaan, mesin transformasi untuk mengalirkan kepada ekonomi riil dan masyarakat, dan menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru, serta pengungkit implementasi untuk memastikan seluruhnya dapat dilaksanakan secara kredibel dan bersinergi.
Solikin menekankan bahwa stabilitas nilai tukar dan inflasi harus tetap menjadi jangkar kredibilitas.
“Kredibilitas yang selama ini telah kita peroleh, is not taken for granted. Tidak datang secara ujug-ujug, tetapi diupayakan dengan komitmen dan kerja keras,” kata dia.
Melalui strategi bauran instrumen kebijakan, Solikin mengatakan bahwa pada akhirnya nilai tukar dan inflasi yang terjaga stabil tidak hanya akan mengawal kredibilitas kebijakan saja, namun juga akan menjadikan ruang kebijakan untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan semakin terbuka lebar.
Kemudian, pada saat yang bersamaan, Solikin memandang bahwa BI juga harus memastikan bahwa likuiditas tersedia dan benar-benar berputar di perekonomian.
“Karena itu, saya melihat perlunya kombinasi berbagai strategi, antara lain melalui ekspansi likuiditas melalui operasi moneter yang pro-market, memperdalam pasar uang, serta memperkuat realisasi insentif likuiditas yang diberikan oleh Bank Indonesia,” jelas dia.
Baca juga: Calon DGS BI: Stabilitas makroekonomi jadi kunci pertumbuhan ekonomi
Baca juga: Destry komitmen perkuat monitoring LDD guna cegah under-invoicing
Strategi berikutnya, Solikin mengusulkan kebijakan makroprudensial yang tetap semakin adaptif dalam mendorong intermediasi.
“Ada beberapa inovasi yang perlu terus kita perkuat untuk mendorong lebih lanjut pembiayaan inklusif, mengakselerasi pendalaman pasar uang, dan meningkatkan basis pembiayaan non-tradisional,” kata dia.
Solikin berharap dapat melangkah lebih jauh dengan menguatnya mandat penciptaan lapangan kerja, sehingga pihaknya akan mengkaji apakah instrumen makroprudensial dapat semakin targeted.
“Jadi orientasinya bukan sekadar credit growth, yang kita kejar adalah credit quality, economic additionality, dan job creation,” kata dia.
Melalui Blueprint Pendalaman Pasar Uang, Solikin menyampaikan bahwa pihaknya juga akan terus mendorong agar produk semakin beragam, pelaku semakin aktif, price discovery semakin kredibel, dan infrastrukturnya semakin modern dan terintegrasi.
Ia menambahkan bahwa transformasi baru bermakna apabila manfaatnya sampai kepada masyarakat. Karena itu, aspek “N dan G” ditempatkan sebagai mesin transformasi.
“Dalam hal ini, pengembangan ekonomi dan keuangan inklusif, termasuk ekonomi syariah di dalamnya, akan diarahkan agar semakin terhubung dengan program-program prioritas pemerintah yang memberikan dampak langsung kepada sektor riil,” kata dia.
Menurut Solikin, seluruh strategi tidak berjalan baik tanpa ada kelembagaan yang kuat. Oleh sebab itu, aspek “K dan A” mencakup penguatan tata kelola, penguatan sektor keuangan, dan sumber daya.
Sebagai informasi, Solikin M. Juhro saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI sejak 16 Juni 2023.
Sebelumnya, Solikin menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi & Moneter (2022-2023), Kepala Departemen Institut BI (2018-2022), serta Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Departemen Institut BI (2016-2018).
Pada Rabu (26/8), Komisi XI DPR RI juga telah menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon Gubernur BI, yakni Destry Damayanti, serta calon Deputi Gubernur Senior BI, yakni Aida S. Budiman. Baik Destry maupun Aida merupakan calon tunggal untuk posisinya masing-masing berdasarkan Surat Presiden (Surpres) kepada DPR RI.
Baca juga: Calon DGS BI: Kebijakan moneter-fiskal bisa beda, tapi tujuan sama
Baca juga: Ekonom: Uji kelayakan calon gubernur perlu fokus pada transformasi BI
Baca juga: Ekonom sebut pengambilan kebijakan jadi ujian independensi BI
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·