Bijak Menyikapi Konten Pernikahan yang Berangkat dari Pengalaman Pribadi

2 minggu yang lalu 13

Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh beragam konten seputar pernikahan, rumah tangga, perceraian, dan relasi suami-istri. Sebagian konten tersebut lahir dari pengalaman pribadi para pembuatnya, termasuk pengalaman pahit dalam rumah tangga. 

Di satu sisi, pengalaman semacam ini dapat menjadi pelajaran berharga. Namun, di sisi lain, jika disampaikan tanpa kehati-hatian, ia juga berpotensi menimbulkan kegelisahan, kecurigaan, atau bahkan memengaruhi cara pandang orang lain terhadap kehidupan rumah tangganya sendiri.

Tidak jarang, narasi yang awalnya dimaksudkan sebagai bentuk peringatan justru dipahami secara berlebihan oleh sebagian pengikut. Ada yang kemudian menjadi takut menikah, mudah curiga terhadap pasangan, atau tergesa-gesa mengambil keputusan penting dalam rumah tangga hanya karena terpengaruh pengalaman orang lain. 

Karena itu, penting bagi setiap pengguna media sosial untuk lebih berhati-hati. Tidak semua pengalaman pribadi layak dijadikan pedoman umum, dan tidak semua nasihat yang tampak membela diri otomatis baik untuk diterapkan dalam semua keadaan.

Dalam kesempatan ini, penulis hendak mengulas pentingnya memahami batasan dalam menyampaikan pengalaman di media sosial, memilih siapa yang layak diikuti, serta menyaring informasi sebelum dikonsumsi.

Kehati-hatian dalam Membagikan Pengalaman Buruk

Mengutip penjelasan Imam asy-Syathibi (wafat 790 H), tidak semua hal layak untuk disebarkan secara terbuka. Meskipun sesuatu itu benar dan termasuk dalam ranah ilmu, penyampaiannya tetap harus mempertimbangkan keadaan, waktu, dan siapa yang menerimanya.

Sebab, ada banyak hal yang jika disampaikan tanpa pertimbangan justru dapat memicu kerusakan, menimbulkan salah paham, bahkan melahirkan fitnah di tengah masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, asy-Syathibi mengatakan:

لَيْسَ كُلُّ مَا يُعْلَمُ مِمَّا هُوَ حَقٌّ يُطْلَبُ نَشْرُهُ... فَإِنَّهُ وَإِنْ كَانَ حَقًّا فَقَدْ يُثِيرُ فِتْنَةً، كَمَا تَبَيَّنَ تَقْرِيرُهُ فَيَكُونُ مِنْ تِلْكَ الْجِهَةِ مَمْنُوعًا بَثُّهُ

Artinya, “Tidak semua hal yang diketahui dari sesuatu yang benar itu diperintahkan untuk disebarluaskan... Karena sesungguhnya meski sesuatu itu benar, bisa jadi menimbulkan fitnah, sebagaimana telah jelas penjelasannya, maka dari sisi tersebut penyebarannya menjadi terlarang.” (Al-Muwafaqat lisy Syathibi, [Kairo: Dar Ibn Affan, 1997 M], jilid V, halaman 167).

Dalam konteks ini, pengalaman pahit dalam pernikahan bisa saja nyata dan benar-benar dialami. Namun, ketika pengalaman tersebut disampaikan secara terbuka kepada publik yang sangat beragam latar belakangnya, tanpa penjelasan yang utuh dan tanpa mempertimbangkan dampaknya, maka ia dapat berubah menjadi sumber kegelisahan bagi sebagian orang.

Akibatnya, orang yang semula tenang bisa ikut cemas, yang semula percaya kepada pasangan bisa mulai curiga, dan yang sedang menghadapi masalah rumah tangga bisa terdorong untuk mengambil keputusan secara tergesa-gesa.

Oleh sebab itu, Imam asy-Syathibi mengingatkan bahwa sesuatu yang benar sekalipun perlu disampaikan dengan cara yang tepat agar tidak menimbulkan mudarat yang lebih besar.

Jika pengalaman yang benar saja perlu disampaikan dengan penuh pertimbangan, maka konten yang mendorong sikap tidak jujur, manipulatif, atau memperkeruh hubungan suami istri tentu lebih perlu dihindari. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ، كَانَ عَلَيهِ مِنَ الإثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ

Artinya, “Siapa saja menyeru kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim).

Hadits ini mengingatkan bahwa pengaruh tidak berhenti pada diri orang yang berbicara. Ucapan, tulisan, dan konten yang tersebar luas dapat memengaruhi banyak orang. Karena itu, siapa pun yang memiliki pengaruh di ruang publik hendaknya berhati-hati agar kontennya tidak menjadi sebab lahirnya prasangka buruk, kebencian, atau rusaknya hubungan antaranggota keluarga.

Pentingnya Memilih Siapa yang Diikuti

Setelah memahami pentingnya berhati-hati dalam menyampaikan pengalaman buruk, hal berikutnya yang tidak kalah penting adalah menyadari bahwa tidak semua orang layak dijadikan panutan. Terlebih di era media sosial, siapa pun bisa tampil sebagai rujukan, meskipun belum tentu memiliki kapasitas ilmu, kedewasaan sikap, atau kebijaksanaan dalam memberi arahan.

Sering kali, seseorang mudah terpengaruh bukan karena isi kontennya benar-benar kuat, tetapi karena gaya penyampaiannya meyakinkan, emosional, atau terasa mewakili perasaan pribadinya. Padahal dalam Islam, memilih siapa yang diikuti merupakan perkara serius, karena dapat memengaruhi agama, akhlak, cara berpikir, dan bahkan kehidupan rumah tangga.

Berkaitan dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

ثُمَّ جَعَلْناكَ عَلى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْها وَلا تَتَّبِعْ أَهْواءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

Artinya, “Kemudian, Kami jadikan engkau (Nabi Muhammad) mengikuti syariat dari urusan (agama) itu. Maka, ikutilah ia (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18).

Mengutip penjelasan Syekh Nawawi Banten, ayat ini menegaskan bahwa Allah telah menetapkan jalan agama yang jelas, kokoh dengan dalil, dan terjaga kebenarannya. Karena itu, yang diperintahkan adalah mengikuti syariat tersebut, bukan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak memiliki dasar ilmu.

Simak penjelasannya berikut ini:

أَيْ ثُمَّ اخْتَرْنَاكَ عَلَى طَرِيقَةٍ وَاضِحَةٍ مِنْ أَمْرِ الدِّينِ، فَاتَّبِعْ شَرِيعَتَكَ الثَّابِتَةَ بِالدَّلَائِلِ، وَلَا تَتَّبِعْ مَا لَا حُجَّةَ عَلَيْهِ مِنْ أَهْوَاءِ الْجُهَّالِ، وَأَدْيَانِهِمُ الْمَبْنِيَّةِ عَلَى الْأَهْوَاءِ

Artinya, “Kami telah menempatkanmu di atas jalan yang jelas dalam urusan agama. Maka ikutilah syariatmu yang kokoh pendiriannya berlandaskan dalil-dalil, dan janganlah engkau mengikuti apa yang tidak memiliki dasar, berupa keinginan-keinginan orang-orang yang bodoh, maupun pandangan agama mereka yang dibangun semata di atas hawa nafsu.” (Marah Labid li Kaysfi Ma’nal Qur’anil Majid, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 1417 H], jilid II, halaman 400).

Selain ayat dan tafsir di atas, Rasulullah SAW juga memberikan gambaran tentang pentingnya memilih lingkungan dan sosok yang memengaruhi diri kita. Dalam riwayat yang berasal dari Abu Musa, Nabi bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Artinya, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi itu bisa jadi memberimu minyak wangi, atau engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa siapa pun yang dekat dengan kita, baik secara langsung maupun melalui media sosial, dapat meninggalkan pengaruh. Jika yang diikuti adalah orang-orang yang bijak, santun, dan mendorong kebaikan, maka pengaruh yang diterima pun cenderung menenangkan dan membangun.

Sebaliknya, jika yang sering dikonsumsi adalah konten yang menanamkan kecurigaan, kemarahan, dan prasangka buruk secara terus-menerus, maka hal itu dapat memengaruhi cara seseorang memandang pasangan dan rumah tangganya. Oleh karena itu, memilih sosok yang diikuti bukan sekadar soal selera atau tren, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga akal, hati, dan keharmonisan keluarga.

Menyaring Informasi Sebelum Dikonsumsi

Setelah memahami pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan pengalaman dan memilih siapa yang diikuti, langkah berikutnya adalah menyaring setiap konten sebelum dipercayai. Di era banjir informasi seperti sekarang, tidak semua yang viral benar, dan tidak semua nasihat yang terasa membela diri cocok diterapkan dalam semua keadaan.

Sebagian konten tentang rumah tangga memang dapat memberi pelajaran. Namun, sebagian lainnya perlu disikapi dengan hati-hati, terutama jika isinya cenderung menyamaratakan masalah, menumbuhkan kebencian kepada pasangan, atau mendorong seseorang untuk mengambil keputusan besar tanpa pertimbangan matang. Dalam kondisi seperti ini, penting bagi kita untuk mengingat kembali firman Allah dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Mengutip penjelasan Imam Fakhruddin ar-Razi, ayat ini merupakan perintah tegas dari Allah agar kita tidak begitu saja menerima perkataan atau informasi dari orang yang tidak terjamin kebenarannya, karena ada kemungkinan apa yang disampaikan tidak utuh, keliru, atau bahkan tidak benar.

Jika informasi seperti itu diterima begitu saja dan dijadikan pegangan, maka ia dapat melahirkan tindakan yang keliru dan berujung pada penyesalan. (Tafsir Mafatihul Ghaib, [Beirut: Darul Ihya at-Turats, 1420 H], jilid VIII, halaman 178).

Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa membagikan pengalaman buruk rumah tangga perlu dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Pengalaman pribadi memang dapat menjadi pelajaran, tetapi tidak semestinya disampaikan dengan cara yang menimbulkan prasangka, memperluas kebencian, atau mendorong orang lain mengambil langkah yang merugikan rumah tangganya.

Oleh sebab itu, kita dituntut untuk selektif dalam memilih siapa yang dijadikan panutan dan rujukan, serta cermat dalam menyaring setiap informasi atau konten sebelum diyakini dan diamalkan.

Dengan begitu, kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain tanpa kehilangan kejernihan berpikir, menjaga hati dari prasangka buruk, dan merawat rumah tangga dengan sikap yang lebih bijak. Wallahu a’lam bisshawab.

Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

Baca Artikel Selengkapnya