REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Inggris kembali berada di ambang pergantian pemimpin setelah Perdana Menteri Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh. Jika proses berjalan sesuai rencana, Andy Burnham akan menjadi perdana menteri ketujuh Inggris dalam kurun waktu kurang dari satu dekade.
Pengunduran diri Starmer terjadi setelah berbulan-bulan tekanan politik yang terus meningkat di dalam Partai Buruh. Popularitasnya merosot tajam menyusul hasil buruk partai dalam pemilihan lokal dan regional serta berbagai kontroversi yang membayangi pemerintahannya.
Burnham, mantan wali kota Manchester yang dikenal luas di kalangan pemilih Partai Buruh, muncul sebagai figur yang berhasil mengonsolidasikan dukungan di tengah melemahnya posisi Starmer.
Momentum itu menguat setelah Burnham memenangkan pemilihan sela di Makerfield pekan lalu dengan selisih sekitar 20 persen. Kemenangan besar tersebut dipandang banyak pihak sebagai sinyal kuat bahwa arah politik Partai Buruh sedang berubah.
Pada Senin, Starmer menyampaikan pidato pengunduran dirinya di depan kantor perdana menteri di 10 Downing Street.
Dalam pidatonya, Starmer menyinggung sejumlah capaian yang menurutnya berhasil diraih selama memimpin pemerintahan.
"Kami telah mereformasi Partai Buruh, memperkuat ekonomi, mengurangi penyeberangan perahu ilegal, mendukung Ukraina, mengurangi daftar tunggu NHS, dan memulihkan reputasi Inggris di kancah internasional," kata Starmer.
Meski demikian, tekanan dari dalam partai terus membesar. Menurut laporan yang dikutip Graham Hryce dalam tulisannya di Russia Today pada Selasa (23/6/2026), sejumlah tokoh senior Partai Buruh mulai mempertanyakan apakah Starmer masih menjadi sosok yang tepat untuk memimpin partai menghadapi pemilu berikutnya.
Starmer mengatakan dirinya menerima keputusan partai tersebut. "Saya menerimanya dengan lapang dada," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa setelah meninggalkan kepemimpinan partai, dirinya berharap dapat menjadi "suami terbaik" dan "ayah terbaik" bagi keluarganya.
Sesuai jadwal, Starmer akan tetap menjabat sebagai perdana menteri hingga Partai Buruh memilih pemimpin baru pada 9 Juli mendatang.
Tak lama setelah pengumuman pengunduran diri tersebut, Menteri Kesehatan Wes Streeting menyatakan tidak akan maju dalam kontestasi kepemimpinan dan justru mendukung Burnham. Dukungan itu semakin memperkuat peluang Burnham untuk mengambil alih kepemimpinan tanpa persaingan berarti.
Namun, jalan Burnham menuju Downing Street tidak sepenuhnya mulus. Analis menilai pemimpin baru Partai Buruh akan menghadapi perpecahan internal yang cukup dalam terkait berbagai isu strategis, mulai dari target nol emisi karbon, kebijakan imigrasi, hak-hak transgender, anggaran pertahanan hingga belanja kesejahteraan.

2 jam yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·