BREAKING NEWS: Kapal Global Sumud Flotilla Dicegat 'Israel', Aktivis Ditodong Senjata

2 jam yang lalu 1

Laporan jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Istanbul

REPUBLIKA.CO.ID, ATHENA – Pelayaran kemanusian Global Sumud Flotilla (GSF) menembus blokade Gaza mulai diganggu oleh Zionis Israel. Pada Rabu (29/4/2026) malam, 11 dari 56 kapal GSF yang berlayar di perairan internasional Laut Mediterania di dekat Yunani mengalami hilang kontak setelah sempat didekati armada militer Zionis Israel. 

“Baru saja, kurang dari setengah jam yang lalu, saya sebagai salah satu dari Steering Committee Global Sumud Flotilla mendapatkan informasi yang sudah clear untuk disampaikan kepada masyarakat luas bahwasannya flotilla kami, terdiri saat ini dengan 56 kapal, itu didatangi oleh satu kapal yang menjelaskan kalau dia adalah dari Israel,” ujar anggota Steering Committee Global Sumud Flotilla Maimon Herawati, saat ditemui Republika di Istanbul Kamis dini hari.

Ia mengatakan, para aktivis yang berada di Kapal Artic Sunrise milik Greenpeace melaporkan didatangi satu kapal yang mengeklaim berasal dari pasukan penjajahan Israel. Mereka kemudian mengacungkan senjata semiotomatis ke para peserta armada menuju Gaza dan memaksa mereka berlutut.

“Jadi kita belum memastikan Israel apa bukan, tapi self-identified atau dia mengatakan dia dari Israel yang kemudian menyuruh teman-teman untuk berbalik arah,” ujar Maimon.

Dalam rekaman kontak radio yang dikirimkan pihak GSF, terdengar pencegat mengaku berasal dari Angkatan Laut Israel. Ia juga mengancam akan mengambil tindakan bila armada melanjutkan pelayaran ke Gaza. 

“Setiap upaya lebih lanjut untuk berlayar menuju Gaza akan membahayakan keselamatan Anda dan membuat IDF tidak punya pilihan selain mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menegakkan blokade keamanan maritim yang sah,” bunyi rekaman itu.

Pelayaran kemanusian Global Sumud Flotilla (GSF) menembus blokade Gaza mulai diganggu oleh tentara Zionis Israel. Pada Rabu (29/4/2026) malam.

Ia kemudian mendesak kapal berbalik arah dan kembali ke pelabuhan asal. “Jika Anda membawa bantuan kemanusiaan, Anda dipersilakan untuk melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Ashdod, di mana bantuan tersebut akan menjalani pemeriksaan keamanan dan selanjutnya akan ditransfer ke Jalur Gaza.”

“Berbahaya jika tetap berada pada jalur Anda saat ini. Jika Anda terus berupaya melanggar blokade maritim, kami akan menghentikan kapal Anda dan meminta penyitaannya melalui proses hukum di pengadilan. Anda memikul tanggung jawab penuh atas tindakan Anda.”

Selepas kejadian itu, 11 kapal kemudian hilang kontak dan tak bisa dihubungi. Maimon yang merupakan perwakilan Global Peace Convoi Indonesia (GPCI) menduga ini karena sinyal radio diacak pihak pencegat kapal-kapal tersebut. “Jadi memblokade frekuensi sehingga ada 11 kapal yang tidak bisa kami deteksi kondisinya saat ini. Tetapi so far sejauh ini berharapnya ya, karena ini belum ada kepastian.”

Sementara Tujuh kapal GSF yang diyakini dalam pencegatan tentara penjajah dan kemungkinan dibajak di antaranya, Kapal Arkham, Kapal Romantica, Kap Goleta, Kapal Saf Saf atau Mothership, Kapal Bianca, Kapal Bella Blu  dan Kapal Eros I.

“Semoga ini belum merupakan interception atau pembajakan. Kondisi teman-teman di lokasi yang lain tenang, kalem, tidak panik. Dan sesuai dengan pelatihan sebelum-sebelumnya, ini adalah gerakan non-violence, gerakan tanpa kekerasan,” ujar Maimon. Ia juga memerinci bahwa sekitar 110 peserta ada di dalam 11 kapal tersebut. 

Menurut Maimon, pengintaian terhadap armada sedianya sudah mulai terindikasi saat kapal-kapal masih bersandar di Barcelona, Spanyol. "Waktu saya jaga malam, sudah ada drone-drone yang terlihat," kata dia. Ia mengatakan sebanyak tujuh drone teridentifikasi telah mengintai armada sejak di Spanyol.

Baca Artikel Selengkapnya