Apa Penyebab AS-Iran Saling Serang Lagi usai Teken MoU Setop Perang?

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan usai kembali saling gempur di sekitar Selat Hormuz pada Jumat (27/6).

Kedua negara telah menggelar negosiasi dan menandatangni nota kesepahaman (MoU) yang salah satunya berisi penghentian perang di semua front serta berkomitmen tak memulai perang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, perang di antara mereka kembali menyala.

Dalam rilis resmi militer AS yang bertugas di kawasan Timur Tengah, US Central Command (CENTCOM), mengeklaim serangan mereka terjadi setelah Iran menggempur kapal tanker kapal M/V Ever Lovely pada 25 Juni.

"Pasukan Komando Pusat AS (CENTCOM) melancarkan serangan terhadap Iran pada tanggal 26 Juni sebagai tanggapan tegas atas serangan kemarin terhadap sebuah kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz," demikian rilis CENTCOM di X, Jumat.

[Gambas:Twitter]

Lebih lanjut, mereka mengatakan pesawat AS menyerang lokasi penyimpanan rudal dan pesawat nirawak (drone) serta situs radar pesisir Iran.

Kapal kargo berbendera Singapura tersebut sedang bergerak keluar dari Selat Hormuz menyusuri pesisir Oman ketika serangan Iran terjadi.

"Tindakan agresi yang tidak beralasan terhadap pelayaran komersial oleh pasukan Iran tersebut jelas melanggar gencatan senjata," lanjut CENTCOM.

AS juga menganggap Iran merusak kebebasan navigasi di tengah meningkatnya arus perdagangan yang melintasi koridor tersebut.

Sebelum itu, tepatnya pada Kamis, Otoritas Urusan Selat Teluk Persia (PGSA) Iran memperingatkan kapal-kapal agar tidak berlayar di luar jalur transit yang sudah ditentukan.

Pergerakan tersebut, lanjut mereka, tidak akan tercakup dalam jaminan jalur aman, perlindungan asuransi, atau kewajiban terkait lain.

PGSA lalu menekankan kepatuhan terhadap rute yang diumumkan otoritas Iran tetap menjadi persyaratan untuk transit yang terlindungi melalui Selat Hormuz.

"Segala konsekuensi yang timbul akibat navigasi melalui jalur yang tidak sah akan menjadi tanggung jawab pemilik, operator, dan komandan kapal," demikian rilis PGSA pada Kamis, dikutip Tasnim News.

Di waktu yang terpisah, Iran juga mendeteksi pesawat Israel mendekati wilayah udara mereka melalui negara tetangga.

Militer Iran menganggap pergerakan dan kehadiran pesawat militer tentara Israel di wilayah udara beberapa negara tetangga menuju Iran sebagai tindakan berbahaya dan ancaman terhadap mereka.

"Kami menyatakan bahwa jika AS tidak mampu menahan dan mengendalikan rezim Zionis, Republik Islam Iran tidak akan mentolerir ancaman apa pun terhadap merek dan akan menanggapi tindakan berbahaya ini sebagai hak," demikian peringatan militer Iran.

AS dan Israel sempat menggempur habis-habisan Iran pada akhir Februari. Teheran lalu membalas. Hari-hari setelah itu pertempuran terus berlanjut.

Namun, pekan lalu AS-Iran sepakat menandatangani MoU yang berisi penghentian pertempuran dari seluruh front termasuk Lebanon dan Israel serta berkomitmen tak memulai serangan.

Mereka juga menggelar negosiasi di Swiss sebagai tindak lanjut MoU dan menghasilkan beberapa kesepakatan termasuk pembentukan komite kerja yang memantau implementasi MoU.

(isa/rds)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya